Disemprot Mertua, Bab9 Miliarder Ular Biru


*Miliarder Ular Biru*

Setelah susah tidur karena didera rasa sakit, Radit baru bisa tidur pada jam tiga dini hari. Itupun karena terlalu mengantuknya. Namun, itu hanya lima menit. Ketika kakinya bergerak saat tidur, posisinya justru tidak baik.

“Aaak!” jerit Radit oleh karena hentakan rasa sakit yang tiba-tiba.

Buru-buru dia bangun dan memperbaiki posisi kakinya. Mulutnya meniup-niup seperti ibu hamil yang hendak mengeden. Itu karena rasa sakitnya terngiang-ngiang di perasaannya.

Dilihatnya jam di dinding kamar.

“Ya Allah, tidur sebentar doang,” ucap Radit seperti orang putus asa.

Ia melihat lutut kanannya. Bengkaknya tambah sempurna seperti jambu kristal. Setelah itu, Radit kembali mencoba untuk tidur. Dia meringkuk karena merasa kedinginan meski badannya panas.

Syukurlah. Radit akhirnya bisa tidur, meski hanya setengah jam saja.

Sebangunnya, Radit punya ide. Dia mengirim pesan kepada nomor hp istrinya. Sejenak dilihatnya status pesan yang dia kirimkan tadi malam. Statusnya masih sama, ceck list dua warna kelabu.

Radit: “Assalamu ‘alaikum. Sarang keong, Sayangku.”

Radit: “Aku benar-benar sakit, lhooo. Ke kamar mandi aja ngesot kayak suster.”

Radit kemudian memfoto lutut bengkaknya yang merah. Lalu mengirim foto selfie-nya dengan wajah mengerenyit kesakitan.

Radit: “Sayang, aku gak ada yang ngurus. Aku bisa mati perlahan. Sebenarnya kamu cinta gak sih sama aku?”

Radit: “Aku menunggumu. Sarang keong.”

Itulah upaya terakhir Radit untuk meyakinkan istrinya agar dia tidak dianggap berdusta tentang kabar sakitnya.

Barulah jam tujuh pagi semua pesan yang dikirim oleh Radit statusnya centang biru dua. Ternyata yang membuka pesan itu adalah Rukmah, ibu Andini.

“Andini! Andini!” panggil Rukmah sambil berjalan masuk ke kamar Andini.

Di kasur, Andini sedang terbaring miring. Dia tampilkan wajahnya dengan menengok. Terlihat wajahnya lesu dengan tatapan yang sayu. Ada dua koyo di kanan-kiri kepalanya.

“Ada pesan dari Radit!” kata Rukmah dengan nada yang tidak lembut. Asal terkait dengan Radit, Rukmah bawaannya selalu emosi.

Dia memberikan hp di tangannya kepada Andini yang menerima dengan gerakan tangan yang lemah.

“Ah, palingan juga dia pura-pura biar kamu pulang ke rumah,” ketus Rukmah, padahal Andini belum membuka pesan di hp-nya.

Andini tidak menanggapinya. Setelah dia membuka aplikasi pesannya, dilihatnya angka warna merah yang menunjukkan jumlah telepon yang tidak terangkat. Puluhan kali. Seolah-olah menunjukkan bahwa Radit ingin menyampaikan hal yang sangat genting.

Setelah itu, barulah Andini melihat semua pesan, termasuk foto yang dikirim Radit.

“Kayaknya Mas Radit benaran sakit, Bu,” kata Andini.

“Din, suami kamu itu pembohong. Pintar pura-pura. Punya banyak rahasia. Dengkul bengkak begitu banyak di internet. Ekspresi begitu, Ibu juga bisa bergaya. Kalau kamu sudah pulang ke sana, dia enggak bakalan ngizinin kamu ke sini lagi. Lagian, sekarang juga kamu lagi lemas begini. Semua makanan bikin mual. Udah, Radit biarin saja. Laki-laki kok cengeng? Dia itu cuma pura-pura. Baru aja kemarin masuk kantor, mana mungkin tahu-tahu dipecat. Apalagi kepala gudang. Setidaknya ada pemberitahuan lebih dulu dong,” omel Rukmah.

“Ya udah, balas saja, Bu. Bilangin kalau aku lagi sakit, tiduran di kasur aja dari kemarin,” kata Andini sambil memberikan kembali hp-nya kepada sang ibu.

Rukmah lalu pergi ke ruang depan dan duduk di kursi. Dia mengetik di hp membalas pesan menantunya.

Andini: “Jangan pura-pura sakit. Andini lagi sakit, badannya lemas enggak mau makan.”

Radit yang sedang berusaha menelepon beberapa pelanggan kredit hp-nya, mendadak sumringah melihat ada notifikasi dari nomor istrinya.

Dia tidak lagi membuka pesan dari nomor istrinya, tetapi langsung menelepon. Dia sudah siap bicara dengan nada orang sakit.

“Hei, Radit! Istrimu sedang sakit karena mual terus. Jadi lelaki jangan cengeng. Ibu tahu kamu sedang pura-pura sakit. Kamu kira Ibu dan Andini percaya begitu saja. Enggak nyangka Ibu dapat menantu pintar bohong!”

Alangkah terkejutnya Radit mendengar semprotan dari ujung telepon. Dia hanya mengerenyit mendengar kata-kata pedas mertuanya. Dia tidak menduga bahwa yang memegang hp istrinya adalah mertuanya.

“Aku sakit sungguhan, Bu. Enggak bisa jalan,” ucap Radit memelas.

“Sudah. Jangan bohongi Ibu!” bentak Rukmah galak. Setelah itu dia mengakhiri teleponnya.

Radit hanya bisa mengerenyit ingin menangis. Sakit raga dan hatinya saat itu.

“Ya Allah, dosa apa aku? Kenapa kena sial beruntun begini?” ucap Radit.

Dia membaca pesan dari nomor hp istrinya.

“Seharusnya tadi aku curiga dulu. Andini menulis namanya Andini, ya pasti bukan dia yang mengetik pesannya,” batin Radit.

Akhirnya Radit hanya berada di kasur sepanjang hari. Jika kemarin sore masih bisa jalan jinjit sebelah, tapi sekarang benar-benar harus mengesot untuk ke mana-mana.

Demi bisa membantunya berjalan, Radit terpaksa memesan kruk atau tongkat ketiak secara online. Tentunya tidak akan datang hari itu juga. Pembelian itu jelas kian mengurangi uangnya di rekening.

Dalam kondisi yang benar-benar sakit, Radit berusaha menyelesaikan rencana tindakan terhadap para pelanggannya. Hasilnya, Radit kehilangan kontak dengan separuh pelanggannya. Artinya Radit harus membayari hp-hp yang hilang itu. Dia hanya bisa berharap orang yang mengambil kredit mau datang dan membayar angsurannya, syukur-syukur kalau langsung dilunasi.

Namun, harapan tinggal harapan. Ternyata kebanyakan manusia akan berbuat jahat jika ada peluang. Itu kesimpulan Radit.

Tidak ada pelanggan yang datang ke rumah Radit. Jika pun ada yang membayar angsuran, mereka tinggal transfer.

Assalamu ‘alaikum, Mas Radit!” salam seorang wanita di depan pintu yang tertutup, setelah empat hari Radit tidak keluar-keluar dari rumah.

Wa ‘alaikum salaam!” sahut Radit agak kencang dari dalam kamar. Dia sudah tidak demam.

Saat itu dia sudah memiliki tongkat ketiak yang bisa membantunya berjalan. Dengan tongkat itu Radit pergi ke pintu depan.

“Mas Radit!” panggil wanita di depan pintu lagi.

“Iyaaa!” sahut Radit lagi. Itu bukan suara istrinya, teapi itu suara Warsina.

Ketika pintu dibuka, Warsina langsung terkejut melihat Radit yang kusut dan bertongkat.

“Mas Radit kenapa?”

“Aku enggak bisa jalan, Mbak. Habis kecelakaan,” jawab Radit.

“Ya Allah. Mana enggak ada Andini ya,” ucap Warsina prihatin.

“Ada apa, Mbak?” tanya Radit.

“Enggak. Saya hanya penasaran, sebenarnya Mas Radit ada di rumah atau tidak ada. Saya enggak tahu sama sekali kalau Mas Radit sedang sakit,” kata Warsina.

“Mbak, bisa tolong aku?”

“Apa, Mas?” tanya Warsina.

“Duduk dulu deh, Mbak,” kata Radit.

Radit pun bercerita tentang kondisinya yang tidak berdaya. Namun, dia tentu tidak cerita tentang utang pinjolnya dan usaha kredit hp-nya.

Intinya, Radit hanya minta bantuan disediakan makan. Nanti dibayar. Dia juga minta Warsina pergi menemui Andini.

Kemunculan Warsina cukup banyak membantu. Hasilnya, Andini datang juga dengan diantar bapaknya, Sukri. Kondisi Andini sudah lebih baik karena dia mulai menemukan makanan yang cocok dia makan.

Melihat kondisi Radit, Andini jadi bersedih. Apalagi saat mendengar cerita musibah yang menimpa suaminya itu berturut-turut.

“Maaf, Mas. Aku kira Mas Radit bohongan,” ucap Andini kepada suaminya. (RH)
--------------------------------------

Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

10 komentar:

  1. Kasih an bener sih.. Bisa lbh menderita lg gak on? 😅

    BalasHapus
  2. Ini Anny juga Om.. Sedang tukar hape 😁

    BalasHapus
  3. Gak cocok mereka, Om. Keknya harus segera ganti istri dan ganti suami🤧

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak seperti kita, cocok meski tidak perna dicoba

      Hapus
    2. Kita mah terasa meski tidak pernah diraba😂

      Hapus
    3. Aku pernah mimpi Om raba loh. Tapi kok di mimpi kelihatan muda, tampan lagi. padahal aslinya tua enggak pula tampan🙄 atau mungkin Om itu tipe mimpigenic kali...🤔🤣

      Hapus
    4. Berarti itu bukan Om, qorinnya Om kali

      Hapus