Dikejar Massa, Bab15 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*


Radit harus bersembunyi sampai malam lagi. Kemunculan polisi yang mencarinya sangat membuatnya takut. Takut tertangkap.

Dia pun tidak mengikuti perkembangan berita yang mungkin saja memberitakan dirinya. Itu karena dia harus mematikan daya ponselnya. Pasalnya, setelah polisi mendatangi kediamannya dan rumah mertuanya, sejumlah nomor meneleponnya terus-menerus.

Nomor Andini, mertua lelakinya dan Pak RT menelepon terus karena Radit tidak mau mengangkatnya. Akhirnya dia menonaktifkan hp-nya. Radit bisa sedikit lebih tenang dalam bersembunyi, meski pikirannya kalut luar biasa.

Di dalam persembunyiannya di sebuah bangunan rusak yang tidak terpakai, Radit harus menahan lapar dan haus. Jangankan makanan, air pun dia tidak punya. Dia pun tidak bisa menjadi orang gila lagi, kostumnya itu sudah dia sembunyikan di tempat lain.

Ketika malam, Radit dilanda rasa takut bersembunyi di tempat itu karena tidak ada lampu aktif.

Tak!

Ketika ada suara kayu terbentur, Radit dibuat terkejut dan berdebar. Meski dia berani merampok dan keluyuran di tengah malam, dia termasuk orang yang percaya kepada hal gaib, termasuk yang namanya setan atau sejenis makhluk astral lainnya.

Jelas dia tidak tertarik untuk mencari tahu suara kayu itu, terlebih gelap gulita.

Sekitar pukul sepuluh malam, barulah Radit memutuskan pergi meninggalkan gedung kosong tersebut. Selain takut, dia juga sangat lapar dan haus. Dia masih punya duit dan emas yang belum dijual.

Memakai topi pet dan masker adalah caranya untuk menutupi wajah agar tidak dikenali orang.

Sebuah warteg yang masih buka, itu yang didatangi oleh Radit. Di warteg itu ada dua pelanggan yang keduanya sudah selesai makan, tapi masih duduk. Salah satunya sedang merokok. Pelayan warteg adalah dua lelaki, tidak ada yang cantik.

“Mas, bungkus nasi sama air minum, ya,” pesan Radit kepada salah satu pelayan yang berusia separuh baya.

“Iya, Mas,” ucap si pelayan warteg. Dia segera mengambil kertas nasi dan mengambil nasi. “Lauknya apa, Mas?”

Radit tidak langsung menjawab karena pandangannya melirik ke layar televisi yang terpasang di dinding warteg.

Saat itu jantungnya berdebar kencang dan muncul keringat dingin di dahinya.

“Perampoknya orang RW 004 lho, Min,” kata pelayan satunya sambil berdiri memandangi televisi yang sedang menyiarkan acara berita malam.

Perkataan rekannya membuat pelayan yang sedang melayani Radit jadi menengok kepada tv.

“Tapi aku enggak pernah lihat orangnya,” kata pelayan yang sudah memegang sebungkus nasi yang terbuka.

Di televisi, terpampang wajah Radit dalam dua versi, yaitu wajah dalam penampilan sebagai orang gila dan wajah terkininya yang berkepala botak.

“Orang itu kadang enggak mikir, sepintar-pintarnya maling, pasti tertangkap juga sama polisi,” kata pelayan yang bernama Karimin. Dia lalu kembali beralih kepada Radit dan bertanya lagi, “Lauknya apa, Mas.”

“Eh, itu … telur dadar sama sayur lodeh saja, Mas,” jawab Radit yang sempat seperti terkejut saat ditanya. Bahkan suaranya agak bergetar.

Karimin lalu melengkapi nasi di tangannya dengan lauk sesuai permintaan Radit. Karimin sedikit pun tidak merasa curiga. Setelah nasi dia bungkus dan air minum dia juga bungkus, Karimin menyerahkannya kepada Radit.

Radit buru-buru membayar dan membawa makanannya. Dari gerakannya menunjukkan bahwa Radit sedang dikejar-kejar waktu atau oleh sesuatu.

Ketika Radit keluar, dari arah jalan ada seorang lelaki yang berjalan jelas ke arah warteg tersebut.

“Woi, Mas!” teriak Karimin cukup keras, pandangannya ke arah lelaki yang sedang berjalan ke arah warteg.

Namun, teriakan itu membuat Radit terkejut dan dia yang sedang panik, semakin menjadi super panik. Dengan terkejut dia refleks menengok ke arah dalam warteg yang justru membuat ketiga pelayan warteg heran melihat gelagat pelanggan itu.

Tiba-tiba Radit berlari sekencang-kencangnya seperti telah melihat setan tidak tampan. Tindakan Radit itu mengejutkan tiga lelaki pelayan dan lelaki yang tadi disapa oleh Karimin. Mereka berempat jadi heran dan bergerak saling mendekat.

“Orang itu kenapa, Min?” tanya lelaki yang baru datang. Ternyata dia kenal dengan para pelayan warteg.

“Tidak tahu, Mas. Saya nyapa Mas, tiba-tiba kaget ketakutan gitu,” jawab Karimin.

“Itu perampok!” seru pelayan lainnya yang sempat fokus memerhatikan berita tentang Radit. Dia baru tersadar karena ada sedikit kemiripan antara perampok yang ada di berita dengan orang yang baru membeli nasi sebungkus.

“Kamu yakin, Boy?” tanya Karimin.

“Iya, makanya dia langsung lari. Dia lihat berita dia di tv,” jawab pelayan yang bernama Baitara, tapi akrab dipanggil dengan nama Boy.

“Kejar, ayo kejar!” kata Karimin mengajak lalu lari duluan.

Boy cepat ikut lari meninggalkan warteg. Lelaki yang tadi dipanggil Mas, juga ikut berlari mengejar, meninggalkan seorang pelayan saja sebagai penjaga gawang.

Melihat ada sejumlah orang lari-larian, warga sekitar yang masih beraktivitas pada malam itu jadi kaget dan pastinya penasaran.

“Ada apa, Min?!” teriak seorang warga kepada Karimin.

“Itu orang yang rampok toko emas di berita!” jawab Karimin sambil lewat, tanpa memelankan larinya.

Orang yang bertanya terkejut. Dia pun langsung ikut bergabung mengejar.

“Maliiing! Maliiing!” Justru dia yang berteriak kencang sambil menunjuk kepada Radit yang cukup jauh di depan.

Teriakan itupun menarik perhatian masyarakat yang terkejut. Sebutan “maling” yang sangat sensitif seketika seperti bensin menyiram api.

Warga segera ramai berlarian mengejar Radit.

“Ya Allaaah!” pekik Radit super panik dan takut, sambil berlari sekencang mungkin di area yang sepi.

Jarak yang cukup jauh dengan warga yang mengejar membuat Radit masih memiliki harapan. Namun, di kepalanya telah terbayang kondisi terburuk yang akan dia alami. Yang paling buruk adalah mati kesakitan setelah dihakimi oleh massa secara bertubi-tubi. Dia bahkan menghayalkan ada warga yang memukul kepalanya dengan batu besar.

Breeeemr!

Ada suara sepeda motor datang mendekat dari sisi belakang. Radit menengok panik. Dilihatnya ada warga yang mengejar dengan sepeda motor. Pastilah Radit terkejar.

Namun, untung saat itu Radit berlari di dekat pagar pembatas trotoar. Pas di sisinya ada celah pagar. Radit berbelok melewati celah pagar itu tepat ketika pengejar bersepeda motor sampai. Sepeda motor tidak bisa naik ke trotoar, apalagi melewati pagar pembatas.

“Akk!” jerit Radit tiba-tiba di area yang gelap di belakang pagar pembatas.

Setelah pagar pembatas memang ada area tanah yang sempit, setelahnya adalah jurang dangkal bertanah miring 45 derajat. Setelahnya tanah dan sungai yang gelap.

Jeritan Radit karena ternyata kakinya terperosok dalam gelap, memaksanya jatuh bergulingan ke bawah.

Pengendara motor segera berhenti dan turun dari motornya. Belasan massa yang mengejar segera tiba di lokasi jatuhnya Radit. Mereka segera menyenteri area bawah dengan sorotan lampu ponsel yang masih bisa menjangkau sampai ke bawah.

“Itu dia! Cepat turun!”

“Cepat tangkap!”

“Lempar! Lempar!”

Itulah sejumlah teriakan warga.

Di saat sebagian warga ramai-ramai bergerak menuruni kemiringan menuju ke pinggir sungai, sejumlah warga lebih dulu melempari Radit yang ternyata masih bisa bangun dari jatuhnya.

Dak!

“Aaak!” jerit Radit sambil membungkuk memegangi kepalanya yang terkena satu lemparan batu yang jitu. Dia pun berteriak, “Woiii! Jangan lempaaar! Jangan lempaaar!”

Kepala Radit bocor.

Sementara itu, warga yang turun semakin mendekati posisi Radit. Pemuda itu akhirnya memilih berlari di pinggiran sungai yang tanahnya masih terlihat remang-remang.

Dug!

“Akk!” pekik Radit lagi sambil melengkungkan punggungnya, setelah satu batu besar menghantam telak punggungnya. Sangat sakit.

Jbur!

Menduga tidak akan selamat dari sergapan massa, akhirnya Radit memutuskan melompat ke sungai.

“Lempar, lempar, lempar!” teriak warga cepat.

“Jangan biarkan selamat!” teriak yang lain lagi.

Maka, warga beramai-ramai memungut dan melempari air sungai secara random karena sosok Radit tidak terlihat lagi setelah nekat melompat ke air yang mengalir. (RH)

----------------------------------------

Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

  1. Wah seru nih, Om. Bikin penasaran banget ini perjalanan karir Radit. Aku tebak, si Radit pasti hanyut sampai Dubai kan, Om?🤔 makanya bisa jadi boss pakaian muslim. Udah ganti istri pulak, tapi masih nyimpan nomor mantan dengan panggilan "Sayang". Sialan dia!🤧

    BalasHapus
  2. Kapok lo Dit... Sok2an nyuri segala.. Dah tau amatiran.. Mendingan latihan dulu nyolong sendal di mesjid.. Eh malah ngajarin sesad 🤣🤣🤣

    BalasHapus