*Petualangan Tina dan Ayu*
Tina Cihuy, Ayu Nostalgia dan Salman Alfarisy kini
dalam posisi berlutut di atas bantal dengan format berdampingan. Di depan
mereka berdiri lima prajurit Desa Waykutuk yang berjejer, sambil masing-masing
membawa gentong kecil tanah liat berisi air.
Di antara Trio Antik dan para prajurit ada berdiri
Dukun Rajo Canti yang memegang seikat rumput. Dia sedang memimpin upacara
menyambut tamu yang bernama Lima Siram Satu Wangi.
Sementara Kadesa Panen Sate bersama ketiga istri
mudanya dan warga Desa Waykutuk berkumpul di sekitar menyaksikan upacara
tersebut.
“Lima siraaam!” teriak Dukun Rajo Canti.
Dia lalu menyelupkan rumputnya ke dalam gentong berisi
air.
“Pergilah, setan-setan jahil dan jahat!” teriak Dukun
Rajo Canti sambil memercikkan air yang melekat pada rumput ke wajah Tina, Ayu
dan Salman.
Ketiga anak SMP itu seketika mengerenyitkan wajahnya
saat mereka mencium bau tidak sedap dari “air suci” tersebut.
Dukun Rajo Canti lalu mencelupkan ikatan rumput ke
gentong kedua.
“Pergilah penyakit-penyakit jahil dan jahat!” teriak
Dukun Rajo Canti lagi sambil memercikkan kembali air yang menempel pada rumput
ke wajah Tina, Ayu dan Salman.
Trio Antik semakin mengerenyit. Tina dan Ayu menahan
mual hendak muntah.
Wajah mereka sudah basah oleh air yang sangat bau.
Lima jenis air yang berbau sangat menyengat
dipercikkan ke wajah ketiga remaja yang tidak bisa menolak atau berbuat apa-apa
tersebut.
“Ho-ho-hoekh!” Salman akhirnya muntah duluan dengan
mode gagap.
Plok plok plok...!
Namun anehnya, semua warga Desa Waykutuk bertepuk
tangan gembira, termasuk Kadesa Panen Sate dan istri-istrinya, seolah-olah itu
adalah suatu prestasi.
“Hoekh!” Tina juga akhirnya muntah cairan pahit.
“Hoekh!” Ayu pun ikut-ikutan muntah, tapi muntahannya
adalah limbah makanan.
Plok plok plok...!
Kadesa Panen Sate dan warganya kembali bertepuk tangan
meriah, seolah-olah mereka sedang menonton aksi pertunjukan sirkus.
“Air terakhir kancing kucing. Hoekh!” kata Tina
berbisik kepada Ayu, lalu muntah lagi, tapi hanya setetes air liur. Wajah putih
Tina sampai merah padam, padahal tidak ada pemadam kebakaran.
“Terus, air yang empat lainnya?” tanya Ayu mendelik.
Lalu muntah lagi, “Hoekh!”
“Ho-ho-hoekh!” Salman juga muntah lagi.
“Muntah saja pakai gagap juga!” rutuk Ayu sewot.
“Itu ga-ga-gaya saya,” kata Salman yang muntah sampai
mengeluarkan air mata.
“Satu wangiii!” teriak Dukun Rajo Canti keras.
Maka datanglah seorang prajurit yang membawa satu
gentong kecil yang berisi air yang sangat wangi, bahkan wanginya sudah terendus
sebelum sampai ke depan Trio Antik. Para warga pun bisa mencium aroma wanginya.
“Wangi sekali!” ucap Ayu terkesiap.
“Bual saya jadi hilang,” kata Tina pula.
“Mual, bukan bual, Tina,” ralat Ayu.
“Ya itu ma-ma-maksud saya,” timpal Salman merebut
jatah komen Tina.
“Dasar garap!” rutuk Tina sambil melirik Salman yang
hanya tersenyum dengan wajah yang masih merah berair mata.
Dukun Rajo Canti lalu mengambil alih gentong tersebut.
Air wanginya lalu dituangkan ke atas kepala Tina, Ayu dan Salman bergantian.
Trio Antik basah kepala, tubuh dan pakaiannya oleh air
beraroma melati yang sangat menyengat.
“Utusan Setan Kuning sudah bersih dari setan,
penyakit, dosa, sifat jahat, dan nasib sial!” teriak Dukun Rato Canti.
Plok plok plok...!
Kadesa Panen Sate dan warganya bertepuk tangan dengan
gembira. Kali ini tepukannya lebih panjang dan lebih lama.
“Mandikan dan beri pakaian yang indah ketiga Utusan
Setan Kuning!” teriak sang dukun cantik.
Ketiga istri muda Kadesa Panen Sate, yaitu Mamu Unam,
Mamu Kania dan Mamu Sunar, segera bangun menghampiri ketiga tamu mereka.
“Ayo kita mandi bersih,” ajak Mamu Kania sembari
menuntun Tina bangun dan berjalan.
“Yuk, biar benar-benar bersih.” Mamu Unam menuntun
Ayu.
“Salman juga harus mandi lagi pakai air bersih.” Mamu
Sunar menuntun Salman.
“Hehehe! Saya mau dima-ma-mandiin?” tanya Salman, tapi
cengengesan dengan senang hati.
“Iya,” jawab Mamu Sunar sembari tersenyum manis,
layaknya senyum seorang istri kepada selingkuhannya.
“Hahaha! Me-me-menang banyak,” kata Salman kian
senang.
“Tadi air yang bau sekali, air apa saja, ya?” tanya
Tina masih penasaran.
“Pertama air kencing perawan, kedua air kencing kuda,
ketiga kencing sapi, keempat kencing kambing, kelima kencing kucing,” jawab
Mamu Kania.
“Hoekh!” Tina kembali muntah, tapi dia hanya muntah
angin.
“Hoekh!” Ayu kembali muntah, juga muntah angin.
“Begigi banget nasib tamu agung, Yu,” kata Tina serasa ingin menangis, tapi sepertinya cadangan air matanya sudah kering. “Kapan kita pulung?” (RH)


Kan. Kan.. Curiga dr awal mereka disiram apaan 😅
BalasHapus