*Siksa Dari Gunung*
Keesokan paginya.
Rina, Elang dan teman-temannya sudah bangun, kecuali Lisa.
Sultan: Bagaimana
Lisa? Dibangunin, ‘gak? Rencananya jam tujuh kita naik.
Rina lalu
membangunkan Lisa.
Rina: Jadi, ‘gak?
Lisa: Jadi jadi jadi!
(Semangat)
Lisa lalu segera
rapi-rapi dan preparing. Pukul 06.30 WIB mereka pergi ke pos Simaksi (Surat
Izin Masuk Kawasan Konservasi). Simaksi adalah tiket untuk melakukan pendakian.
Pukul tujuh lewat
mereka tiba di pos Simaksi. Di sana, Rina melihat ibu-ibu dagang nasi uduk
menggunakan tampah anyaman bambu. Dagangannya diletakkan di bawah. Posisinya
agak jauh dari pos.
Rina: Itu ada nasi
uduk. Enak banget kayaknya.
Elang: Ya udah, nanti
sehabis registrasi.
Gito: Yaaa, masih
tutup posnya.
Wahyu: Rin, Rin! Ibu
yang jualan itu kok pucat ya!
Rina: Enggak ah biasa
aja.
Namun, ketika Rina
semakin mendekat ke ibu pedagang, Elang menarik adiknya.
Elang: Jangan, jangan
beli. Itu dagangnya enggak nyata.
Rina: Enggak, orang
semuanya lihat, enggak mungkin.
Elang: Terserah deh.
Rina tetap mendekati
si ibu pedagang.
Rina: Bu, jualan nasi
uduk?
Ibu Nasi Uduk: Iya,
Neng. Sarapan dulu, Neng. Itu (pos) masih tutup.
Wajah ibu pedagang
nasi uduk memang pucat seperti usai kehujanan. Saat memberi nasi uduk kepada
Rina, terlihat ujung-ujung jarinya mengkerut seperti usai basah lama.
Ibu Nasi Uduk: Ini
makan dulu, sarapan dulu.
inaR: Ini benaran
‘gak sih? Ini nyata ‘gak sih? Ini benaran manusia ‘gak sih? (Dalam hati)
Elang: Jangan, jangan
dimakan! (Berbisik kepada Rina)
Meski Rina ragu,
tetapi dia juga sangat lapar.
Rina: Gue belum
sarapan, A’.
Elang: Ya udah
terserah. Baca bismillah.
Elang hanya terus
melihat ibu pedagangnya.
Ibu Nasi Uduk: Kamu
kenapa? Ada masalah sama Ibu?
Elang: Oh enggak, Bu.
Saya sedang lihat ke belakang aja. Masih sepi banget jalanan ya, Bu?
Ibu Nasi Uduk: Iya,
masih sepi. Jangan sembarangan, ya. Ini tempat saya!
Mendengar perkataan
si ibu pedagang, Rina yang baru mau menyuap ke mulut, kembali meletakkan
nasinya ke bungkusan daun pisang.
Namun, si ibu
pedagang terus memandangi mereka, seolah menyuruh untuk makan melalui
pandangannya.
Akhirnya Rina dan
yang lainnya makan.
Lisa: Eh, nasi
uduknya rasanya kok begini ya?
Rina: Dimakan aja,
jangan ngomong melulu.
Lisa: Enggak enak
tahu, kayak adem-adem gitu rasanya.
Rina: Udah sih,
dimakan saja. Buat ganjal perut.
Lisa akhirnya makan
juga, meski hanya sedikit.
Gito lalu membayar
semua nasi uduknya, karena pos Simaksi sudah buka.
Lisa dan
rekan-rekannya merapikan sisa makannya terkesan asal, sehingga banyak sisa nasi
yang jatuh-jatuh.
Rina lalu
berinisiatif merapikannya dan memasukkannya ke kantong plastik.
Rina: Bu, tempat
sampah di mana ya?
Ibu Nasi Uduk: Cari.
Saya juga enggak tahu tempat sampahnya.
Akhirnya Rina membawa
sampahnya. Di pos Simaksi ternyata ada tempat sampah.
Sampai mereka mulai
berangkat ngetrek, si ibu penjual nasi uduk masih memandangi, seolah terus
memantau rombongan mereka.
Rina: Gue yakin si
ibu itu manusia, karena semua bisa melihat. (Dalam hati)
Sebelum mendaki,
mereka semua lebih dulu berkumpul dan berdoa.
Wusss!
Selesai berdoa,
tiba-tiba ada angin yang berputar hanya di sekeliling mereka. Itu terlihat dari
pergerakan sampah yang diterbangkan angin, hanya terbang berputar di sekeliling
mereka, di sisi lain tidak sama sekali.
Rina: Ada apa ya? Apa gue salah atau gimana? Gue enggak bawa apa-apa ke sini, cuma niat liburan aja. (Dalam hati). (RH)


0 komentar:
Posting Komentar