*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Bab sebelumnya: Berani Ambil Dua
Putaran kedua Duel Pendekar Butogilo dimulai. Untuk
kedua kalinya para pendekar itu menunjukkan kehebatannya untuk mengalahkan
lawan. Ada yang mengalahkan lawannya dengan kesantaian dan ketenangan, ada pula
yang dengan ekpresi berlebihan, dan ada pula yang menang dengan penuh
perjuangan.
Penuh perjuangan di sini seperti ketika dia dipastikan
akan kalah, justru bisa membalikkan keadaan dan menjadi menang. Atau, dia
menang dengan berkorban darah, gigi, hingga air mata.
Ada sebanyak delapan pendekar yang menang dan delapan
yang gugur, baik itu gugur hanya sekedar kalah, atau gugur sampai mati
sungguhan. Membunuh dalam pertandingan ini bukanlah suatu tindakan yang
dianggap kriminal.
“Pendekar Gendut Budiman melawan Ki Kumiiis!” teriak
Takar Talas memanggil peserta tarung berikutnya.
“Gendut! Gendut! Gendut!” teriak para penonton
pendukung Rugi Sabuntel yang semakin banyak.
Penampilan Rugi Sabuntel yang keren di putaran
pertama, menarik hati banyak penonton. Namun, sayangnya, yang tertarik lebih
banyak kau batangan, sejenis dan satu spesies dengan Rugi.
Buruknya para penggemar, mereka lebih suka
mengelu-elukan jagonya dengan sebutan yang negatif. Seperti ketika
mengelu-elukan gelar Rugi Sabuntel, mereka lebih memilih dan suka meneriakkan
nama “Gendut” dibandingkan “Pendekar” atau “Budiman” yang lebih bagus.
Namun, Rugi Sabuntel sendiri tidak
mempermasalahkannya, lalu kenapa dipermasalahkan? Jangan dijawab!
“Kumis! Kumis! Kumis!” teriak para pendukung Ki Kumis.
Ki Kumis adalah pendekar berusia separuh baya bertubuh
kekar tapi agak pendek. Dia memelihara kumis melintang berujung runcing
memanjang, seperti kumis ikan pesut yang di-freezer-kan. Senjata
andalannya adalah cambuk.
Ctas! Ctas!
“Yeee!” sorak para pendukung Ki Kumis saat dua lecutan
cambuk terdengar nyaring.
Sambil melompat ke atas panggung berpapan, dia
mengelebatkan cambuknya di udara.
Jleg! Ctas!
“Yeee!” sorak penonton lagi saat Ki Kumis mendarat di
arena sambil kembali memperdengarkan satu lecutan.
“Rugi Sabuntel siap?” tanya juru panggung Takar Talas
sambil menunjuk Rugi Sabuntel yang tidak berbekal senjata.
“Siap!” jawab Rugi.
“Ki Kumis siap?” tanya Takar Talas sambil menunjuk Ki
Kumis.
“Siap!” jawab Ki Kumis.
“Mulai!” teriak Takar Talas sambil melesat mundur
meninggalkan arena.
“Hiaaat!” pekik Ki Kumis garang sambil maju miring,
tidak langsung ke arah Rugi Sabuntel, tetapi berniat mengitarinya, sambil
tangan kanannya melesatkan utas cambuknya.
Ctas!
“Yeee!” sorak pendukung Ki Kumis saat cambuk jagonya
itu mendera bahu kiri Rugi Sabuntel hinggga merobek kain baju pada bagian itu.
Namun, Rugi Sabuntel bergeming, bahkan dia memberi
senyum yang samar kepada Ki Kumis, membuat tukang kumis itu agak gusar. Senyum
samar Rugi seperti ledekan baginya.
“Ayo, Pendekar Gendut! Lawan! Rontokkan kumis Ki
Kumis!” teriak seorang pendukung Rugi Sabuntel yang geregetan melihat jagonya
diam saja dicambuk, bahkan Rugi tidak berbalik saat Ki Kumis memutarinya ke
sisi belakang. Padahal Rugi bukan kerbau pembajak laut.
“Ayo, Gendut! Ayo, Gendut!” teriak pendukung Rugi
Sabuntel, yang membuat para penonton lain senyum-senyum, bahkan ada yang
tertawa.
Melihat Rugi Sabuntel diam saja, tumbuh rasa cemas di
hati Nyai Demang, Campani dan Ageng.
Ctas!
Untuk kedua kalinya Ki Kumis mencambuk bahu kanan Rugi
dari belakang. Kali ini lebih keras dan lebih bertenaga dalam.
“Yeee!” sorak penonton lagi. Namun, kali ini yang
bersorak adalah pendukung Rugi Sabuntel. Mereka melihat Rugi berhasil menangkap
ujung cambuk yang mendarat ke dada pemuda gemuk itu.
Ki Kumis yang berada di belakang cepat menarik
cambuknya dengan tenaga dalam. Namun, Rugi Sabuntel yang memegang ujung cambuk
sambil membelakangi Ki Kumis, bergeming. Tenaga Rugi begitu kuat menahan ujung
cambuk itu.
Lalu Rugi berteriak kepada pendukungnya.
“Teriakkan yeee ooo!”
“Yeee ooo!” teriak para pendukung menirukan teriakan
Rugi Sabuntel.
Pada saat pendukungnya berteriak seperti itu, Rugi
Sabuntel tiba-tiba melompat ke depan sambil memutar balik tubuh besarnya.
Sementara tangannya yang memegang ujung cambuk ikut menarik dengan tenaga
gajah.
Ki Kumis yang sedang berusaha adu tarik dengan Rugi
Sabuntel terbetot terlompat mengikuti tarikan Rugi Sabuntel, sampai-sampai
tubuhnya meluncur ke arah Rugi.
Ki Kumis bukan pendekar kemarin sore. Meski tubuhnya
tertarik karena kalah tenaga, tetapi dia sudah mempersiapkan tangan kiri yang
mengepal dan berwarna kebiru-biruan serta berasap tipis.
Dak! Bdak!
Melihat Ki Kumis mendatanginya dengan tinju berbahaya,
Rugi Sabuntel cepat maju sambil memalangkan lengan besarnya seperti gaya
pegulat smack-smack.
Jangankan berhasil mendaratkan tinju panasnya, wajah
Ki Kumis justru lebih dulu mencium lengan kekar Rugi Sabuntel. Itu membuat Ki
Kumis terbanting ke belakang. Terdengar keras batok kepalanya menghantam lantai
arena.
“Yeee!” sorak para pendukung Rugi Sabuntel.
Nyai Demang, Campani dan Ageng pun tersenyum melihat
keunggulan Rugi Sabuntel.
“Rugiii! Aku mencintaimuuu!” teriak seorang wanita
kencang tiba-tiba dan penuh histeris. Dia menjulurkan tangannya ke arah Rugi
sambil berusaha menerobos rapatnya penonton lelaki.
Rugi Sabuntel sempat melirik ke sumber teriakan yang
terdengar jelas di telinganya.
Deg!
Tersentak jantung Rugi Sabuntel, sebab wanita yang
meneriakkan cinta kepadanya adalah wanita berusia separuh baya yang berpipi
jingga terang seperti jeruk karena bedaknya. Meski mengejutkan, tetapi Rugi
pada dasarnya baik hati dan tidak sombong karena kegendutannya. Jangankan
seorang penggemar, Mak Gendong saja yang lebih tua Rugi goda. Karakter itulah
yang membuat Rugi Sabuntel menyempatkan diri melambai tangan kepada wanita
berbedak menor itu.
“Hahaha!” tawa para penonton melihat teriakan yang
berbalas itu.
Bek bek!
Dalam kondisi sedikit lengah itu, Ki Kumis bangkit
dengan gerakan cepat lalu melompat menerjang dada Rugi Sabuntel.
Tendangan itu membuat Rugi terdorong mundur selangkah.
Sementara Ki Kumis terdorong balik, tapi bisa mendarat dengan baik.
Set! Blet!
Ki Kumis bergerak menyamping sambil merendahkan
tubuhnya dan melesatkan cambuknya lebih rendah. Cambuk itu membelit betis kiri
Rugi Sabuntel, lalu menghentaknya.
Terkejut Ki Kumis melihat upayanya untuk menjatuhkan
Rugi gagal. Kaki Rugi Sabuntel bergeming sekuat tiang listrik.
“Yeee!” sorak penonton pendukung Rugi.
“Teriak yeee...!” teriak Rugi Sabuntel sambil dia
melompat cepat gaya drum berputar di udara.
“Yeee ooo!” teriak para pendukung Rugi.
Bduk!
Bersamaan dengan sebutan “ooo”, tubuh Rugi Sabuntel
yang berputar cepat membentur tubuh depan Ki Kumis.
Terpental tubuh Ki Kumis ke arah luar arena. Dia
seperti ditabrak badan banteng yang melompat.
Bdak!
Namun, rupanya Ki Kumis masih beruntung. Tubuhnya yang
seharusnya terlempar ke luar arena, jadi tertahan oleh cambuk yang ia pegang
kuat. Ujung cambuk yang masih melilit di kaki Rugi, membantu Ki Kumis tertahan
dan jatuh berdebam di lantai pinggir arena.
“Yeee!” sorak pendukung Rugi Sabuntel kian ramai.
“Bangun, Kumis! Langsung hajar si gendut itu!” teriak
seorang pendukung Ki Kumis.
Teriakan itu membuat Ki Kumis tidak mau terlihat jadi
pecundang, sebab dia masih memiliki kesaktian.
Ki Kumis bangkit dengan melepas gagang cambuknya.
Kedua tangannya mengepal berwarna kebiru-biruan dan berasap tipis.
“Hiaaat!” teriak Ki Kumis keras dan panjang.
Tidak seperti biasanya, kali ini Rugi Sabuntel berlari
maju menyongsong kedatangan Ki Kumis.
Bdak
“Akh!” pekik Ki Kumis dengan tubuh yang terpental
seperti potongan kayu yang dilempar jauh agar dikejar anjing.
Ki Kumis hanya bisa terkejut karena Rugi yang maju kecepatannya
tinggi. Ki Kumis bahkan belum sempat menyerangkan kedua tinjunya, tapi perut
gendut Rugi Sabuntel sudah menabrak.
“Hahaha!” tawa para penonton melihat tubuh Ki Kumis
terpental jauh.
“Yeee ooo!” teriak para penonton sambil memandangi
tubuh Ki Kumis yang jatuh ke area tribun.
Brokr!
Bertepatan dengan teriakan “ooo”, tubuh Ki Kumis jatuh
di tribun yang mematahkan papan yang ditimpanya.
“Yeee! Hidup Pendekar Gendut! Hidup Pendekar Gendut!”
teriak para penonton bersorak menyambut kemenangan Rugi Sabuntel.
Dengan kemenangan itu, Rugi Sabuntel akan melaju ke
putaran berikutnya, yaitu babak perempat final besok pagi, tapi agak siangan.
(RH)
Bersambung ke: PKK 26: Empat Besar by Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar