*Rudi Adalah Cintaku (RAC)*
Semenjak Rudi Handrak belajar ilmu agama lebih dalam kepada Ustaz Barzanji, tentunya pola pikir dan cara pandangnya berubah. Dia pun dituntut untuk meninggalkan gaya hidup yang berbau maksiat hingga hal-hal yang masuk dalam kategori perbuatan sia-sia. Bersamaan dengan itu, dia cenderung kepada lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah dengan cara rajin beribadah secara bertahap.
Sudah pasti dia akan menerima asupan pencerahan bahwa
minuman beralkohol, baik memabukkan atau tidak, tetap hukumnya haram. Bahkan
susu beralkohol pun haram, meski itu susu, apalagi susu milik orang.
Demikian pula perkara hubungan dengan lawan jenis di
luar ikatan pernikahan. Batas-batasnya sangat jelas. Sebagai orang ganteng,
Rudi sengaja diberi porsi pemahaman yang lebih dalam oleh Ustaz Barzanji.
Rudi Handrak memang belum menjadi ustaz sekaliber
Ustaz Barzanji. Ibadah menonjolnya baru rajin salat lima waktu berjemaah di
masjid dan dia menjadi guru mengaji bagi anak-anak usia SD. Namun, Rudi pernah
melalui masa pertaubatan di mana dia pernah dua pekan lamanya menangis
terus-menerus di hadapan Allah, tidak lama setelah dia melewati masa kehilangan
mental dan akal.
Dan ketika dia melihat wajah Vina, gadis yang pernah
dia pacari seperti seorang istri selama lima tahun, langsung mengingatkannya
pada berbagai dosa-dosa mesumnya bersama gadis itu. Karena itulah, ucapan yang
pertama terlontar ketika melihat Vina adalah istighfar dan langsung pergi demi
menghilangkan memori yang sebenarnya tidak akan bisa raib.
Sebenarnya, kabar kedatangan Vina sudah Rudi dapat
tadi malam, tetapi dia berusaha abai. Ia telah menyimpulkan bahwa dirinya dan
Vina sudah tidak ada hubungan apa-apa.
Hingga sebelum pertemuan di dekat rumah Ustaz
Barzanji, Rudi tidak tahu seperti apa sosok Vina yang sekarang dan tidak tahu
bahwa sekarang dia telah bermobil mewah yang menunjukkan kemapanan.
Berkecamuklah pikiran Rudi setelah pertemuan dengan
Vina. Meski dia telah lari meninggalkan Vina, jelas-jelas bahwa bayangan
kebersamaan dengan Vina kembali terkenang-kenang. Kebersamaan dengan Vina
bukanlah kenangan horor, tetapi kenangan-kenangan indah meski itu versi setan.
Meski dia kini menjadi pemuda yang lebih dekat kepada
ibadah, tetapi Rudi Handrak tetaplah seorang lelaki yang punya rasa. Bahkan,
keperkasaannya terpancing untuk mengeraskan diri karena mengingat
kenangan-kenangan mesum itu.
Apesnya lagi, ketika Rudi sampai di halaman rumahnya, “Rudi
Kecil” belum juga mau tertidur atau setidaknya bersantai. Masalahnya, Bulan
Adinda sedang berbincang dengan Kamsiah di teras rumah.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Bulan sambil berdiri
dari duduknya dengan senyum manisnya yang semanis susu kental. Dia bahagia melihat
kedatangan Rudi Handrak.
“Mohon maaf, Bulan. Saya ke belakang dulu sebentar
ya,” izin Rudi yang tidak mau ketahuan. Dia juga tidak mau jika kenangan
mesumnya membuat ia berpikir mesum terhadap Bulan yang memang secantik purnama menari.
“Iya,” jawab Bulan.
Rudi buru-buru berlari menuju ke belakang lewat
samping.
“Kenapa Rudi?” tanya Kamsiah heran. Kini dia terlihat
lebih kurusan dibandingkan tiga tahun yang lalu.
“Mungkin mau buang air kecil, Bu,” jawab Bulan.
Sebenarnya bukan urusan kamar kecil, tetapi urusan Si
Kecil. Namun, bukan berarti Rudi Kecil juga kecil.
Nyatanya, Rudi hanya berdiri di pintu belakang. Ia
sedang menunggu miliknya rileks, sehingga ia tidak cemas ketika berhadapan
dengan Bulan.
“Ini gara-gara Vina,” pikir Rudi. “Eh, tidak baik
menyalahkan orang lain. Ini gara-gara otakku masih ada unsur keparatnya.
Hahaha!”
Tertawa pun Rudi di dalam hati, tetapi bibirnya
tersenyum sendiri.
“Pak Ustaz! Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya
Lastri yang memergoki Rudi tersenyum sendiri di pintu belakang. Lastri sedang
lewat di samping rumah kala itu yang dipisahkan oleh pagar.
Pertanyaan Lastri itu rupanya sampai di telinga
Kamsiah dan Bulan di teras. Keduanya jadi penasaran, tetapi hanya Kamsiah yang bergerak
keluar dari teras untuk melihat ke samping rumah.
“Enggak, Mbak. Hanya kepikiran,” jawab Rudi jadi
tersenyum malu. Dia lebih malu ketika melihat ibunya muncul di sebelah depan.
Sebelum Kamsiah bertanya, Lastri sudah berkata
menggoda.
“Senyum-senyum sendiri pasti lagi mikirin Neng Bulan
ya?”
Suara Lastri yang lumayan cempreng itu sampai dengan
jelas ke telinga Bulan, membuat gadis itu menahan senyum dengan hati yang
berbunga-bunga.
“Enggaaak!” sangkal Rudi.
“Iya, enggak salah! Hahaha!” tandas Lastri lalu
tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha!” Akhirnya Rudi dan Kamsiah ikut tertawa oleh
candaan tetangganya itu.
Meski itu hanya sekedar candaan, tapi cukup
menyudutkan Rudi dan cukup memberi asupan kebahagiaan bagi Bulan.
Lastri lalu pergi.
“Ayo, temui Nak Bulan. Dari tadi menunggu!” perinta
sang ibu.
“Iye, Daeng,” ucap Rudi.
Kini dengan enteng dia pergi ke depan untuk menemui tamu
cantiknya. Ternyata, godaan Mbak Lastri ampuh membuat Rudi Kecil istirahat
karena mengalihkan perhatian.
“Maaf, Bulan. Jadi lama menunggunya,” ucap Rudi yang
sudah normal kondisinya. Fokus kepada Bulan Adinda membuat dia pun lupa tentang
Vina.
“Daeng ke dalam dulu, ya?” izin Kamsiah.
“Iye, Daeng,” ucap Rudi.
“Iya, Bu,” ucap Bulan pula.
Kamsiah pun masuk ke dalam rumah.
“Diminum tehnya, Bulan,” kata Rudi.
“Iya, Bang,” ucap Bulan.
Hebatnya Rudi, perkataannya langsung dituruti oleh
Bulan. Gadis itu langsung menyeruput tehnya.
“Ada apa?” tanya Rudi.
“Ada saya,” jawab Bulan dengan mimik menggoda.
“Hahaha!” tertawalah mereka berdua.
“Saya bawa buku tulis untuk anak-anak yang mengaji,
lengkap sama buku gambar mewarnai dan pensil warnanya,” ujar Bulan.
“Oh, jazakallahu khairan. Semoga sedekahnya
berkah dan membuat Bulan tambah melimpah rezekinya dan mendapat suami yang
saleh,” doa Rudi.
“Aamiin!” ucap Bulan cukup kencang seraya
tersenyum lebar.
“Lalu barangnya di mana?” tanya Rudi.
“Di mobil. Sengaja belum diturunkan, biar Abang saja
yang angkat,” kata Bulan yang selalu tersenyum dan tertawa kecil. Itu karena
memang hatinya bahagia.
Bulan bangkit lebih dulu dari kursinya. Abang Ustaz mengikuti
di belakang. Namun, ketika Bulan menuruni tangga semen di teras, ….
“Ak!” pekik tertahan Bulan karena pijakan sepatu heels-nya
sedikit tergelincir. Ya, biar mirip adegan-adegan romantis di sinetron.
“Hati-hati!” ucap Rudi yang cekatan menyambar dan
menahan tangan kanan Bulan agar tidak jatuh.
“Terima kasih, Bang,” ucap Bulan lega, tapi sedikit
kecewa, kenapa tidak ditangkap badannya sekalian, lalu tatap-tatapan sampai basi.
Pada saat yang sama, keduanya merasakan setruman indah
yang menjalar hingga ke dalam hati. Meski terjadi karena insiden, tetapi
pegangan tangan itu sukses membuat keduanya malu-malu dalam bunga-bunga hati
yang musim mekarnya tidak bisa diprediksi.
Bagi Bulan, ini kedua kalinya dia bersentuhan tangan
dengan Rudi. Yang pertama kali terjadi ketika Aziz memperkenalkannya dengan
Rudi. Saat berkenalan, Rudi berstatus sebagai pemuda yang malang. Karena
itulah, Bunga menjadi gadis yang sangat bahagia menyaksikan perkembangan
positif Rudi.
“Maaf,” ucap Rudi sambil melepaskan tangan Bulan.
Bulan hanya tersenyum merona malu. Wajah putih
bersihnya membuat warna merah mudah muncul ketika dia merasakan tersipu malu.
Mereka tidak tahu bahwa adegan tersebut terpantau oleh
Vina yang berdiri berlindung di balik pohon kedondong. Dia memendam rasa
cemburu yang menggelitik hatinya.
“Kenapa, Di?” tanya Kamsiah yang muncul dari dalam.
“Hampir jatuh,” jawab Rudi.
“Apanya yang jatuh?” tanya Kamsiah lagi.
“Hatinya Bulan hampir jatuh. Hahaha!” jawab Rudi
berseloroh, lalu tertawa lebih dulu.
“Hahaha!” tawa kedua wanita itu kemudian.
“Bulan, makan siang di rumah Ibu ya?” tawar Kamsiah.
“Aduh, mohon maaf, Ibu. Bukannya saya menolak, tapi
sejam lagi saya ada rapat di kantor. Jadi sebentar lagi harus langsung
berangkat ke kantor lagi,” kata Bulan.
“Oooh, ya sudah, tidak apa-apa. Tapi, lain hari bisa
dong makan di rumah Ibu?” kata Kamsiah.
“Iya, Bu. Insyaallah. Kalau enggak, hari Minggu
saja, sekalian ajak makan keluarga Aziz sama Sandro, Kulsum,” kata Bulan.
“Deal!” kata Rudi agak kencang, langsung
setuju.
“Hahaha!” tertawalah ketiganya.
Sementara wanita di balik pohon semakin merengut. Dia menjadi
lebih kesal ketika ada semut yang menggigit pahanya. Sepertinya itu semut
lelaki. (RH)
Bersambung ke: Menunggu Rudi, Bab29 Rudi Adalah Cintaku by Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar