*Miliarder Ular Biru*
Radit harus
bersembunyi sampai malam lagi. Kemunculan polisi yang mencarinya sangat
membuatnya takut. Takut tertangkap.
Dia pun tidak
mengikuti perkembangan berita yang mungkin saja memberitakan dirinya. Itu
karena dia harus mematikan daya ponselnya. Pasalnya, setelah polisi mendatangi
kediamannya dan rumah mertuanya, sejumlah nomor meneleponnya terus-menerus.
Nomor Andini, mertua
lelakinya dan Pak RT menelepon terus karena Radit tidak mau mengangkatnya.
Akhirnya dia menonaktifkan hp-nya. Radit bisa sedikit lebih tenang dalam
bersembunyi, meski pikirannya kalut luar biasa.
Di dalam
persembunyiannya di sebuah bangunan rusak yang tidak terpakai, Radit harus
menahan lapar dan haus. Jangankan makanan, air pun dia tidak punya. Dia pun
tidak bisa menjadi orang gila lagi, kostumnya itu sudah dia sembunyikan di
tempat lain.
Ketika malam, Radit
dilanda rasa takut bersembunyi di tempat itu karena tidak ada lampu aktif.
Tak!
Ketika ada suara kayu
terbentur, Radit dibuat terkejut dan berdebar. Meski dia berani merampok dan
keluyuran di tengah malam, dia termasuk orang yang percaya kepada hal gaib,
termasuk yang namanya setan atau sejenis makhluk astral lainnya.
Jelas dia tidak
tertarik untuk mencari tahu suara kayu itu, terlebih gelap gulita.
Sekitar pukul sepuluh
malam, barulah Radit memutuskan pergi meninggalkan gedung kosong tersebut.
Selain takut, dia juga sangat lapar dan haus. Dia masih punya duit dan emas
yang belum dijual.
Memakai topi pet dan
masker adalah caranya untuk menutupi wajah agar tidak dikenali orang.
Sebuah warteg yang
masih buka, itu yang didatangi oleh Radit. Di warteg itu ada dua pelanggan yang
keduanya sudah selesai makan, tapi masih duduk. Salah satunya sedang merokok.
Pelayan warteg adalah dua lelaki, tidak ada yang cantik.
“Mas, bungkus nasi
sama air minum, ya,” pesan Radit kepada salah satu pelayan yang berusia separuh
baya.
“Iya, Mas,” ucap si
pelayan warteg. Dia segera mengambil kertas nasi dan mengambil nasi. “Lauknya
apa, Mas?”
Radit tidak langsung
menjawab karena pandangannya melirik ke layar televisi yang terpasang di
dinding warteg.
Saat itu jantungnya
berdebar kencang dan muncul keringat dingin di dahinya.
“Perampoknya orang RW
004 lho, Min,” kata pelayan satunya sambil berdiri memandangi televisi yang
sedang menyiarkan acara berita malam.
Perkataan rekannya
membuat pelayan yang sedang melayani Radit jadi menengok kepada tv.
“Tapi aku enggak
pernah lihat orangnya,” kata pelayan yang sudah memegang sebungkus nasi yang
terbuka.
Di televisi,
terpampang wajah Radit dalam dua versi, yaitu wajah dalam penampilan sebagai
orang gila dan wajah terkininya yang berkepala botak.
“Orang itu kadang
enggak mikir, sepintar-pintarnya maling, pasti tertangkap juga sama polisi,”
kata pelayan yang bernama Karimin. Dia lalu kembali beralih kepada Radit dan
bertanya lagi, “Lauknya apa, Mas.”
“Eh, itu … telur
dadar sama sayur lodeh saja, Mas,” jawab Radit yang sempat seperti terkejut
saat ditanya. Bahkan suaranya agak bergetar.
Karimin lalu
melengkapi nasi di tangannya dengan lauk sesuai permintaan Radit. Karimin
sedikit pun tidak merasa curiga. Setelah nasi dia bungkus dan air minum dia
juga bungkus, Karimin menyerahkannya kepada Radit.
Radit buru-buru
membayar dan membawa makanannya. Dari gerakannya menunjukkan bahwa Radit sedang
dikejar-kejar waktu atau oleh sesuatu.
Ketika Radit keluar,
dari arah jalan ada seorang lelaki yang berjalan jelas ke arah warteg tersebut.
“Woi, Mas!” teriak
Karimin cukup keras, pandangannya ke arah lelaki yang sedang berjalan ke arah
warteg.
Namun, teriakan itu
membuat Radit terkejut dan dia yang sedang panik, semakin menjadi super panik.
Dengan terkejut dia refleks menengok ke arah dalam warteg yang justru membuat
ketiga pelayan warteg heran melihat gelagat pelanggan itu.
Tiba-tiba Radit
berlari sekencang-kencangnya seperti telah melihat setan tidak tampan. Tindakan
Radit itu mengejutkan tiga lelaki pelayan dan lelaki yang tadi disapa oleh
Karimin. Mereka berempat jadi heran dan bergerak saling mendekat.
“Orang itu kenapa,
Min?” tanya lelaki yang baru datang. Ternyata dia kenal dengan para pelayan
warteg.
“Tidak tahu, Mas.
Saya nyapa Mas, tiba-tiba kaget ketakutan gitu,” jawab Karimin.
“Itu perampok!” seru
pelayan lainnya yang sempat fokus memerhatikan berita tentang Radit. Dia baru
tersadar karena ada sedikit kemiripan antara perampok yang ada di berita dengan
orang yang baru membeli nasi sebungkus.
“Kamu yakin, Boy?”
tanya Karimin.
“Iya, makanya dia
langsung lari. Dia lihat berita dia di tv,” jawab pelayan yang bernama Baitara,
tapi akrab dipanggil dengan nama Boy.
“Kejar, ayo kejar!”
kata Karimin mengajak lalu lari duluan.
Boy cepat ikut lari
meninggalkan warteg. Lelaki yang tadi dipanggil Mas, juga ikut berlari
mengejar, meninggalkan seorang pelayan saja sebagai penjaga gawang.
Melihat ada sejumlah
orang lari-larian, warga sekitar yang masih beraktivitas pada malam itu jadi
kaget dan pastinya penasaran.
“Ada apa, Min?!”
teriak seorang warga kepada Karimin.
“Itu orang yang
rampok toko emas di berita!” jawab Karimin sambil lewat, tanpa memelankan
larinya.
Orang yang bertanya
terkejut. Dia pun langsung ikut bergabung mengejar.
“Maliiing! Maliiing!”
Justru dia yang berteriak kencang sambil menunjuk kepada Radit yang cukup jauh
di depan.
Teriakan itupun
menarik perhatian masyarakat yang terkejut. Sebutan “maling” yang sangat
sensitif seketika seperti bensin menyiram api.
Warga segera ramai
berlarian mengejar Radit.
“Ya Allaaah!” pekik
Radit super panik dan takut, sambil berlari sekencang mungkin di area yang
sepi.
Jarak yang cukup jauh
dengan warga yang mengejar membuat Radit masih memiliki harapan. Namun, di
kepalanya telah terbayang kondisi terburuk yang akan dia alami. Yang paling
buruk adalah mati kesakitan setelah dihakimi oleh massa secara bertubi-tubi.
Dia bahkan menghayalkan ada warga yang memukul kepalanya dengan batu besar.
Breeeemr!
Ada suara sepeda
motor datang mendekat dari sisi belakang. Radit menengok panik. Dilihatnya ada
warga yang mengejar dengan sepeda motor. Pastilah Radit terkejar.
Namun, untung saat
itu Radit berlari di dekat pagar pembatas trotoar. Pas di sisinya ada celah
pagar. Radit berbelok melewati celah pagar itu tepat ketika pengejar bersepeda
motor sampai. Sepeda motor tidak bisa naik ke trotoar, apalagi melewati pagar
pembatas.
“Akk!” jerit Radit
tiba-tiba di area yang gelap di belakang pagar pembatas.
Setelah pagar
pembatas memang ada area tanah yang sempit, setelahnya adalah jurang dangkal
bertanah miring 45 derajat. Setelahnya tanah dan sungai yang gelap.
Jeritan Radit karena
ternyata kakinya terperosok dalam gelap, memaksanya jatuh bergulingan ke bawah.
Pengendara motor
segera berhenti dan turun dari motornya. Belasan massa yang mengejar segera
tiba di lokasi jatuhnya Radit. Mereka segera menyenteri area bawah dengan
sorotan lampu ponsel yang masih bisa menjangkau sampai ke bawah.
“Itu dia! Cepat
turun!”
“Cepat tangkap!”
“Lempar! Lempar!”
Itulah sejumlah
teriakan warga.
Di saat sebagian
warga ramai-ramai bergerak menuruni kemiringan menuju ke pinggir sungai,
sejumlah warga lebih dulu melempari Radit yang ternyata masih bisa bangun dari
jatuhnya.
Dak!
“Aaak!” jerit Radit
sambil membungkuk memegangi kepalanya yang terkena satu lemparan batu yang
jitu. Dia pun berteriak, “Woiii! Jangan lempaaar! Jangan lempaaar!”
Kepala Radit bocor.
Sementara itu, warga
yang turun semakin mendekati posisi Radit. Pemuda itu akhirnya memilih berlari
di pinggiran sungai yang tanahnya masih terlihat remang-remang.
Dug!
“Akk!” pekik Radit
lagi sambil melengkungkan punggungnya, setelah satu batu besar menghantam telak
punggungnya. Sangat sakit.
Jbur!
Menduga tidak akan
selamat dari sergapan massa, akhirnya Radit memutuskan melompat ke sungai.
“Lempar, lempar,
lempar!” teriak warga cepat.
“Jangan biarkan
selamat!” teriak yang lain lagi.
Maka, warga
beramai-ramai memungut dan melempari air sungai secara random karena sosok
Radit tidak terlihat lagi setelah nekat melompat ke air yang mengalir. (RH)
----------------------------------------
Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Wah seru nih, Om. Bikin penasaran banget ini perjalanan karir Radit. Aku tebak, si Radit pasti hanyut sampai Dubai kan, Om?🤔 makanya bisa jadi boss pakaian muslim. Udah ganti istri pulak, tapi masih nyimpan nomor mantan dengan panggilan "Sayang". Sialan dia!🤧
BalasHapusHahahaha! lelaki wajib gitu
HapusKapok lo Dit... Sok2an nyuri segala.. Dah tau amatiran.. Mendingan latihan dulu nyolong sendal di mesjid.. Eh malah ngajarin sesad 🤣🤣🤣
BalasHapus