*Harzai*
Bab sebelumnya: Kekuatan Dho Gho
Taksi biru itu berhenti di depan sebuah rumah besar yang pintu gerbang halaman luasnya terbuka lebar. Di sisi kanan ada garasi dan pintu utama rumah. Di sisi kiri adalah kios martabak. Di atas kios terdapat tulisan besar “Martabak 1001 Rasa” dan tulisan lebih kecil berbunyi “melayani pesanan dan mengantar tepat waktu”. Tulisan itu juga dihiasi berbagai foto-foto nyata martabak yang terlihat lezat dengan berbagai rasa, seolah gambarnya sudah mewakili kelezatan rasanya.
Kios martabak itu berpenampilan
bersih. Ada dua juru masak yang keduanya lelaki. Satu orang wanita bagian
pengepakan, dua orang wanita bagian melayani pelanggan dan pemesanan, satu
orang wanita bagian kasir. Sebagaimana gambar yang dipamerkan di bagian atas
kios, warung martabak itu memang menyediakan martabak berbagai macam rasa dan
jenis, meskipun tidak sampai 1001 rasa.
Dari dalam taksi turunlah seorang
pemuda cukup tampan berpakaian rapi dengan kemeja biru lengan panjang. Pemuda
itu tidak lain adalah Afrizal, santri Ponpes Ash-Shiroth. Ia membawa tas
tenteng yang cukup besar berisi pakaian.
Afrizal langsung menuju ke kios
martabak. Pelayan cantik berseragam kuning langsung menyambut dengan senyum
manis dan pertanyaan.
“Mau pesan yang mana, Mas?” tanya
si gadis pelayan.
“Saya mau bertemu Pak Ringgo,
Mbak. Pak Ringgonya ada?” jawab Afrizal.
“Si mas ini siapa ya?” tanya si
gadis lagi.
“Saya Afrizal, keponakan Pak
Ringgo.”
“Tunggu, ya,” kata si gadis
pelayan, kemudian menghampiri temannya yang duduk di kursi kasir. Lalu katanya,
“Namanya Afrizal, mau bertemu Bos. Katanya keponakannya.”
Perempuan kasir yang juga
berseragam kuning itu segera mengangkat gagang telepon di meja. Ia hanya
menekan dua angka. Setelah menunggu sejenak, ia pun berbicara di telepon.
“Ada pemuda mengaku keponakan
Bapak. Namanya Afrizal, Pak,” lapor gadis kasir yang bernama Warsinah. Sejenak
ia diam mendengar. Lalu katanya lagi, “Baik, Pak.”
Warsinah meletakkan teleponnya.
“Ni, kata Bos, suruh tunggu di
teras,” kata Warsinah kepada temannya.
Pelayan cantik bernama Marni
segera kembali menemui Afrizal di sisi lain.
“Mas Afrizal diminta menunggu di
teras,” kata Marni lalu menunjuk ke arah garasi. Di sana memang ada teras
pendek, tempat pintu utama rumah berada.
“Terima kasih, Mbak.”
Afrizal pun beranjak pergi. Marni
segera beralih untuk melayani seorang pelanggan yang baru datang.
Setelah sosok Dho Gho kembali ke
wujud Afrizal, anak muda yang sudah tidak beribu dan bapak ini langsung
diringkus dan dilumpuhkan oleh Ustaz Kholil dan Ustaz Rusdi. Dengan sosok
normal, Afrizal tidak bisa melawan seperti sosok Dho Gho.
Afrizal harus menjalani hukuman
kurungan kamar selama sehari. Setelah disidang oleh Dewan Asatid, akhirnya
diputuskan untuk me-ruqyah Afrizal, karena pemuda itu dianggap mempelajari ilmu
sesat. Afrizal pun setuju untuk diterapi.
Di bawah pengawasan Pimpinan
Ponpes Ash-Shiroth K.H. Abdul Waro, Afrizal menjalani terapi ruqyah. Dalam
terapi itu, Afrizal dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Biasanya, orang-orang
yang memiliki ilmu-ilmu berunsur bantuan jin, akan merasakan satu reaksi tak
wajar di dalam tubuhnya saat mendengar bacaan Al-Qur’an, terutama surat dan
ayat-ayat khusus.
Setelah melakukan ruqyah hingga
bebeberapa jam, ternyata Afrizal tidak menunjukkan reaksi apa pun di dalam
dirinya. Bacaan ayat-ayat suci tidak membuatnya merasakan pusing, mual-mual
atau menjerit-jerit seperti orang kesurupan sebagaimana gejala yang biasa
ditunjukkan oleh pasien ruqyah. Hal itu seolah membuktikan bahwa dalam diri
Afrizal tidak terdapat ilmu hitam.
Akhirnya, K.H. Abdul Waro
memutuskan untuk mengusir Afrizal karena tetap dianggap mempelajari ilmu sesat
dan sangat berbahaya.
Tidak ada bapak, tidak ada ibu
lagi, Afrizal pun memutuskan pergi ke kediaman kerabat terdekat. Kerabat yang
terdekat posisinya dengan Ponpes Ash-Shiroth adalah pamannya, adik dari ibunya,
yaitu Ringgo Aditya.
Setelah menunggu tidak sampai
lima menit, pintu rumah dibuka dari dalam. Muncullah seorang lelaki berkulit
putih bersih berperawakan kurus dan memelihara kumis. Ia mengenakan T-Shirt
putih berkerah yang di bagian dadanya ada bordiran kepala kuda. Di pinggangnya
menempel dua sarang ponsel yang masing-masing ada isinya. Dialah Ringgo Aditya,
usianya 45 tahun.
“Assalamu ‘alaikum, Om!” salam
Afrizal yang langsung mengenali. Ia langsung menyalim tangan pamannya.
“Afrizal?” terka Ringgo
memastikan, karena sebelumnya ia sudah diberi tahu siapa tamunya yang datang.
“Iya, Om,” jawab Afrizal seraya
tersenyum dan mengangguk.
“Wah wah wah, sudah dewasa dan
ganteng,” puji Ringgo seraya tertawa kecil. “Ayo masuk!”
Ringgo mengajak Afrizal masuk ke
ruang tamu yang ber-AC. Ruang tamu itu cukup luas dengan berbagai perlengkapan
dan hiasan yang serba wah.
“Jangan sungkan, Zal. Anggap
rumah sendiri. Ayo duduk.”
Dari ruang dalam, muncul berlari
kecil seorang wanita berusia 37 tahun berkebaya kuning. Namanya Aniyah,
pembantu di rumah itu.
“Bi Iyah, bawakan tas Afrizal ke
kamar Edo. Bawakan minum!” perintah Ringgo kepada pembantunya.
“Baik, Pak.”
Aniyah lalu mengambil alih tas
Afrizal dan membawanya pergi.
“Kamu sedang libur?” tanya Ringgo
kepada Afrizal yang memandangi foto besar yang menempel di dinding ruangan.
“Tidak, Om. Saya diusir dari
pesantren....”
“Diusir?” kejut Ringgo.
“Iya. Saya difitnah mempelajari
ilmu hitam. Akhirnya saya ke mari. Mungkin Om bisa mendapatkan pekerjaan untuk
saya?” ujar Afrizal.
“Hal pekerjaan ada, tapi kamu
tidak memiliki ilmu hitam, kan?”
“Tidak, Om. Demi Allah.”
“Om juga yakin, kamu tidak
mungkin percaya hal-hal yang demikian. Kamu bisa naik motor?”
“Bisa.”
“Om kebetulan perlu kurir
tambahan untuk mengirimkan martabak-martabak pesanan khusus. Harus tepat waktu.
Tentunya di pesantren sangat ditekankan tentang kedisiplinan, jadi Om rasa kamu
bisa menjadi pengantar yang tepat waktu. Usaha martabak pesan kirim Om semakin
diminati dan terus berkembang. Sekarang saja Om punya empat cabang. Nanti Om
berikan hp yang bisa membantu kamu untuk mengirim paketnya. Dengan itu kamu
bisa dimudahkan dengan peta.”
“Terima kasih, Om, terima kasih!”
ucap Afrizal begitu senang.
Melihat Afrizal memandangi sebuah
foto besar lain di dinding, Ringgo pun berkata, “Itu Alice, anak kesayangan Om.
Nanti kamu akan sering bertemu dengannya, sebab kamarnya di depan kamar Edo
yang kamu tempati.”
Di foto besar itu, Ringgo berdiri
merangkul bahu seorang gadis cantik. Keduanya sama-sama tersenyum bahagia.
“Edo sendiri ke mana, Om?” tanya
Afrizal lagi. Ia hanya mengetahui bahwa pamannya itu memiliki putra yang lebih
tua darinya, yaitu Edo Ragia.
“Sudah dua tahun sekolah di
Australia.”
“Lalu Tante Lusy ke mana, Om? Kok
tidak muncul sejak tadi?” tanya Afrizal lagi.
Ringgo hanya tertawa kecil dan
santai. Lalu katanya dengan enteng, “Itu masa lalu, Zal. Om lebih ringan hati
sendiri membesarkan dua anak.”
Afrizal manggut-manggut tanda
paham. Dari dalam muncul Aniyah yang membawa minuman dan toples berisi kue
kering.
“Diminum, Zal!” suruh Ringgo usai Aniyah meletakkan bawaannya di meja depan Afrizal. “Besok pagi kamu mulai bekerja, tapi bukan di kios depan, melainkan di cabang dua.” (RH)
Bersambung ke: Bertemu Alice, Bab9 Harzai karya Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar