Pendekar Santai: Mancing Sendirian (3)


Akhirnya hari itu berlalu tanpa ada peristiwa yang membahayakan bagi seorang pun warga Desa Peyek. Meski demikian, tema dua suara ledakan di atas Gunung Pekuk sering dibahas di dalam permbincangan antara siapa dan siapa. Salah satunya antara Sakuret dan ayahnya, Gegaba.

“Benar kataku, Gunung Pekuk tidak akan meletus karena dia gunung mati, tidak hidup,” kata Gegaba yang di malam menuju tengah itu dia berbaring di dipan berbantalkan potongan kayu yang dibalut kain dengan tebal. Dia gelap-gelapan jauh dari cahaya dian.

Dian ada di dipan yang lain, dipakai oleh si Walung Gigil yang cantik dan ibunya yang bernama Tamira. Tamira juga cantik karena dialah yang mewariskan kecantikannya kepada Walung.

Mereka berdua sedang bekerja menelanjangi kacang dari pakaian dalamnya di atas tampi bambu. Di dekat mereka ada juga empat bakul kacang. Dua bakul yang sudah bugil dan dua bakul yang masih berselaput.

Di dipan yang sama, ada seorang anak lelaki yang tidur tengkurap, tapi satu tangannya iseng dijulurkan ke pinggiran tampi. Sebenarnya anak usia dua belas tahun itu belum tidur. Dia adik Walung yang bernama Klimot.

Klimot belum suka membantu pekerjaan orangtua atau kakeknya. Dia masih doyan bermain dengan teman-teman sebayanya.

“Tapi tetap saja suara keras itu membuat resah warga sedesa, Ayah,” timpal Sakuret yang duduk berjongkok di ambang pintu rumah yang pintunya sengaja dibuka. Dia juga jauh dari cahaya dian. Satu tangannya memegangi gelas bambu berisi kopi yang sehitam kegelapan malam di luar rumah.

“Peteng Suro juga lucu. Dia yang menyuruh warga tidak panik, tetapi dia sendiri panik. Hehehe!” kata Gegaba lagi merujuk pada Kepala Desa Peyek. Dia menertawakan. “Semua warga desa itu penakut, baru mendengar suara seperti itu sudah menyangka Gunung Pekuk mau meletus. Padahal dari Ayah kecil, gunung itu tidak pernah meletus. Mana ada yang berani melihat ke atas walaupun diberi upah besar?”

“Memangnya Ayah berani naik ke atas?” tanya Sakuret dengan nada menantang karena kesal dengan ayahnya yang sok paling berani dan paling tahu tentang Gunung Pekuk.

“Kau meremehkan ayahmu ini. Sudah tidak terhitung berapa kali Ayah naik ke puncak Gunung Pekuk, mandi di Telaga Bolong, atau bermalam demi memandang kecantikan matahari terbit dari Kawah Peteng. Tapi kalau sekarang, untuk apa naik ke atas? Aku lebih panik jika pekerjaanku menggarap tanah sawah Ki Petonggo tidak selesai sesuai rencana. Besok aku harus bekerja lebih karena hari ini mandek setengah hari kerja,” kata Gegaba.

“Padahal Juragan Sugarap memberi bayaran mahal kepada orang yang mau naik ke atas gunung untuk mencari tahu apa yang terjadi,” kata Sakuret.

“Ah, yang benar kau, Sakuret? Aku tidak mendengar tentang itu tadi sore,” kata Gegaba sambil mengangkat kepalanya lepas dari bantal. Dia memandang serius ke pintu, menatap punggung telanjang putranya.

“Aku dan warga mendengar langsung dari Juragan Sugarap. Ayah saja yang buru-buru pulang,” tandas Sakuret.

“Haaa!” Gegaba menghempaskan napas masygul. Dia kembali menurunkan kepalanya ke bantal. “Sayang sekali, aku tidak mungkin melepas pekerjaan di sawah. Nanti aku justru tidak dipercaya lagi oleh orang-orang yang butuh tenagaku.”

“Lihat saja besok, siapa-siapa saja yang berani naik ke puncak,” kata Sakuret lalu menyeruput kopinya yang sudah dingin.

Tamira, Walung Gigil dan Klimot hanya mendengar percakapan kedua lelaki dewasa itu. Pada akhirnya percakapan ayah dan anak itu terhenti sendiri karena yang paling tua telah terdengar mendengkur.

Keesokan paginya, Walung memiliki agenda sendiri yang sudah dia rencanakan sejak kemarin.

Dia berlari-lari kecil melewati jalan desa dan permukiman warga. Akhirnya gadis cantik itu berhenti di bawah pohon.

Pandangannya terfokus ke arah sebuah rumah besar dan berhalaman luas. Pagar halaman rumahnya terbuat dari bambu weling yang berwarna hitam kehitam-hitaman dengan bagian simpul batangnya berwarna merah-kemerahan, sehingga memberi corak yang unik dan menarik.

Saat itu, ada sekitar sepuluh pedati kuda bergerak keluar dari halaman rumah milik Juragan Sugarap Bondo. Pedati-pedati itu mengangkut tumpukan bambu weling yang banyak.

Rombongan itu juga dikawal oleh orang-orang berkuda dan sekelompok lelaki bersenjatakan golok dan tombak yang berjalan kaki.

Di teras rumah, tampak Juragan Sugarap Bondo yang berperut gendut dan berkumis tebal masih berdiri bersama istrinya, memandangi kepergian kafilah dagangnya. Kafilah itu dipimpin langsung oleh adik dan putra Juragan Sugarap.

“Lihat, di sana ada Walung,” kata istri Juragan kepada suaminya. Istri Juragan yang berpenampilan banyak perhiasan emas itu bernama Beningan. Dia memang seorang wanita yang berkulit terang dan terkesan bening. Maklum Nyonya Juragan.

Juragan Sugarap melirik sebentar ke pohon di luar sana.

“Biarkan saja. Nanti akan kecewa sendiri,” kata Juragan Sugarap menanggapi istrinya. “Di Kadipaten ini banyak gadis-gadis cantik yang lebih jelas masa depannya. Kau mau putramu beristrikan wanita miskin yang masa depannya tidak jauh dari menggarap tanah orang?”

“Tentu aku memilih gadis seperti putri Kepala Desa atau putri Gusti Adipati yang derajatnya lebih tinggi dan mulia,” jawab Beningan.

Karena tidak sempat bertemu dengan kekasihnya yang bernama Baden Ronto, Walung akhirnya memutuskan segera pergi untuk pulang. Wajah cantiknya merengut menunjukkan suasana hati yang tidak nyaman.

“Panggil orang-orang yang mau naik ke gunung!” perintah Juragan Sugarap Bondo kepada pembantunya.

“Baik, Juragan.”

Seorang lelaki tanpa baju segera berlari pergi untuk memanggil orang-orang yang sejak tadi menunggu untuk bertemu dengan Juragan Sugarap.

Ternyata, Walung pulang ke rumah hanya untuk mengambil kail.

“Nak, nanti siang bawakan makanan untuk Ayah dan Kakek!” teriak Tamira dari dapur yang melihat kemunculan putri cantiknya itu.

“Tidak mau, Bu. Aku mau pergi memancing di telaga!” sahut Walung sambil berlalu dan pergi lagi.

Tamira sudah bisa menerka apa yang terjadi dengan perasaan Walung. Itu tabiatnya jika suasana hatinya sedang kesal atau marah. Ujung-ujungnya pergi memancing di Telaga Bolong.

“Padahal kondisinya sedang tidak bagus,” ucap Tamira kepada dirinya sendiri, merujuk kepada kehebohan ledakan yang kemarin. Namun dia tidak terlalu mengkhawatirkan putrinya itu karena Walung sudah sering pergi sendiri memancing.

Jika sudah tidak ada anak yang bisa disuruh mengantarkan makan siang kepada Gegaba dan Sakuret, mau tidak mau Tamira yang nanti pergi.

Telaga Bolong berada di punggung Gunung Pekuk. Tidak besar atau luas, tetapi itu spot yang bagus untuk memancing.

Terbiasanya Walung memancing seorang diri atau bersama adiknya di telaga tersebut, membuatnya tidak takut meski sendiri atau suasana desa sedang dilanda kecemasan.

Tidak lupa Walung mencari keong darat alias bekicot untuk umpan agar mendapat ikan yang besar.

Seperti layaknya seorang pemancing profesional, Walung mencari spot yang kira-kira banyak ikannya dan dia punya tempat favorit sendiri.

Duduk di atas batu yang menjorok ke telaga yang berair bening. Walung bahkan sering bisa melihat pergerakan ikan di dalam air.

Jbur!

Di saat sedang asik-asiknya menunggu umpan kailnya didatangi ikan, tiba-tiba Walung dikejutkan oleh suara sesuatu yang besar jatuh ke dalam air telaga.

Jantung Walung serasa ingin copot dan urat lehernya seketika menegang. Dia sontak menengok ke kanan, ke arah sumber suara jatuh itu. Suara itu sangat identik jika orang melompat ke telaga atau benda besar sebesar manusia jatuh ke air.

Namun, pandangan Walung terhalang oleh rimbunnya dedaunan pohon yang tumbuh menjorok di sisi kanannya. Meski tidak bisa melihat langsung, ia bisa melihat ada riak gelombang kecil yang sampai mendekat ke posisinya.

Kini jantung Walung berdegup kencang dan ia tetap mode tegang. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar