*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Bab sebelumnya: Pengantin Tanpa Suami
“Mulai!” teriak Takar Talas sambil melesat mundur meninggalkan panggung, tanpa pernah disebut dia mendarat di rumah siapa.
Pertarungan antara Pendekar Macan Langit dan Pengantin
Tanpa Suami pun dimulai, diiringi oleh teriakan-teriakan para penonton yang
lebih barbar dibandingkan petarungnya sendiri.
“Jangan terpedaya oleh kecantikannya, Macan! Cakar
saja sampai modar!” teriak Emak Delima yang tidak suka dengan kecantikan
Pengantin Tanpa Suami. Karena jika wanita cantik itu menang, nanti akan
mengancam Rugi Sabuntel, pendekar yang Emak Delima idolakan.
“Hei, Macan! Jika kau mau menjadikan dia istrimu,
jangan main cakar, main jilat saja! Hahaha!” teriak seorang pendukung Pendekar
Macan Langit lalu tertawa.
“Iya, pakai jurus peluk-peluk cium saja! Hahaha!”
sahut seorang kakek lalu tertawa geli sendiri, memperlihatkan gusinya yang
gundul tanpa gigi.
“Jangan kasih ampun meong kaki dua itu, Pengantin!”
teriak pendukung Pengantin Tanpa Suami.
“Jangan biarkan Macan Gunung itu mengalahkanmu,
Pengantin. Aku tidak rela di dalam kubur jika kau jadi istrinya!” teriak
seorang pemuda berhidung pesek terbuka.
Mengadopsi pepatah “biarlah kucing mengeong, tikus
tetap membuat lubang”, kedua petarung tetap fokus dalam bertarung tanpa
mengindahkan teriakan-teriakan para penonton.
Tidak pandang bahwa lawannya adalah wanita berwajah
cantik bertubuh indah, Pendekar Macan Langit tetap tidak sungkan-sungkan
menyerang dengan kuku-kuku besinya, tanpa takut akan merobek pakaian dan kulit
Pengantin Tanpa Suami.
Namun, Pengantin Tanpa Suami bukanlah pendekar wanita
yang kegenitan mau dapat suami dengan mudah, dia ingin mendapat suami dengan
susah payah. Karena itu, dia tidak mau mengalah dalam bertarung, tapi harus
dikalahkan.
Sret sret sret...!
Terbukti, Pengantin Tanpa Suami menangkal senjata
cakar besi Pendekar Macan Langit dengan senjata kipasnya yang antigores, mirip
senjata digital tempat orang main joget di negeri masa depan.
Awalnya Pendekar Macan Langit yakin bahwa dia akan
bisa menyentuh tubuh Pengantin dengan cakarannya. Namun pada faktanya, setelah
cukup lama mereka bertarung, tidak satu pun cakaran sang macan yang sukses
menjalankan misi. Semua cakarannya bisa dihindari oleh Pengantin dan ditangkis
dengan kipas.
Sampai-sampai ada penonton yang berteriak kesal
melihat kondisi pertarungan yang monoton.
“Pendekar Macan, jangan bermain-main! Jangan bersikap
sayang hanya karena dia perempuan cantik!” teriak seorang penonton yang kesal
melihat pertarungan yang membosankan.
“Kurang ajar!” desis Pendekar Macan Langit pelan.
Kupingnya panas mendengar kritikan penonton.
Akhirnya, Pendekar Macan Langit mengerahkan kecepatan
gerak maksimalnya, sehingga dia seperti orang yang membadak buta.
Sret! Sret! Crek!
Namun, sejak pertandingan pertama, Pengantin Tanpa
Suami sudah menunjukkan bahwa dirinya adalah pendekar yang memiliki kecepatan
tinggi.
Peningkatan kecepatan gerak Pendekar Macan Langit ke
tahap maksimalnya, tidak membuat Pengantin Tanpa Suami keteteran. Dia tetap
bisa mengimbangi. Kipas merah sang gadis bisa memblokir dan mementahkan semua
serangan cakar besi Macan Langit.
“Heaat!” teriak Pendekar Macan Langit mulai kesal
menghadapi Pengantin yang begitu gesit.
Bugk!
“Hukh!” keluh pemuda kekar itu, ketika tiba-tiba
lambungnya mendapat satu tendangan keras dari Pengantin. Kesibukannya menyerang
membuatnya tanpa sadar memunculkan celah pada pertahanannya.
“Yeee!” sorak penonton pendukung Penganten yang
notabene kaum batangan semua.
Tendangan itu membuat Pendekar Macan Langit terhuyung
dua langkah ke samping.
Dengan gerakan cepat, Pengantin memanfaatkan momentum
untuk memasukkan serangan lebih berbahaya.
Set! Crak!
Kipas merah Pengantin yang tajam berkelebat cepat
hendak melukai bahu Macan Langit, tetapi pemuda itu bisa menyongsongkan
tangannya mencengkeram sisi tajam kipas, menahan kipas.
Gagal serangan itu, Pengantin bersikeras untuk
menyarangkan satu serangan lagi. Karena itu dia memaksa melancarkan tinju
kirinya yang bertenaga dalam tinggi.
Ternyata, meski posisi kuda-kudanya tidak sempurna,
tetapi Macan Langit justru bisa melawan. Giliran dia yang menyongsong tinju
kiri Pengantin dengan cakarannya.
Terkejut Pengantin melihat songsongan cakar Macan
Langit. Jika dia memaksakan, tangannya justru bisa rusak oleh cakaran karena
tangannya tidak antigores. Buru-buru dia membatalkan agresinya dengan menarik
tinjunya. Namun....
Bret!
“Yeee!” sorak pendukung Pendekar Macan Langit.
Pengantin memang bisa menyelamatkan tinjunya dari
cakaran besi, tetapi cakaran itu bisa terus menjangkau perut Pengantin. Gadis
cantik itu refleks bergerak mundur. Namun, cakaran masih bisa menjangkau, tapi
masih untung hanya bagian perut bajunya.
Robek besarnya baju Pengantin membuat kulit mulusnya
tersingkap, plus dengan pusarnya. Mirip penari negeri Hindi.
Selanjutnya justru Macan Langit yang mengambil
momentum dengan melakukan serangan cakaran cepat bertubi-tubi. Dan bahayanya,
cakar-cakar besi itu telah berubah menjadi membara kuning.
Bret!
“Hah!” kejut Pengantin saat melihat kipas merahnya
robek oleh cakaran membara saat menangkis.
Kondisi itu membuat penonton kian tegang dan tanpa
sadar berpegangan pada yang tegang pula, terutama bagi pendukung Pengantin
Tanpa Suami. Ada yang tanpa sadar menggenggam tangan orang di sebelahnya, ada
yang memegang tangannya sendiri, hingga memegang burungnya sendiri. Maksudnya
dia memegang burung yang baru dibelinya di pasar kaget.
Menyaksikan kipas antigoresnya hancur, Pengantin
bergerak cepat dengan serius dan teliti menghindari cakaran-cakaran panas itu.
Set!
“Aak!” pekik para penonton terkejut, seolah-olah
mereka yang terkena cakaran, saat mereka melihat dengan jelas cakaran Macan
Langit nyaris merobek dada bergumpal sang pengantin.
Nyaris saja dada kewanitaan itu robek. Namun, radiasi
panasnya membuat kain baju yang menutupi dada itu tergores empat garis. Masih
untung, masih untung bagi Pengantin. Lagi-lagi hanya kain yang robek terbakar
tanpa nyala api, tidak melukai kulit dada yang putih dan kini mengintip-intip,
membuat penonton kaum berkumis kian bergairah. Maksudnya bergairah menonton.
Jangan salah paham!
Setelah terdesak, Pengantin Tanpa Suami buru-buru
melompat mundur dan mendarat di atas arena tiang. Jangan lupa, arena terbagi
dua, separuh arena berlantai papan, separuh lagi arena puluhan tiang kayu
dengan tinggi sejajar.
Pengantin Tanpa Suami berdiri pada dua tiang dalam
kondisi baju robek-robek, tapi masih aman. Di arena tiang itu dia menunggu
Macan Langit datang menyerang.
“Macan! Apakah kau akan merobek tubuh indah anugerah
Dewa yang secantik itu?” teriak salah satu penonton pendukung Pengantin Tanpa
Suami.
“Hiaat!” teriak Macan Langit sambil berlari dan
melompat satu kali dengan cakaran dua tangan siap merobek tubuh indah
Pengantin. Dia tidak peduli dengan teriakan penonton. Pokoknya dia harus
menang. Jika menang, selain dapat istri cantik, juga akan jadi juara.
Wess!
Tiba-tiba Pengantin Tanpa Suami yang sudah tidak
memiliki kipas pertahanan, mengibaskan tangan kanannya. Satu angin padat
melesat berembus menyongsong kedatangan Macan Langit dan mengenai bagian kaki.
Macan Langit yang sedang melompat datang, tidak bisa
menghindari angin itu. Terdorongnya kedua kakinya ke belakang, membuat laju
tubuhnya jadi terganggu. Tepat ketika di depan Pengantin, badan depannya justru
jatuh dan membuatnya hilang kontrol atas serangannya.
Zerzz! Bugg!
Di saat Macan Langit hilang kontrol, satu tinju
Pengantin yang sudah berselimut serat listrik biru melesat cepat tidak
terbendung, menghantam pelipis kiri Macan Langit.
Tubuh besar perkasa itu langsung terpental ke samping
kiri dan menabrak kumpulan penonton. Mereka pun jatuh bersama. Meski judulnya
jatuh, tetapi pepatah mengatakan “kebersamaan itu indah”.
Indah bagi Pengantin Tanpa Suami karena dialah yang
menjadi pemenangnya. Selain Pendekar Macan Langit keluar dari arena, juara
bertahan itu juga tidak bangun lagi karena pingsan.
Tinju Petir Biru Pengantin Tanpa Suami seketika
membuat Pendekar Macan Langit seperti kehilangan kepala. (RH)
Bersambung ke: PKK29: Wajah Berbibir Ungu


0 komentar:
Posting Komentar