*Miliarder Ular Biru*
Setelah susah tidur
karena didera rasa sakit, Radit baru bisa tidur pada jam tiga dini hari. Itupun
karena terlalu mengantuknya. Namun, itu hanya lima menit. Ketika kakinya
bergerak saat tidur, posisinya justru tidak baik.
“Aaak!” jerit Radit
oleh karena hentakan rasa sakit yang tiba-tiba.
Buru-buru dia bangun
dan memperbaiki posisi kakinya. Mulutnya meniup-niup seperti ibu hamil yang
hendak mengeden. Itu karena rasa sakitnya terngiang-ngiang di perasaannya.
Dilihatnya jam di
dinding kamar.
“Ya Allah, tidur
sebentar doang,” ucap Radit seperti orang putus asa.
Ia melihat lutut
kanannya. Bengkaknya tambah sempurna seperti jambu kristal. Setelah itu, Radit
kembali mencoba untuk tidur. Dia meringkuk karena merasa kedinginan meski
badannya panas.
Syukurlah. Radit
akhirnya bisa tidur, meski hanya setengah jam saja.
Sebangunnya, Radit
punya ide. Dia mengirim pesan kepada nomor hp istrinya. Sejenak dilihatnya
status pesan yang dia kirimkan tadi malam. Statusnya masih sama, ceck list
dua warna kelabu.
Radit: “Assalamu
‘alaikum. Sarang keong, Sayangku.”
Radit: “Aku
benar-benar sakit, lhooo. Ke kamar mandi aja ngesot kayak suster.”
Radit kemudian
memfoto lutut bengkaknya yang merah. Lalu mengirim foto selfie-nya
dengan wajah mengerenyit kesakitan.
Radit: “Sayang, aku
gak ada yang ngurus. Aku bisa mati perlahan. Sebenarnya kamu cinta gak sih sama
aku?”
Radit: “Aku
menunggumu. Sarang keong.”
Itulah upaya terakhir
Radit untuk meyakinkan istrinya agar dia tidak dianggap berdusta tentang kabar
sakitnya.
Barulah jam tujuh
pagi semua pesan yang dikirim oleh Radit statusnya centang biru dua. Ternyata
yang membuka pesan itu adalah Rukmah, ibu Andini.
“Andini! Andini!”
panggil Rukmah sambil berjalan masuk ke kamar Andini.
Di kasur, Andini
sedang terbaring miring. Dia tampilkan wajahnya dengan menengok. Terlihat
wajahnya lesu dengan tatapan yang sayu. Ada dua koyo di kanan-kiri kepalanya.
“Ada pesan dari Radit!”
kata Rukmah dengan nada yang tidak lembut. Asal terkait dengan Radit, Rukmah
bawaannya selalu emosi.
Dia memberikan hp di
tangannya kepada Andini yang menerima dengan gerakan tangan yang lemah.
“Ah, palingan juga
dia pura-pura biar kamu pulang ke rumah,” ketus Rukmah, padahal Andini belum
membuka pesan di hp-nya.
Andini tidak
menanggapinya. Setelah dia membuka aplikasi pesannya, dilihatnya angka warna
merah yang menunjukkan jumlah telepon yang tidak terangkat. Puluhan kali.
Seolah-olah menunjukkan bahwa Radit ingin menyampaikan hal yang sangat genting.
Setelah itu, barulah
Andini melihat semua pesan, termasuk foto yang dikirim Radit.
“Kayaknya Mas Radit
benaran sakit, Bu,” kata Andini.
“Din, suami kamu itu
pembohong. Pintar pura-pura. Punya banyak rahasia. Dengkul bengkak begitu
banyak di internet. Ekspresi begitu, Ibu juga bisa bergaya. Kalau kamu sudah
pulang ke sana, dia enggak bakalan ngizinin kamu ke sini lagi. Lagian, sekarang
juga kamu lagi lemas begini. Semua makanan bikin mual. Udah, Radit biarin saja.
Laki-laki kok cengeng? Dia itu cuma pura-pura. Baru aja kemarin masuk kantor,
mana mungkin tahu-tahu dipecat. Apalagi kepala gudang. Setidaknya ada
pemberitahuan lebih dulu dong,” omel Rukmah.
“Ya udah, balas saja,
Bu. Bilangin kalau aku lagi sakit, tiduran di kasur aja dari kemarin,” kata
Andini sambil memberikan kembali hp-nya kepada sang ibu.
Rukmah lalu pergi ke
ruang depan dan duduk di kursi. Dia mengetik di hp membalas pesan menantunya.
Andini: “Jangan
pura-pura sakit. Andini lagi sakit, badannya lemas enggak mau makan.”
Radit yang sedang
berusaha menelepon beberapa pelanggan kredit hp-nya, mendadak sumringah melihat
ada notifikasi dari nomor istrinya.
Dia tidak lagi
membuka pesan dari nomor istrinya, tetapi langsung menelepon. Dia sudah siap
bicara dengan nada orang sakit.
“Hei, Radit! Istrimu
sedang sakit karena mual terus. Jadi lelaki jangan cengeng. Ibu tahu kamu
sedang pura-pura sakit. Kamu kira Ibu dan Andini percaya begitu saja. Enggak
nyangka Ibu dapat menantu pintar bohong!”
Alangkah terkejutnya
Radit mendengar semprotan dari ujung telepon. Dia hanya mengerenyit mendengar
kata-kata pedas mertuanya. Dia tidak menduga bahwa yang memegang hp istrinya
adalah mertuanya.
“Aku sakit sungguhan,
Bu. Enggak bisa jalan,” ucap Radit memelas.
“Sudah. Jangan
bohongi Ibu!” bentak Rukmah galak. Setelah itu dia mengakhiri teleponnya.
Radit hanya bisa
mengerenyit ingin menangis. Sakit raga dan hatinya saat itu.
“Ya Allah, dosa apa
aku? Kenapa kena sial beruntun begini?” ucap Radit.
Dia membaca pesan
dari nomor hp istrinya.
“Seharusnya tadi aku
curiga dulu. Andini menulis namanya Andini, ya pasti bukan dia yang mengetik
pesannya,” batin Radit.
Akhirnya Radit hanya
berada di kasur sepanjang hari. Jika kemarin sore masih bisa jalan jinjit
sebelah, tapi sekarang benar-benar harus mengesot untuk ke mana-mana.
Demi bisa membantunya
berjalan, Radit terpaksa memesan kruk atau tongkat ketiak secara online.
Tentunya tidak akan datang hari itu juga. Pembelian itu jelas kian mengurangi
uangnya di rekening.
Dalam kondisi yang
benar-benar sakit, Radit berusaha menyelesaikan rencana tindakan terhadap para
pelanggannya. Hasilnya, Radit kehilangan kontak dengan separuh pelanggannya.
Artinya Radit harus membayari hp-hp yang hilang itu. Dia hanya bisa berharap
orang yang mengambil kredit mau datang dan membayar angsurannya, syukur-syukur
kalau langsung dilunasi.
Namun, harapan
tinggal harapan. Ternyata kebanyakan manusia akan berbuat jahat jika ada
peluang. Itu kesimpulan Radit.
Tidak ada pelanggan
yang datang ke rumah Radit. Jika pun ada yang membayar angsuran, mereka tinggal
transfer.
“Assalamu ‘alaikum,
Mas Radit!” salam seorang wanita di depan pintu yang tertutup, setelah empat
hari Radit tidak keluar-keluar dari rumah.
“Wa ‘alaikum
salaam!” sahut Radit agak kencang dari dalam kamar. Dia sudah tidak demam.
Saat itu dia sudah
memiliki tongkat ketiak yang bisa membantunya berjalan. Dengan tongkat itu
Radit pergi ke pintu depan.
“Mas Radit!” panggil
wanita di depan pintu lagi.
“Iyaaa!” sahut Radit
lagi. Itu bukan suara istrinya, teapi itu suara Warsina.
Ketika pintu dibuka,
Warsina langsung terkejut melihat Radit yang kusut dan bertongkat.
“Mas Radit kenapa?”
“Aku enggak bisa
jalan, Mbak. Habis kecelakaan,” jawab Radit.
“Ya Allah. Mana
enggak ada Andini ya,” ucap Warsina prihatin.
“Ada apa, Mbak?”
tanya Radit.
“Enggak. Saya hanya
penasaran, sebenarnya Mas Radit ada di rumah atau tidak ada. Saya enggak tahu
sama sekali kalau Mas Radit sedang sakit,” kata Warsina.
“Mbak, bisa tolong
aku?”
“Apa, Mas?” tanya
Warsina.
“Duduk dulu deh,
Mbak,” kata Radit.
Radit pun bercerita
tentang kondisinya yang tidak berdaya. Namun, dia tentu tidak cerita tentang
utang pinjolnya dan usaha kredit hp-nya.
Intinya, Radit hanya
minta bantuan disediakan makan. Nanti dibayar. Dia juga minta Warsina pergi
menemui Andini.
Kemunculan Warsina
cukup banyak membantu. Hasilnya, Andini datang juga dengan diantar bapaknya,
Sukri. Kondisi Andini sudah lebih baik karena dia mulai menemukan makanan yang cocok
dia makan.
Melihat kondisi
Radit, Andini jadi bersedih. Apalagi saat mendengar cerita musibah yang menimpa
suaminya itu berturut-turut.
“Maaf, Mas. Aku kira
Mas Radit bohongan,” ucap Andini kepada suaminya. (RH)
--------------------------------------
Catatan: Kategori LAMBAT adalah novel terbaru yang update-nya sangat lambat. Harap maklum.


Kasih an bener sih.. Bisa lbh menderita lg gak on? 😅
BalasHapusjiahahahaha!
HapusIni Anny juga Om.. Sedang tukar hape 😁
BalasHapusMasih inget aja nomot urutnya
HapusGak cocok mereka, Om. Keknya harus segera ganti istri dan ganti suami🤧
BalasHapusgak seperti kita, cocok meski tidak perna dicoba
HapusKita mah terasa meski tidak pernah diraba😂
HapusBermimpi diraba ya?
HapusAku pernah mimpi Om raba loh. Tapi kok di mimpi kelihatan muda, tampan lagi. padahal aslinya tua enggak pula tampan🙄 atau mungkin Om itu tipe mimpigenic kali...🤔🤣
HapusBerarti itu bukan Om, qorinnya Om kali
Hapus