*Harzai by Rudi Hendrik*
Setelah izin
kepada guru kelasnya, Lidya bergegas ke toilet sekolah khusus untuk siswi.
Sesuatu yang tidak normal dialami oleh tubuh Lidya. Tangan kirinya memegangi
perut, sedangkan tangan kanannya membekap mulutnya sendiri, seolah menahan
sesuatu yang hendak termuntahkan. Wajah bersihnya memerah.
Seorang guru
lelaki yang tidak begitu Lidya kenal sempat berpapasan di tikungan. Guru itu
hanya memerhatikan dengan curiga hingga Lidya hilang di balik tembok. Karena
kurang mengenalnya, sang guru pun berlalu pergi.
Di toilet,
Lidya hanya bertemu dengan seorang siswi dari kelas lain. Lidya langsung masuk
ke salah satu kamar yang ada.
“Hoekh!”
Terdengar
suara muntah dari dalam.
Yayasan Karya
Nusa adalah sekolah besar dengan jumlah murid terbanyak di Indonesia. Sekolah
ini harus menyediakan delapan unit blok toilet. Tiga blok untuk siswa, tiga
blok untuk siswi, satu blok untuk guru pria dan satu blok untuk guru wanita.
Masing-masing blok menyediakan enam kamar.
Lidya adalah
siswi kelas 11B. Sosoknya yang bersih dan cantik serta supel, memposisikan
dirinya sebagai primadonanya kelas 11B. Tingkat kecerdasannya mampu bersaing
dalam lima besar di kelasnya. Kesupelannya dalam bergaul, membuatnya jadi
target pemburu cinta belia, baik siswa setingkat kelas 11 atau pun kakak
kelasnya.
Dari sekian
banyaknya pria yang mendaftar kepadanya, Lidya akhirnya menjatuhkan pilihan
kepada Alvin Nugraha, kakak kelasnya di 12C. Alvin adalah pemuda tampan yang
jadi rebutan para siswi, putra pengusaha mebel. Tunggangannya adalah Toyota
Corolla Altis keluaran 2017 warna biru.
Kembali ke
kamar toilet.
Hanya cairan
bening dan kental yang keluar dari muntahan Lidya yang beberapa kali. Parasnya
memerah dan sepasang matanya merah berair. Disiramnya closet tempat
muntahannya terbuang. Rasa mualnya mulai berkurang. Dikeluarkannya tisu dari
saku rok abu-abunya guna membersihkan wajah cantiknya.
Tiba-tiba
suara lagu dari Shakira yang berjudul Waka Waka, lagu Piala Dunia 2010 di
Afrika, terdengar memenuhi ruang sempit itu. Lidya segera merogoh sakunya,
tempat ia mengantongi ponselnya. Ia segera melihat siapa yang telah
meneleponnya. Oh, rupanya Alvin, sang kekasih. Hari itu Alvin memang tidak
masuk sekolah.
“Hallo, Vin?”
sapa Lidya lemah.
“Lid, saya
Beno!” seru suara lelaki di dalam ponsel.
Beno? Oh ya,
Lidya kenal Beno, siswa dari SMA Harapan Bangsa, salah satu sahabat kental
Alvin.
“Ada apa,
Ben? Kenapa hp Alvin kamu yang pegang?” tanya Lidya.
“Sorry, Lid,”
ucap Beno bernada gugup dan agak panik.
Nada itu
membuat Lidya curiga.
“Memangnya
kenapa?” tanya Lidya dengan nada naik satu oktaf.
“Sebenarnya
berat bagi saya menyampaikan ke kamu, Lid. Tapi, kamu harus tahu tentang ....”
“Memangnya
ada apa? Alvin kenapa, Ben?” tanya Lidya mendesak Beno untuk cepat bicara
langsung ke permasalahan.
Seketika itu
pula terlintas hal-hal buruk di dalam benak Lidya tentang Alvin.
Kekhawatirannya muncul, membuatnya mulai panik. Sementara di ujung telepon,
Beno terdengar kian gugup, seolah ia juga kebingungan untuk bicara tepat.
“Iya, Lid.
Ini tentang Alvin,” kata Beno lagi.
“Alvin
ditangkap?” terka Lidya akhirnya. Wajahnya benar-benar memucat. Air matanya
yang tadi surut, kini meluap kembali dan bertahan di tepian lingkar matanya,
seolah ragu untuk terjun meluncur ke pipi halusnya.
Lidya sangat
kenal dengan Alvin. Ketika terakhir ia meneleponnya, Alvin sedang “musyawarah
di atas awan” bersama sahabat-sahabat seperjuangannya di rumah Aldi alias
Tompel. Lidya mengerti maksud kalimat “musyawarah di atas awan”.
“Alvin tidak
tertangkap, kok,” jawab Beno.
“Dia main
sama perempuan lain?” terka Lidya lagi.
“Tapi, Alvin
mati ditembak polisi,” jawab Beno pada akhirnya.
Jlegarr!
Petir
langsung menyambar di atas kepala Lidya. Apa-apa yang ada di dalam otaknya
seketika semuanya terbanting hancur ke lantai WC. Darahnya berhenti mengalir
dan pipa pernapasannya pun tersumbat. Rongga dadanya serasa tertindih
reruntuhan beton.
Kaki Lidya
seketika gontai. Punggungnya terhempas ke dinding lalu tubuhnya jatuh tersurut
turun. Bibir indahnya hanya bisa bergetar, memberi irama kehancuran jiwa yang
dahsyat dan kejam. Pandangannya pun menembus tembok menatap kegelapan arah.
Hatinya hancur terjun bebas ke jurang dan hancur lumat di dasarnya.
Ponsel yang
masih terpegang di tangan kanan, sudah tidak lagi menempel di telinga.
Samar-samar masih terdengar suara Beno berbicara menjelaskan apa yang terjadi
terhadap Alvin.
“Waktu
digerebek, Alvin melawan polisi pakai golok, jadi ditembak ....”
Namun, suara
Beno bagi Lidya, sudah tidak terdengar.
Prak!
Ponsel itu
akhirnya dilempar kuat ke dinding lalu jatuh tepat ke dalam
lubang closet yang menganga terbuka. Tangis Lidya pun tumpah ruah.
Beramai-ramailah air bening itu melompat terjun bebas di kedua pipi Lidya.
Sempurna
sudah masalah yang diterima Lidya. Otaknya pun telah buntu untuk mencari
solusi. Hatinya telah kosong, karena isinya telah terkuras bersama tumpahnya
air mata.
Hancur hati
dan hidup Lidya. Satu tiang harapan yang menopangnya, akhirnya runtuh diguncang
gempa takdir. Lidya telah terhimpit di sudut kehancuran, jauh di dasar
kekelaman. Ia tidak bisa keluar.
Namun, di
dalam kebutaan hati, jiwa, pikiran dan mata Lidya, ia kemudian melihat satu
cahaya dari satu jalan. Dan ketika ia sadar akan satu jalan itu, maka Lidya
langsung bangkit membuka pintu toilet kemudian berlari ke luar. Ia terus
berlari membawa tangis, berlari naik dan terus naik, hingga akhirnya tiba di rooftop
gedung sekolah yang rata tanpa atap. (RH)
Bersambung ke: Satu Jalan, Bab2 Harzai by Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar