PKK13: Pertama Merampok


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Rugi Sabuntel membaca tulisan di kulit bambu yang diberikan oleh penjahit cantik bernama Nyi Unyu itu.

“Jadi sekarang ditunggu, jadi besok silakan pulang.”

Itulah bunyi tulisan di kulit bambu yang diukir menggunakan jarum.

“Hahaha! Aku kira Nyi Unyu memberiku surat cinta,” kata Rugi Sabuntel berseloroh yang bermaksud menggoda.

Nyi Unyu yang sejak awal tidak pernah berkata-kata, jadi melirik tajam kepada Rugi Sabuntel, membuat jantung pemuda gendut itu terasa disentil sehingga menyetrum seluruh urat saraf.

Nyi Unyu lalu menggerakkan alisnya, bermaksud bertanya.

“Bajunya mau aku pakai malam ini, Nyi,” jawab Rugi Sabuntel.

Nyi Unyu lalu memberikan tanda jempol kepada Rugi Sabuntel.



Sreet! Breeet!

Selanjutnya, Nyi Unyu mulai beraksi. Dia menarik lembaran kain yang menjuntai yang tadi dipilih oleh Rugi Sabuntel.

Selain kain sebagai bahan dasar, dalam kerjanya Nyi Unyu menggunakan sejumlah benda seperti gunting, pisau kecil, jarum, benang, dan batu kapur yang digunakan untuk menggaris pola di atas meja.

Karena sudah diabaikan, Rugi Sabuntel lalu keluar dari lapak dan mencari Bendong. Ternyata rekannya itu sedang duduk-duduk di bawah pohon sambil memegang secangkir bambu minuman hangat.

Tidak jauh dari Bendong ada seorang tukang penjaja minuman yang dagangannya dalam bentuk pikulan. Saat itu belum populer berdagang pakai gerobak beroda.

“Aku pikir kau ke mana,” ujar Rugi Sabuntel kepada Bendong.

“Kakang, dua cangkir lagi untuk rekanku!” kata Bendong kepada pedagang minuman jahe panas aroma pandan.

“Baik, Den,” ucap pedagang minuman yang usianya sudah hampir kepala empat.

Rugi Sabuntel melemparkan lembaran kulit bambu pemberian Nyi Unyu kepada Bendong. Dengan enteng Bendong menangkap lembaran itu dan membacanya.

“Bendong, kenapa Nyi Unyu tidak pernah bicara kepadaku tadi? Apakah dia benci kepada pemuda ganteng sepertiku?” tanya Rugi Sabuntel.

“Nilai kependekaranmu akan bertambah tinggi jika kau bisa membuat Nyi Unyu tersenyum kepadamu, sekali saja,” kata Bendong.

“Oh ya? Aku jadi bergairah. Aku merasa tertantang,” kejut Rugi Sabuntel.

“Jangan sekarang jika ingin unjuk kejantanan!” larang Bendong. “Kesaktian dan kecantikannya dalam membuat baju, membuat banyak lelaki memesan baju kepadanya. Dia itu bisu, tidak pernah bicara, kecuali dengan isyarat dan tulisan.”

“Kau selalu memesan baju kepadanya?” tanya Rugi Sabuntel.

“Selalu.”

“Kau tidak bermaksud menaklukkan hatinya? Dia itu cantik dan ketampananmu bisa ditebar,” tanya Rugi Sabuntel.

“Aku tahu diri, Rugi,” jawab Bendong.

“Ini, Den,” ucap pedagang minuman sambil menyodorkan dua gelas wedang jahe aroma pandan kepada Rugi Sabuntel.

“Kenapa dua?” tanya Rugi Sabuntel sambil menerima kedua gelas yang diberikan.

“Kau baru saja diukur oleh Nyi Unyu, perasaanmu pasti sedang berbahagia. Jadi, untuk meredamnya butuh dua gelas wedang jahe,” jelas Bendong.

“Bukankah justru ini akan menambah panas gairahku?”

“Coba saja jika tidak percaya,” tandas Bendong.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.

Sambil mewedang, kedua sahabat itu berbincang berbagai hal sambil menunggu baju untuk Rugi Sabuntel selesai dibuatkan oleh Nyi Unyu. Sampai ketika pedagang wedang sudah pergi memikul dagangannya, keduanya masih setia menunggu Nyi Unyu.

Ternyata hanya butuh waktu sedurasi kucing kawin lengkap dengan ribut-ributnya, baju dan celana pesanan Rugi Sabuntel selesai dijahit.

Nyi Unyu melempar selembar kulit bambu kecil kepada kedua pendekar itu untuk memanggilnya.

Set! Teb!

“Busyet montok!” pekik Rugi Sabuntel terkejut karena tahu-tahu ada kulit bambu yang menancap di batang pohon yang mereka sandari.

Keduanya memandang ke arah lapak penjahit. Mereka melihat Nyi Unyu memanggil dengan gerakan jari. Keduanya bergegas bangkit dan pergi ke lapak. Terlihat Rugi Sabuntel yang lebih bersemangat.

Nyi Unyu memberikan satu set pakaian baru berwarna merah gelap. Seperti anak kecil yang mendapat hadiah baju baru lebaran, Rugi Sabuntel terkekeh-kekeh. Nyi Unyu membantu menempelkan baju itu di badan gendut Rugi Sabuntel untuk melihat kepasannya.

Lagi-lagi Rugi Sabuntel bisa mencium keharuman tubuh Nyi Unyu. Setelah memerhatikan sebentar, Nyi Unyu mengangguk tanda sudah oke.

“Buatkan satu pasang lagi, Nyi. Warna yang sama. Besok akan diambil Rugi Sabuntel. Berapa aku akan membayar untuk dua pasang?” kata Bendong.

Nyi Unyu memperlihatkan lima jarinya.

“Lima puluh kepeng,” terka Bendong.

Nyi Unyu mengangguk samar.

Singkat waktu, malam pun datang dan bergerak melewati tengahnya lalu menuju ke akhirnya.

Tepat pukul dua dini hari, dua pasang sosok berpakaian gelap bertopeng bergerak di dalam kegelapan tanpa membawa alat penerangan obor ataupun senter.

Sosok berbadan besar dan gendut mengenakan pakaian serba merah gelap. Sedangkan rekannya yang lebih kurus berpakaian serba hitam, sehingga lebih tidak terlihat.

Sekedar bocoran. Mereka berdua adalah Rugi Sabuntel dan Bendong yang sedang melakukan duet pertama kali untuk merampok.

Mereka kini berada di salah satu desa di Kademangan Buto Cangkem. Mereka telah merencanakan akan merampok rumah Juragan Gorong, sang lintah darat.

Akhirnya mereka tiba di luar tembok pagar kayu yang mengelilingi tiga buah rumah kayu besar-besar. Halaman depannya luas seperti lapangan rekreasi. Sejumlah obor di tempatkan di beberapa sudut. Ada pula pos siskamling yang menjadi titik kumpul beberapa centeng yang bertugas jaga. Ada empat centeng. Tiga orang tidur, sedangkan satu orang melek sambil bermain boneka kayu untuk mengisi rasa sepi. Saat itu belum ada smart phone untuk main gim.

Saat ini, Rugi Sabuntel dan Bendong berada di sisi samping luar pagar yang dekat dengan salah satu rumah.

“Rumah utama adalah yang di tengah. Di situlah harta Juragan Gorong disimpan,” kata Bendong setengah berbisik. “Kita masuk lewat atap. Pertama yang harus kita lakukan jika ingin merampok sebuah rumah adalah mempelajari rumah tersebut, di mana kira-kira kamar utama. Biasanya kepeng dan perhiasan disimpan di kamar majikan.”

“Ayo!” ajak Rugi Sabuntel.

Bendong lalu melompati pagar yang setinggi bahu. Rugi Sabuntel pun mengikuti melompati pagar. Meski tubuhnya gendut besar, melompat ke atap rumah pun mudah bagi Rugi Sabuntel. Namanya juga pendekar.

Di dalam lingkungan berpagar itu, Bendong bergerak ke area-area gelap yang jauh dari cahaya obor.

Dalam berlari, mereka menggunakan ilmu peringan tubuh, sehingga langkah mereka nyaris tidak bersuara.

Mereka langsung pergi mendekati rumah kayu yang di tengah. Mereka pergi ke bagian belakang.

Di belakang rumah. Sebelum Bendong memilih jalan untuk naik ke atap, dia memberi tanda berhenti kepada Rugi Sabuntel. Dia menunjuk sebuah jendela dapur yang terbuka. Jendela itu bisa dimasuki oleh tubuh seramping Bendong.

“Aku masuk ke dapur, lalu aku akan membuka pintu belakang dari dalam,” bisik Bendong.

“Baik,” ucap Rugi sembari mengangguk.

Bendong lalu bergerak mendekati dinding dapur dan memanjat. Jendela yang lupa ditutup itu posisinya agak tinggi. Dengan mudah Bendong bergerak masuk ke dalam rumah.

Rugi Sabuntel segera bergeser posisi mencari pintu belakang. Ternyata pintu belakang bisa terlihat langsung dari pos ronda yang ada di halaman depan. Di dekat pintu ada sebuah lampu minyak, sehingga cukup terang.

Namun, Rugi Sabuntel tidak perlu khawatir. Selain centeng yang melek hanya satu orang, itupun arah hadapnya tidak ke belakang.

Klek!

Terdengar suara halus di pintu belakang dari sisi dalam. Sebentar saja, pintu sudah dibuka dari dalam tanpa suara.

Bendong yang sudah berdiri di sisi dalam, memberi tanda kepada Rugi Sabuntel untuk masuk.

Seharusnya, dalam beraksi dua orang, satu orang bertugas menggasak harta di dalam, sementara rekannya bertugas menjaga situasi di luar untuk memastikan tetap aman.

Namun, karena Rugi Sabuntel perampok baru, jadi Bendong harus mengajarkannya lebih dulu berbagai trik, termasuk trik membuka peti uang.

Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan tidak lupa menutup pintu kembali, tapi tidak dikunci. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar