Akhirnya hari itu berlalu tanpa ada peristiwa yang membahayakan bagi seorang pun warga Desa Peyek. Meski demikian, tema dua suara ledakan di atas Gunung Pekuk sering dibahas di dalam permbincangan antara siapa dan siapa. Salah satunya antara Sakuret dan ayahnya, Gegaba.
“Benar
kataku, Gunung Pekuk tidak akan meletus karena dia gunung mati, tidak hidup,”
kata Gegaba yang di malam menuju tengah itu dia berbaring di dipan berbantalkan
potongan kayu yang dibalut kain dengan tebal. Dia gelap-gelapan jauh dari
cahaya dian.
Dian ada di
dipan yang lain, dipakai oleh si Walung Gigil yang cantik dan ibunya yang
bernama Tamira. Tamira juga cantik karena dialah yang mewariskan kecantikannya
kepada Walung.
Mereka
berdua sedang bekerja menelanjangi kacang dari pakaian dalamnya di atas tampi
bambu. Di dekat mereka ada juga empat bakul kacang. Dua bakul yang sudah bugil
dan dua bakul yang masih berselaput.
Di dipan
yang sama, ada seorang anak lelaki yang tidur tengkurap, tapi satu tangannya
iseng dijulurkan ke pinggiran tampi. Sebenarnya anak usia dua belas tahun itu
belum tidur. Dia adik Walung yang bernama Klimot.
Klimot
belum suka membantu pekerjaan orangtua atau kakeknya. Dia masih doyan bermain
dengan teman-teman sebayanya.
“Tapi tetap
saja suara keras itu membuat resah warga sedesa, Ayah,” timpal Sakuret yang
duduk berjongkok di ambang pintu rumah yang pintunya sengaja dibuka. Dia juga
jauh dari cahaya dian. Satu tangannya memegangi gelas bambu berisi kopi yang
sehitam kegelapan malam di luar rumah.
“Peteng
Suro juga lucu. Dia yang menyuruh warga tidak panik, tetapi dia sendiri panik.
Hehehe!” kata Gegaba lagi merujuk pada Kepala Desa Peyek. Dia menertawakan.
“Semua warga desa itu penakut, baru mendengar suara seperti itu sudah menyangka
Gunung Pekuk mau meletus. Padahal dari Ayah kecil, gunung itu tidak pernah
meletus. Mana ada yang berani melihat ke atas walaupun diberi upah besar?”
“Memangnya
Ayah berani naik ke atas?” tanya Sakuret dengan nada menantang karena kesal
dengan ayahnya yang sok paling berani dan paling tahu tentang Gunung Pekuk.
“Kau
meremehkan ayahmu ini. Sudah tidak terhitung berapa kali Ayah naik ke puncak
Gunung Pekuk, mandi di Telaga Bolong, atau bermalam demi memandang kecantikan
matahari terbit dari Kawah Peteng. Tapi kalau sekarang, untuk apa naik ke atas?
Aku lebih panik jika pekerjaanku menggarap tanah sawah Ki Petonggo tidak
selesai sesuai rencana. Besok aku harus bekerja lebih karena hari ini mandek
setengah hari kerja,” kata Gegaba.
“Padahal
Juragan Sugarap memberi bayaran mahal kepada orang yang mau naik ke atas gunung
untuk mencari tahu apa yang terjadi,” kata Sakuret.
“Ah, yang
benar kau, Sakuret? Aku tidak mendengar tentang itu tadi sore,” kata Gegaba sambil
mengangkat kepalanya lepas dari bantal. Dia memandang serius ke pintu, menatap
punggung telanjang putranya.
“Aku dan
warga mendengar langsung dari Juragan Sugarap. Ayah saja yang buru-buru
pulang,” tandas Sakuret.
“Haaa!”
Gegaba menghempaskan napas masygul. Dia kembali menurunkan kepalanya ke bantal.
“Sayang sekali, aku tidak mungkin melepas pekerjaan di sawah. Nanti aku justru
tidak dipercaya lagi oleh orang-orang yang butuh tenagaku.”
“Lihat saja
besok, siapa-siapa saja yang berani naik ke puncak,” kata Sakuret lalu
menyeruput kopinya yang sudah dingin.
Tamira,
Walung Gigil dan Klimot hanya mendengar percakapan kedua lelaki dewasa itu.
Pada akhirnya percakapan ayah dan anak itu terhenti sendiri karena yang paling
tua telah terdengar mendengkur.
Keesokan
paginya, Walung memiliki agenda sendiri yang sudah dia rencanakan sejak
kemarin.
Dia
berlari-lari kecil melewati jalan desa dan permukiman warga. Akhirnya gadis
cantik itu berhenti di bawah pohon.
Pandangannya
terfokus ke arah sebuah rumah besar dan berhalaman luas. Pagar halaman rumahnya
terbuat dari bambu weling yang berwarna hitam kehitam-hitaman dengan bagian
simpul batangnya berwarna merah-kemerahan, sehingga memberi corak yang unik dan
menarik.
Saat itu, ada
sekitar sepuluh pedati kuda bergerak keluar dari halaman rumah milik Juragan
Sugarap Bondo. Pedati-pedati itu mengangkut tumpukan bambu weling yang banyak.
Rombongan
itu juga dikawal oleh orang-orang berkuda dan sekelompok lelaki bersenjatakan
golok dan tombak yang berjalan kaki.
Di teras
rumah, tampak Juragan Sugarap Bondo yang berperut gendut dan berkumis tebal
masih berdiri bersama istrinya, memandangi kepergian kafilah dagangnya. Kafilah
itu dipimpin langsung oleh adik dan putra Juragan Sugarap.
“Lihat, di
sana ada Walung,” kata istri Juragan kepada suaminya. Istri Juragan yang
berpenampilan banyak perhiasan emas itu bernama Beningan. Dia memang seorang
wanita yang berkulit terang dan terkesan bening. Maklum Nyonya Juragan.
Juragan Sugarap
melirik sebentar ke pohon di luar sana.
“Biarkan
saja. Nanti akan kecewa sendiri,” kata Juragan Sugarap menanggapi istrinya. “Di
Kadipaten ini banyak gadis-gadis cantik yang lebih jelas masa depannya. Kau mau
putramu beristrikan wanita miskin yang masa depannya tidak jauh dari menggarap
tanah orang?”
“Tentu aku
memilih gadis seperti putri Kepala Desa atau putri Gusti Adipati yang
derajatnya lebih tinggi dan mulia,” jawab Beningan.
Karena
tidak sempat bertemu dengan kekasihnya yang bernama Baden Ronto, Walung
akhirnya memutuskan segera pergi untuk pulang. Wajah cantiknya merengut
menunjukkan suasana hati yang tidak nyaman.
“Panggil
orang-orang yang mau naik ke gunung!” perintah Juragan Sugarap Bondo kepada pembantunya.
“Baik,
Juragan.”
Seorang
lelaki tanpa baju segera berlari pergi untuk memanggil orang-orang yang sejak
tadi menunggu untuk bertemu dengan Juragan Sugarap.
Ternyata, Walung
pulang ke rumah hanya untuk mengambil kail.
“Nak, nanti
siang bawakan makanan untuk Ayah dan Kakek!” teriak Tamira dari dapur yang
melihat kemunculan putri cantiknya itu.
“Tidak mau,
Bu. Aku mau pergi memancing di telaga!” sahut Walung sambil berlalu dan pergi
lagi.
Tamira
sudah bisa menerka apa yang terjadi dengan perasaan Walung. Itu tabiatnya jika
suasana hatinya sedang kesal atau marah. Ujung-ujungnya pergi memancing di Telaga
Bolong.
“Padahal kondisinya
sedang tidak bagus,” ucap Tamira kepada dirinya sendiri, merujuk kepada kehebohan
ledakan yang kemarin. Namun dia tidak terlalu mengkhawatirkan putrinya itu karena
Walung sudah sering pergi sendiri memancing.
Jika sudah
tidak ada anak yang bisa disuruh mengantarkan makan siang kepada Gegaba dan
Sakuret, mau tidak mau Tamira yang nanti pergi.
Telaga
Bolong berada di punggung Gunung Pekuk. Tidak besar atau luas, tetapi itu spot
yang bagus untuk memancing.
Terbiasanya
Walung memancing seorang diri atau bersama adiknya di telaga tersebut, membuatnya
tidak takut meski sendiri atau suasana desa sedang dilanda kecemasan.
Tidak lupa
Walung mencari keong darat alias bekicot untuk umpan agar mendapat ikan yang
besar.
Seperti
layaknya seorang pemancing profesional, Walung mencari spot yang kira-kira
banyak ikannya dan dia punya tempat favorit sendiri.
Duduk di
atas batu yang menjorok ke telaga yang berair bening. Walung bahkan sering bisa
melihat pergerakan ikan di dalam air.
Jbur!
Di saat
sedang asik-asiknya menunggu umpan kailnya didatangi ikan, tiba-tiba Walung
dikejutkan oleh suara sesuatu yang besar jatuh ke dalam air telaga.
Jantung
Walung serasa ingin copot dan urat lehernya seketika menegang. Dia sontak
menengok ke kanan, ke arah sumber suara jatuh itu. Suara itu sangat identik
jika orang melompat ke telaga atau benda besar sebesar manusia jatuh ke air.
Namun,
pandangan Walung terhalang oleh rimbunnya dedaunan pohon yang tumbuh menjorok
di sisi kanannya. Meski tidak bisa melihat langsung, ia bisa melihat ada riak
gelombang kecil yang sampai mendekat ke posisinya.
Kini
jantung Walung berdegup kencang dan ia tetap mode tegang. (RH)

.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar