Ibu Nasi Uduk, Bab4 Siksa Dari Gunung


*Siksa Dari Gunung*

Keesokan paginya. Rina, Elang dan teman-temannya sudah bangun, kecuali Lisa.

Sultan: Bagaimana Lisa? Dibangunin, ‘gak? Rencananya jam tujuh kita naik.

Rina lalu membangunkan Lisa.

Rina: Jadi, ‘gak?

Lisa: Jadi jadi jadi! (Semangat)

Lisa lalu segera rapi-rapi dan preparing. Pukul 06.30 WIB mereka pergi ke pos Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi). Simaksi adalah tiket untuk melakukan pendakian.

Pukul tujuh lewat mereka tiba di pos Simaksi. Di sana, Rina melihat ibu-ibu dagang nasi uduk menggunakan tampah anyaman bambu. Dagangannya diletakkan di bawah. Posisinya agak jauh dari pos.

Rina: Itu ada nasi uduk. Enak banget kayaknya.

Elang: Ya udah, nanti sehabis registrasi.

Gito: Yaaa, masih tutup posnya.

Wahyu: Rin, Rin! Ibu yang jualan itu kok pucat ya!

Rina: Enggak ah biasa aja.

Namun, ketika Rina semakin mendekat ke ibu pedagang, Elang menarik adiknya.

Elang: Jangan, jangan beli. Itu dagangnya enggak nyata.

Rina: Enggak, orang semuanya lihat, enggak mungkin.

Elang: Terserah deh.

Rina tetap mendekati si ibu pedagang.

Rina: Bu, jualan nasi uduk?

Ibu Nasi Uduk: Iya, Neng. Sarapan dulu, Neng. Itu (pos) masih tutup.

Wajah ibu pedagang nasi uduk memang pucat seperti usai kehujanan. Saat memberi nasi uduk kepada Rina, terlihat ujung-ujung jarinya mengkerut seperti usai basah lama.

Ibu Nasi Uduk: Ini makan dulu, sarapan dulu.

inaR: Ini benaran ‘gak sih? Ini nyata ‘gak sih? Ini benaran manusia ‘gak sih? (Dalam hati)

Elang: Jangan, jangan dimakan! (Berbisik kepada Rina)

Meski Rina ragu, tetapi dia juga sangat lapar.

Rina: Gue belum sarapan, A’.

Elang: Ya udah terserah. Baca bismillah.

Elang hanya terus melihat ibu pedagangnya.

Ibu Nasi Uduk: Kamu kenapa? Ada masalah sama Ibu?

Elang: Oh enggak, Bu. Saya sedang lihat ke belakang aja. Masih sepi banget jalanan ya, Bu?

Ibu Nasi Uduk: Iya, masih sepi. Jangan sembarangan, ya. Ini tempat saya!

Mendengar perkataan si ibu pedagang, Rina yang baru mau menyuap ke mulut, kembali meletakkan nasinya ke bungkusan daun pisang.

Namun, si ibu pedagang terus memandangi mereka, seolah menyuruh untuk makan melalui pandangannya.

Akhirnya Rina dan yang lainnya makan.

Lisa: Eh, nasi uduknya rasanya kok begini ya?

Rina: Dimakan aja, jangan ngomong melulu.

Lisa: Enggak enak tahu, kayak adem-adem gitu rasanya.

Rina: Udah sih, dimakan saja. Buat ganjal perut.

Lisa akhirnya makan juga, meski hanya sedikit.

Gito lalu membayar semua nasi uduknya, karena pos Simaksi sudah buka.

Lisa dan rekan-rekannya merapikan sisa makannya terkesan asal, sehingga banyak sisa nasi yang jatuh-jatuh.

Rina lalu berinisiatif merapikannya dan memasukkannya ke kantong plastik.

Rina: Bu, tempat sampah di mana ya?

Ibu Nasi Uduk: Cari. Saya juga enggak tahu tempat sampahnya.

Akhirnya Rina membawa sampahnya. Di pos Simaksi ternyata ada tempat sampah.

Sampai mereka mulai berangkat ngetrek, si ibu penjual nasi uduk masih memandangi, seolah terus memantau rombongan mereka.

Rina: Gue yakin si ibu itu manusia, karena semua bisa melihat. (Dalam hati)

Sebelum mendaki, mereka semua lebih dulu berkumpul dan berdoa.

Wusss!

Selesai berdoa, tiba-tiba ada angin yang berputar hanya di sekeliling mereka. Itu terlihat dari pergerakan sampah yang diterbangkan angin, hanya terbang berputar di sekeliling mereka, di sisi lain tidak sama sekali.

Rina: Ada apa ya? Apa gue salah atau gimana? Gue enggak bawa apa-apa ke sini, cuma niat liburan aja. (Dalam hati). (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar