*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Rugi Sabuntel membaca tulisan di kulit bambu yang
diberikan oleh penjahit cantik bernama Nyi Unyu itu.
“Jadi sekarang ditunggu, jadi besok silakan pulang.”
Itulah bunyi tulisan di kulit bambu yang diukir
menggunakan jarum.
“Hahaha! Aku kira Nyi Unyu memberiku surat cinta,”
kata Rugi Sabuntel berseloroh yang bermaksud menggoda.
Nyi Unyu yang sejak awal tidak pernah berkata-kata,
jadi melirik tajam kepada Rugi Sabuntel, membuat jantung pemuda
gendut itu terasa disentil sehingga menyetrum seluruh urat saraf.
Nyi Unyu lalu menggerakkan
alisnya, bermaksud bertanya.
“Bajunya mau aku pakai malam
ini, Nyi,” jawab Rugi Sabuntel.
Nyi Unyu lalu memberikan tanda jempol kepada Rugi
Sabuntel.
Sreet! Breeet!
Selanjutnya, Nyi Unyu mulai beraksi. Dia menarik
lembaran kain yang menjuntai yang tadi dipilih oleh Rugi Sabuntel.
Selain kain sebagai bahan dasar, dalam kerjanya Nyi
Unyu menggunakan sejumlah benda seperti gunting, pisau kecil, jarum, benang,
dan batu kapur yang digunakan untuk menggaris pola di atas meja.
Karena sudah diabaikan, Rugi Sabuntel lalu keluar dari
lapak dan mencari Bendong. Ternyata rekannya itu sedang duduk-duduk di bawah
pohon sambil memegang secangkir bambu minuman hangat.
Tidak jauh dari Bendong ada seorang tukang penjaja
minuman yang dagangannya dalam bentuk pikulan. Saat itu belum populer berdagang
pakai gerobak beroda.
“Aku pikir kau ke mana,” ujar Rugi Sabuntel kepada
Bendong.
“Kakang, dua cangkir lagi untuk rekanku!” kata Bendong
kepada pedagang minuman jahe panas aroma pandan.
“Baik, Den,” ucap pedagang minuman yang usianya sudah
hampir kepala empat.
Rugi Sabuntel melemparkan lembaran kulit bambu
pemberian Nyi Unyu kepada Bendong. Dengan enteng Bendong menangkap lembaran itu
dan membacanya.
“Bendong, kenapa Nyi Unyu tidak pernah bicara kepadaku
tadi? Apakah dia benci kepada pemuda ganteng sepertiku?” tanya Rugi Sabuntel.
“Nilai kependekaranmu akan bertambah tinggi jika kau
bisa membuat Nyi Unyu tersenyum kepadamu, sekali saja,” kata Bendong.
“Oh ya? Aku jadi bergairah. Aku merasa tertantang,”
kejut Rugi Sabuntel.
“Jangan sekarang jika ingin unjuk kejantanan!” larang
Bendong. “Kesaktian dan kecantikannya dalam membuat baju, membuat banyak lelaki
memesan baju kepadanya. Dia itu bisu, tidak pernah bicara, kecuali dengan
isyarat dan tulisan.”
“Kau selalu memesan baju kepadanya?” tanya Rugi
Sabuntel.
“Selalu.”
“Kau tidak bermaksud menaklukkan hatinya? Dia itu
cantik dan ketampananmu bisa ditebar,” tanya Rugi Sabuntel.
“Aku tahu diri, Rugi,” jawab Bendong.
“Ini, Den,” ucap pedagang minuman sambil menyodorkan
dua gelas wedang jahe aroma pandan kepada Rugi Sabuntel.
“Kenapa dua?” tanya Rugi Sabuntel sambil menerima
kedua gelas yang diberikan.
“Kau baru saja diukur oleh Nyi Unyu, perasaanmu pasti
sedang berbahagia. Jadi, untuk meredamnya butuh dua gelas wedang jahe,” jelas
Bendong.
“Bukankah justru ini akan menambah panas gairahku?”
“Coba saja jika tidak percaya,” tandas Bendong.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.
Sambil mewedang, kedua sahabat itu berbincang berbagai
hal sambil menunggu baju untuk Rugi Sabuntel selesai dibuatkan oleh Nyi Unyu.
Sampai ketika pedagang wedang sudah pergi memikul dagangannya, keduanya masih
setia menunggu Nyi Unyu.
Ternyata hanya butuh waktu sedurasi kucing kawin
lengkap dengan ribut-ributnya, baju dan celana pesanan Rugi Sabuntel selesai
dijahit.
Nyi Unyu melempar selembar kulit bambu kecil kepada
kedua pendekar itu untuk memanggilnya.
Set! Teb!
“Busyet montok!” pekik Rugi Sabuntel terkejut karena
tahu-tahu ada kulit bambu yang menancap di batang pohon yang mereka sandari.
Keduanya memandang ke arah lapak penjahit. Mereka
melihat Nyi Unyu memanggil dengan gerakan jari. Keduanya bergegas bangkit dan
pergi ke lapak. Terlihat Rugi Sabuntel yang lebih bersemangat.
Nyi Unyu memberikan satu set pakaian baru berwarna
merah gelap. Seperti anak kecil yang mendapat hadiah baju baru lebaran, Rugi
Sabuntel terkekeh-kekeh. Nyi Unyu membantu menempelkan baju itu di badan gendut
Rugi Sabuntel untuk melihat kepasannya.
Lagi-lagi Rugi Sabuntel bisa mencium keharuman tubuh
Nyi Unyu. Setelah memerhatikan sebentar, Nyi Unyu mengangguk tanda sudah oke.
“Buatkan satu pasang lagi, Nyi. Warna yang sama. Besok
akan diambil Rugi Sabuntel. Berapa aku akan membayar untuk dua pasang?” kata
Bendong.
Nyi Unyu memperlihatkan lima jarinya.
“Lima puluh kepeng,” terka Bendong.
Nyi Unyu mengangguk samar.
Singkat waktu, malam pun datang dan bergerak melewati
tengahnya lalu menuju ke akhirnya.
Tepat pukul dua dini hari, dua pasang sosok berpakaian
gelap bertopeng bergerak di dalam kegelapan tanpa membawa alat penerangan obor
ataupun senter.
Sosok berbadan besar dan gendut mengenakan pakaian
serba merah gelap. Sedangkan rekannya yang lebih kurus berpakaian serba hitam,
sehingga lebih tidak terlihat.
Sekedar bocoran. Mereka berdua adalah Rugi Sabuntel
dan Bendong yang sedang melakukan duet pertama kali untuk merampok.
Mereka kini berada di salah satu desa di Kademangan
Buto Cangkem. Mereka telah merencanakan akan merampok rumah Juragan Gorong,
sang lintah darat.
Akhirnya mereka tiba di luar tembok pagar kayu yang
mengelilingi tiga buah rumah kayu besar-besar. Halaman depannya luas seperti
lapangan rekreasi. Sejumlah obor di tempatkan di beberapa sudut. Ada pula pos
siskamling yang menjadi titik kumpul beberapa centeng yang bertugas jaga. Ada
empat centeng. Tiga orang tidur, sedangkan satu orang melek sambil bermain
boneka kayu untuk mengisi rasa sepi. Saat itu belum ada smart phone
untuk main gim.
Saat ini, Rugi Sabuntel dan Bendong berada di sisi
samping luar pagar yang dekat dengan salah satu rumah.
“Rumah utama adalah yang di tengah. Di situlah harta
Juragan Gorong disimpan,” kata Bendong setengah berbisik. “Kita masuk lewat
atap. Pertama yang harus kita lakukan jika ingin merampok sebuah rumah adalah
mempelajari rumah tersebut, di mana kira-kira kamar utama. Biasanya kepeng dan
perhiasan disimpan di kamar majikan.”
“Ayo!” ajak Rugi Sabuntel.
Bendong lalu melompati pagar yang setinggi bahu. Rugi
Sabuntel pun mengikuti melompati pagar. Meski tubuhnya gendut besar, melompat
ke atap rumah pun mudah bagi Rugi Sabuntel. Namanya juga pendekar.
Di dalam lingkungan berpagar itu, Bendong bergerak ke
area-area gelap yang jauh dari cahaya obor.
Dalam berlari, mereka menggunakan ilmu peringan tubuh,
sehingga langkah mereka nyaris tidak bersuara.
Mereka langsung pergi mendekati rumah kayu yang di
tengah. Mereka pergi ke bagian belakang.
Di belakang rumah. Sebelum Bendong memilih jalan untuk
naik ke atap, dia memberi tanda berhenti kepada Rugi Sabuntel. Dia menunjuk
sebuah jendela dapur yang terbuka. Jendela itu bisa dimasuki oleh tubuh
seramping Bendong.
“Aku masuk ke dapur, lalu aku akan membuka pintu
belakang dari dalam,” bisik Bendong.
“Baik,” ucap Rugi sembari mengangguk.
Bendong lalu bergerak mendekati dinding dapur dan
memanjat. Jendela yang lupa ditutup itu posisinya agak tinggi. Dengan mudah
Bendong bergerak masuk ke dalam rumah.
Rugi Sabuntel segera bergeser posisi mencari pintu
belakang. Ternyata pintu belakang bisa terlihat langsung dari pos ronda yang
ada di halaman depan. Di dekat pintu ada sebuah lampu minyak, sehingga cukup
terang.
Namun, Rugi Sabuntel tidak perlu khawatir. Selain
centeng yang melek hanya satu orang, itupun arah hadapnya tidak ke belakang.
Klek!
Terdengar suara halus di pintu belakang dari sisi
dalam. Sebentar saja, pintu sudah dibuka dari dalam tanpa suara.
Bendong yang sudah berdiri di sisi dalam, memberi
tanda kepada Rugi Sabuntel untuk masuk.
Seharusnya, dalam beraksi dua orang, satu orang
bertugas menggasak harta di dalam, sementara rekannya bertugas menjaga situasi
di luar untuk memastikan tetap aman.
Namun, karena Rugi Sabuntel perampok baru, jadi
Bendong harus mengajarkannya lebih dulu berbagai trik, termasuk trik membuka
peti uang.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah dan tidak lupa menutup pintu kembali, tapi tidak dikunci. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar