PKK27: Pengantin Tanpa Suami by Rudi Hendrik

Ilustrasi karakter Pengantin Tanpa Suami dalam novel Pendekar Keris Kembar karya Rudi Hendrik. (Gambar: Gemini)

*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Bab sebelumnya: Empat Besar

“Saudara-saudara sekalian. Empat pendekar masih bertahan. Luarrr biassa!” teriak Takar Talas keras membahana di atas panggung.

Masa istirahat telah berlalu. Pertandingan semifinal akan segera dimulai, tetapi belum diumumkan pendekar siapa lawan siapa.

“Kita panggil mereka. Sang juara bertahan yang belum terkalahkaaan, Pendekar Macaaan Langiiit!” teriak Takar Talas.

“Yeee!” sorak pendukung si juara bertahan.

Pendekar Macan Langit pun berjalan kalem naik ke panggung sambil angkat kedua tangannya yang berkuku besi besar-besar. Penonton begitu riuh menyambut naiknya sang juara bertahan.

“Selanjutnya. Pada pertandingan enam purnama lalu dia takluk oleh Pendekar Macan Langit, dan kini ingin membalas dendam di arena ini lagi dan bertekad jadi juara baru, dialaaah...!” teriak Takar Talas semakin berair-air.

“Satria! Tinju! Tanpa! Araaal! Yeee!” teriak para penonton meneriakkan penggalan per kata nama Satria Tinju Tanpa Aral.

“Ye ye ye ye!” teriak Satria Tinju Tanpa Aral melompat naik ke atas panggung dengan gagah.

Jleg! Bug bug bug!

Semendaratnya di panggung, dia menggebuk-gebuk dada besarnya sendiri.

“Macan Langit! Sebentar lagi kau akan aku balas!” teriak Satria Tinju Tanpa Aral sambil berjalan dan menunjuk wajah Pendekar Macan Langit.

Pendekar Macan Langit hanya berikan sunggingan senyum meremehkan.

“Selanjutnya kita panggil dua pendatang baru yang langsung melejit ke puncak pertandingan. Yang pertama. Pemuda asal Desa Buangsetan. Seorang pendekar hebat yang sederhana dan tidak malu bekerja sebagai kuli panggul di gudang jagung Gusti Demang, demi makan rezeki jujur. Meski berperut gendut, tetapi dia langsung jadi pujaan Emak Delima....”

Takar Talas menunjuk seorang penonton wanita separu baya berbedak warna kulit jeruk.

“Rugi Sabuntel! Aku mencintaimuuu! Aaa...!” teriak Emak Delima begitu kencang lagi genit, lalu menjerit histeris seperti fans maniak.

“Hahaha...!” tawa ramai para penonton melihat kegilaan janda muda itu. Maksudnya usia jandanya yang masih muda, bukan orangnya. Semoga bisa dipahami.

“Kita sambiiit...! Eh maaf, salah. Kita sambuuut...!”

“Hahaha!” Penonton bukannya menyebut nama, tetapi justru tertawa ramai mendengar dagelan Takar Talas.

“Kita sambuuut...!” teriak Takar Talas lagi mengulang.

“Pendekar! Gendut! Budimaaan!” teriak para penonton serentak, membuat atmosfer pertandingan itu kian meriah dan tegang.

“Rugi Gendut! Rugi Gendut! Rugi Gendut!” teriak para pendukung Rugi Sabuntel dengan nada yang asik, sambil kepalanya disorong ke kanan, disorong ke kiri bergantian.

“Hahaha! Yeee...!” tawa Rugi Sabuntel sambil melompat kecil naik ke atas panggung, kemudian berteriak mengomando penonton untuk berteriak juga.

“Yeee ooo!” teriak para penonton mengikuti teriakan Rugi Sabuntel, mirip senggakan lagu dangdut koplo.

Rugi pun melambaikan kedua tangan ke segala arah, menyapa secara umum, meski pandangannya tertuju ke wajah-wajah cantik tertentu, termasuk kepada Emak Delima yang tidak henti-hentinya kegirangan di antara desakan para penonton lelaki. Janda itu memang suka didesak-desak oleh para lelaki.

“Sayang sekali Nyi Unyu tidak datang,” ucap Rugi lirih kepada dirinya sendiri.

“Apakah Pendekar Gendut Budiman akan langsung menjadi juara? Nanti dulu! Pendekar Macan Langit dan Satria Tinju Tanpa Aral tidak seperti Si Ganteng Dari Langit, mereka berdua lebih berbahaya!” teriak Takar Talas.

“Tetap Rugi! Tetap Rugi! Tetap Rugi!” teriak para pendukung Rugi Sabuntel tanpa khawatir rugi.

“Selanjutnya. Pendatang baru kedua yang juga langsung melejit dengan kesaktian dan kecantikannya yang begitu memikat, sampai-sampai lawan-lawannya terbius keok-keok! Siapaaa?” teriak Takar Talas lagi.

“Pengantin! Tanpa! Suami!” teriak para penonton lebih terasa ramainya. Seolah-olah setiap lidah berteriak.

“Auuu!” teriak seorang penonton pendekar melolong seperti serigala.

“Auuu...!” Penonton pun latah ikut melolong, yang penting happy dan heboh.

Tiba-tiba di udara tinggi telah melayang sesosok wanita berpakaian merah terang, kemudian bergerak turun seperti segumpal kapas jatuh tanpa ada angin. Gadis cantik jelita itu tidak lain adalah Pengantin Tanpa Suami. Dia turun sambil mengipas-ngipas kipas merahnya dengan lembut pada area lehernya yang sebenarnya tidak gerah.

Jika kemarin dia berpakaian warna hijau muda, maka hari ini dengan warna merah terang.

“Waw! Cantiiik!” pekik para penonton batangan melihat cara datangnya Pengantin Tanpa Suami.

Dengan lembut gadis itu mendarat tidak jauh dari posisi Rugi Sabuntel, sampai-sampai si pemuda bisa mencium aroma wangi tubuh si pengantin. Entah anggota tubuh mana yang mengeluarkan aroma wangi? Tapi Rugi tidak penasaran untuk mencari tahu. Namun, ia segera teringat dengan Nyai Demang dan Nyi Unyu, yang pernah ia nikmati aroma tubuhnya. Jangan salah, aroma tubuhnya, lho. Bukan menikmati tubuhnya. Jangan salah paham!

“Langsung aku umumkan siapa yang akan melawan siapa! Juara bertahan Pendekar Macan Langit akan melawaaan...!” teriak Takar Talas.

Sebelum Takar Talas menyebut nama lawan Pendekar Macan Langit, Satria Tinju Tanpa Aral lebih dulu angkat tangan kanan tinggi-tinggi.

“Pengantin Tanpa Suamiii!” sebut Takar Talas kencang.

“Huh!” dengus Satria Tinju Tanpa Aral kesal sambil memukul udara kosong. Dia kecewa karena tidak langsung berhadapan dengan Pendekar Macan Langit.

“Yeee!” sorak penonton.

“Dengan demikian, berarti Satria Tinju Tanpa Aral akan berhadapan dengan Pendekar Gendut Budimaaan!” teriak Takar Talas lagi.

“Yeee!” sorak penonton yang sangat doyan bersorak.

“Jangan kalah dari perempuan ini, Macan Langit. Karena aku akan menghabisimu setelah menghabisi si gendut itu!” koar Satria Tinju Tanpa Aral kepada Pendekar Macan Langit, sambil menunjuk Pengantin Tanpa Suami dan Rugi Sabuntel.

“Aku ragu kau bisa mengalahkan Rugi Sabuntel,” sahut Pendekar Macan Langit sembari kembali memberi senyum meremehkan.

“Pertarungan pertama adalah, antara Pendekar Macan Langit melawan Pengantin Tanpa Suami!” teriak Takar Talas.

Maka Rugi Sabuntel dan Satria Tinju Tanpa Aral segera turun dari panggung, sementara Pendekar Macan Langit dan Pengantin Tanpa Suami bertahan di atas panggung. Mereka pun berhadapan, tanpaa niat berpelukan.

“Jika aku bisa mengalahkanmu, apakah kau akan memilih suami baru, Nisanak?” tanya Pendekar Macan Langit dengan tatapan tajam.

Pengantin Tanpa Suami tidak menjawab selain memberi senyum misteri. Namun, misteri itu segera ia kuak.

“Dengarkan semua!” seru Pengantin Tanpa Suami tiba-tiba dengan jenis suara setengah nge-bass. Suaranya mirip Anggun C Sasmi.

Seperti mendengar seorang ratu yang berbicara. Seketika hening. Tidak ada sorakan selain keterpukauan. Mereka ingin mendengar jelas apa yang akan disampaikan oleh gadis pendekar jelita itu.

“Siapa yang bisa mengalahkanku tanpa membunuhku, aku akan menikah dengannya!” seru Pengantin Tanpa Suami yang seketika mengejutkan sebagian besar penonton.

“Waaah!” teriak para penonton, entah merasa kecewa atau gembira.

“Menyesal aku tidak ikut bertanding kali ini!” ucap seorang pendekar separuh baya. Dia hanya jadi penikmat pertunjukan.

“Aduuuh! Sayangnya aku tidak bisa berkelahi, kecuali melawan istriku!” sesal penonton dari kalangan warga.

“Awas saja kalau dia mengalah saat melawan Rugi pujaanku!” desis Emak Delima.

“Perempuan bodoh!” maki pendekar wanita di kalangan penonton, tapi bukan Ageng.

“Gusti Demang, apa-apaan Pengantin Tanpa Suami itu?” kata Nyai Demang, mengadu kepada suaminya. Nyai Demang merasa tidak nyaman mendengar pengumuman itu.

“Tidak apa-apa. Itu tidak dilarang dalam pertandingan ini,” jawab Demang Segara Gara.

“Hahaha!” tawa datar Pendekar Macan Langit mendengar pengumuman Pengantin Tanpa Suami.

“Ada-ada saja Pengantin ini,” ucap Rugi Sabuntel pula, tapi di dalam hati. Namun, dia tersenyum sendiri. Entah apa yang berbicara di dalam pikirannya menyikapi pengumuman yang memberi peluang banyak lelaki itu. (RH)

Bersambung ke: PKK28: Macan vs Pengantin

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar