*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Bab sebelumnya: PKK 23: Mencari Campani
Benar-benar acara makan yang bernuansa penuh kekeluargaan. Acara makan itu berlangsung cair dan menyatu dalam canda, meski ada majikan, pendekar, gadis cantik, pengawal, rampok, hingga pelakor.
Mau tidak mau, Blikik harus tambah porsi demi menemani
Nyai Demang, Campani dan Ageng yang bergabung agak telat. Jika Rugi Sabuntel,
memang porsinya bisa tiga.
Hanya Bendong dan Citayam yang tidak tambah porsi.
Sepertinya mereka jodoh. Namun, sebagai calon suami Citayam, Blikik tidak
pernah berpikir itu.
“Rugi, Blikik saja berani ambil dua. Kau sendiri kapan
mau menikah?” tanya Bendong sengaja membuat ulah.
Terkejut Blikik mendengar perkataan Bendong yang
tiba-tiba. Terkejut pula Rugi Sabuntel ditanya seperti itu ketika tiga wanita
cantik yang menggoda hatinya sedang berkumpul satu meja. Rugi dan Blikik kompak
mendelik kepada Bendong yang hanya tersenyum pelit.
“Iya, Rugi. Bendong benar. Apakah kau sudah punya
calon untuk kau nikahi?” kata Nyai Demang antusias. Dia sangat penasaran ingin
tahu. Jiwa keponya selalu tidak tenang jika rasa penasarannya sudah muncul.
Campani dan Ageng tetap tenang dengan makanannya,
reaksinya kalem, kontras dengan Nyai Demang. Namun, di dalam hati Campani dan
Ageng sangat ingin tahu juga siapa wanita bakal calon istri Rugi.
Blikik untuk sementara merasa tenang, karena tidak ada
yang menanyakan tentang “ambil dua”.
“Mungkin aku sudah pantas menikah. Namun, aku harus
menyempurnakan berguruku dengan Ki Robek lebih dulu. Jadi, aku belum memikirkan
untuk menikah, apalagi mencari calon pengantinnya. Hehehe!” jawab Rugi Sabuntel
malu-malu lalu tertawa cengengesan.
Jawaban itu melegakan Nyai Demang, Campani dan Ageng.
“Setidaknya kau sudah bisa memilih siapa yang nanti ketika
bergurumu sudah sempurna, bisa langsung kau nikahi. Sebab, menjalin kedekatan
itu diperlukan waktu yang panjang,” kata Bendong lagi. Dia menjadi penyulut.
“Benar kata Bendong. Pasti kau sudah menyukai seorang
wanita,” kata Nyai Demang.
“Aku sangat mengenal watak Rugi, Nyai. Dia itu sangat
mengerti tentang wanita cantik. Aku sangat yakin, wanita yang akan dinikahinya
nanti adalah wanita yang sangat cantik. Setidak-tidaknya dia akan membandingkan
dengan kecantikan Nyai Demang, atau kecantikan Campani. Setidak-tidaknya sebanding
dengan Pendekar Ageng,” kata Blikik pula, ikut menyudutkan Rugi di depan ketiga
wanita cantik itu, kecuali Citayam.
Rugi Sabuntel hanya melirik jutek kepada Blikik.
“Apakah kau malu untuk mengungkapkannya, Rugi?” tanya
Nyai Demang.
“Se-sebenarnya ... me-memang seperti itu, Nyai,” jawab
Rugi Sabuntel mendadak gagap.
“Tapi, kapan-kapan kau harus membisiki aku siapa
wanita itu, Rugi,” kata Nyai Demang dengan senyum dan tatapan menggoda.
“Iya, Nyai,” ucap Rugi Sabuntel patuh sembari balas
tersenyum kikuk.
“Kakang, maksud dari Kakang berani ambil dua itu apa?”
tanya Citayam tiba-tiba kepada Blikik.
“Hahaha!” tawa terbahak Rugi Sbuntel dan Bendong
tiba-tiba, membuat yang lainnya jadi kerutkan kening.
Keempat wanita cantik itu jadi penasaran dan ingin
tahu apa yang dimaksud “berani ambil dua” oleh Blikik.
Seketika Blikik jadi salah tingkah dan agak tidak
tenang. Kini dia tersudut gegara Bendong.
“Anu, Citayam. Hehehe! Kalau Rugi berani tiga kali
tambah, kalau aku berani dua kali tambah. Hahaha!” kata Blikik kak kik kuk
cengengesan, lalu tertawa lebih kencang untuk menyamarkan kebohongan dan
ketersudutannya.
“Hahaha!” tawa datar Bendong mendengar jawaban Blikik,
seolah-olah dia puas membuat sahabatnya itu panik di depan selingkuhannya.
“Rugi, Rugi!” panggil Blikik seperti ada hal penting
yang ingin ia sampaikan. Lalu tanyanya untuk mengalihkan topik utama, “Nanti
pada putaran kedua, kau akan melawan siapa lagi?”
“Aku tidak tahu,” jawab Rugi Sabuntel.
“Kau tahu, Ageng?” Nyai Demang bertanya kepada Ageng
sebagai petugas yang mencatat hasil pertandingan.
“I-iya, Nyai,” jawab Ageng agak tergagap karena
terkejut. Sebab, sejak tadi dia makan dengan kusyuk dan tenggelam dalam
penyimakan saja. “Pendekar Rugi akan berhadapan dengan Ki Kumis.”
“Hmm!” gumam Rugi Sabuntel sambil manggut-manggut
mendengar nama calon lawannya.
“Kau bisa mengalahkannya, Rugi?” tanya Nyai Demang.
“Tenang saja, Nyai. Kalau Nyai Demang yang minta aku
menang, pasti aku akan menang. Hahaha!” jawab Rugi Sabuntel seperempat
menggombal.
“Ehhem!” dehem Bendong tiba-tiba, membuat yang lain
beralih memandang kepadanya, terutama Rugi dan Nyai Demang.
Dengan cueknya Bendong meneguk minumannya, terkesan
bahwa dia benar-benar memiliki masalah tenggorokan.
“Tapi, Rugi ... dari semua peserta, apakah ada lawan
yang kau anggap akan sulit kau kalahkan?” tanya Nyai Demang lagi.
“Banyak lawan berat, Nyai. Aku tidak boleh meremehkan
mereka, sebab beberapa dari mereka aku tidak ketahui kesaktiannya seperti apa,”
jawab Rugi Sabuntel bijak.
“Kau tahu, aku dan Campani sangat menjagokanmu untuk
menang,” ujar Nyai Demang sembari tersenyum, tanpa sadar bahwa ada beberapa
kulit cabai merah di giginya.
Perkataan sang ibu membuat Campani tersenyum malu-malu.
Sementara Ageng hanya mencuri-curi pandang melihat reaksi kedua majikan
perempuannya itu.
“Terima kasih, Nyai. Sebagai tukang panggul jagung
Nyai Demang, tentunya aku tidak akan mau membuat Nyai Demang kecewa,” kata Rugi
Sabuntel. Lalu katanya kepada Ageng, “Bukankah demikian, Ageng?”
“Uhhuk uhhuk!” Terbatuk Ageng ditanya demikian oleh
Rugi Sabuntel. Dia buru-buru membekap mulutnya dan menghadapkan wajahnya ke
samping.
“Hahaha!” tawa Blikik melihat reaksi Ageng.
“Kalau makan jangan melamun, Ageng,” kata Nyai Demang.
“I-iya, Nyai,” ucap Ageng.
“Atau jangan-jangan kau jatuh hati kepada seseorang?”
tukas Nyai Demang, lalu memandang kepada Bendong.
“Ti-ti-tidak, Nyai. Tidaaaak!” jawab Ageng jadi
gelagapan, tapi wajahnya menyemu merah.
“Kenapa Nyai memandangku?” tanya Bendong kepada Nyai
Demang. Sebagai orang yang tidak memiliki ikatan antara majikan dan buruh, dia
lebih berani bicara kepada Nyai Demang.
“Karena aku curiga kepadamu sebagai orang yang ditaksir
oleh Ageng. Hihihi!” jawab Nyai Demang lalu tertawa.
“Aku tahu, Nyai. Aku tahu siapa lelaki pujaan Ageng,”
kata Blikik ingin bikin rusuh, karena perkataannya sukses membuat Rugi Sabuntel
dan Ageng mendelik samar kepadanya.
“Siapa, Kakang Blikik?” justru Campani yang terlihat
sangat ingin tahu.
“Hahaha!” tawa Blikik dengan wajah menengok kepada
Rugi yang ada di sampingnya. Namun, tiba-tiba.... “Ak!”
Blikik menjerit tertahan karena kakinya tiba-tiba merasakan
panas sebentar, seperti disenggol bara rokok. Rupanya Rugi Sabuntel menyenggol
kaki Blikik di bawah meja makan berkaki pendek itu dengan colekan jarinya. Itu
bukan senggolan biasa, tapi senggolan yang sedikit menggunakan ilmu Telapak
Lahar.
“Kenapa, Kakang?” tanya Citayam terkejut, khawatir calon
suaminya kenapa-kenapa.
“Ti-tidak. Urat kakiku tiba-tiba tertarik,” jawab
Blikik berdusta.
“Sepertinya kau butuh bantuanku, Blikik,” kata Rugi
Sabuntel sambil bergerak hendak bangkit.
“Tidak usah, Rugi!” pekik Blikik cepat. “Aku tahu kau
bisa mengatasi masalahku, tetapi aku ngeri jika kau yang mengurut, tenagamu
lebih kuat dari kaki kerbau. Nanti biar Citayam saja yang memijat-mijatku.”
“Hihihi!” Tertawalah kaum wanita itu.
Rugi pun kembali duduk.
Seorang prajurit kademangan muncul mendatangi tempat
mereka makan.
“Maaf, Gusti Nyai!” ucap prajurit itu sembari
menghormat kepada Nyai Demang.
“Ada apa, Prajurit?” tanya Nyai Demang.
“Gusti Demang mencari Gusti Nyai,” jawab si prajurit.
“Sampaikan kepada Gusti Demang, sebentar lagi aku
kembali,” kata Nyai Demang.
“Baik, Gusti Nyai.” (RH)


0 komentar:
Posting Komentar