PKK 28: Macan vs Pengantin by Rudi Hendrik

Ilustrasi Pengantin Tanpa Suami vs Pendekar Macan Langit dalam novel Pendekar Keris Kembar karya Rudi Hendrik. (Gambar: Gemini)

*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Bab sebelumnya: Pengantin Tanpa Suami


“Mulai!” teriak Takar Talas sambil melesat mundur meninggalkan panggung, tanpa pernah disebut dia mendarat di rumah siapa.

Pertarungan antara Pendekar Macan Langit dan Pengantin Tanpa Suami pun dimulai, diiringi oleh teriakan-teriakan para penonton yang lebih barbar dibandingkan petarungnya sendiri.

“Jangan terpedaya oleh kecantikannya, Macan! Cakar saja sampai modar!” teriak Emak Delima yang tidak suka dengan kecantikan Pengantin Tanpa Suami. Karena jika wanita cantik itu menang, nanti akan mengancam Rugi Sabuntel, pendekar yang Emak Delima idolakan.

“Hei, Macan! Jika kau mau menjadikan dia istrimu, jangan main cakar, main jilat saja! Hahaha!” teriak seorang pendukung Pendekar Macan Langit lalu tertawa.

“Iya, pakai jurus peluk-peluk cium saja! Hahaha!” sahut seorang kakek lalu tertawa geli sendiri, memperlihatkan gusinya yang gundul tanpa gigi.

“Jangan kasih ampun meong kaki dua itu, Pengantin!” teriak pendukung Pengantin Tanpa Suami.

“Jangan biarkan Macan Gunung itu mengalahkanmu, Pengantin. Aku tidak rela di dalam kubur jika kau jadi istrinya!” teriak seorang pemuda berhidung pesek terbuka.

Mengadopsi pepatah “biarlah kucing mengeong, tikus tetap membuat lubang”, kedua petarung tetap fokus dalam bertarung tanpa mengindahkan teriakan-teriakan para penonton.

Tidak pandang bahwa lawannya adalah wanita berwajah cantik bertubuh indah, Pendekar Macan Langit tetap tidak sungkan-sungkan menyerang dengan kuku-kuku besinya, tanpa takut akan merobek pakaian dan kulit Pengantin Tanpa Suami.

Namun, Pengantin Tanpa Suami bukanlah pendekar wanita yang kegenitan mau dapat suami dengan mudah, dia ingin mendapat suami dengan susah payah. Karena itu, dia tidak mau mengalah dalam bertarung, tapi harus dikalahkan.

Sret sret sret...!

Terbukti, Pengantin Tanpa Suami menangkal senjata cakar besi Pendekar Macan Langit dengan senjata kipasnya yang antigores, mirip senjata digital tempat orang main joget di negeri masa depan.

Awalnya Pendekar Macan Langit yakin bahwa dia akan bisa menyentuh tubuh Pengantin dengan cakarannya. Namun pada faktanya, setelah cukup lama mereka bertarung, tidak satu pun cakaran sang macan yang sukses menjalankan misi. Semua cakarannya bisa dihindari oleh Pengantin dan ditangkis dengan kipas.

Sampai-sampai ada penonton yang berteriak kesal melihat kondisi pertarungan yang monoton.

“Pendekar Macan, jangan bermain-main! Jangan bersikap sayang hanya karena dia perempuan cantik!” teriak seorang penonton yang kesal melihat pertarungan yang membosankan.

“Kurang ajar!” desis Pendekar Macan Langit pelan. Kupingnya panas mendengar kritikan penonton.

Akhirnya, Pendekar Macan Langit mengerahkan kecepatan gerak maksimalnya, sehingga dia seperti orang yang membadak buta.

Sret! Sret! Crek!

Namun, sejak pertandingan pertama, Pengantin Tanpa Suami sudah menunjukkan bahwa dirinya adalah pendekar yang memiliki kecepatan tinggi.

Peningkatan kecepatan gerak Pendekar Macan Langit ke tahap maksimalnya, tidak membuat Pengantin Tanpa Suami keteteran. Dia tetap bisa mengimbangi. Kipas merah sang gadis bisa memblokir dan mementahkan semua serangan cakar besi Macan Langit.

“Heaat!” teriak Pendekar Macan Langit mulai kesal menghadapi Pengantin yang begitu gesit.

Bugk!

“Hukh!” keluh pemuda kekar itu, ketika tiba-tiba lambungnya mendapat satu tendangan keras dari Pengantin. Kesibukannya menyerang membuatnya tanpa sadar memunculkan celah pada pertahanannya.

“Yeee!” sorak penonton pendukung Penganten yang notabene kaum batangan semua.

Tendangan itu membuat Pendekar Macan Langit terhuyung dua langkah ke samping.

Dengan gerakan cepat, Pengantin memanfaatkan momentum untuk memasukkan serangan lebih berbahaya.

Set! Crak!

Kipas merah Pengantin yang tajam berkelebat cepat hendak melukai bahu Macan Langit, tetapi pemuda itu bisa menyongsongkan tangannya mencengkeram sisi tajam kipas, menahan kipas.

Gagal serangan itu, Pengantin bersikeras untuk menyarangkan satu serangan lagi. Karena itu dia memaksa melancarkan tinju kirinya yang bertenaga dalam tinggi.

Ternyata, meski posisi kuda-kudanya tidak sempurna, tetapi Macan Langit justru bisa melawan. Giliran dia yang menyongsong tinju kiri Pengantin dengan cakarannya.

Terkejut Pengantin melihat songsongan cakar Macan Langit. Jika dia memaksakan, tangannya justru bisa rusak oleh cakaran karena tangannya tidak antigores. Buru-buru dia membatalkan agresinya dengan menarik tinjunya. Namun....

Bret!

“Yeee!” sorak pendukung Pendekar Macan Langit.

Pengantin memang bisa menyelamatkan tinjunya dari cakaran besi, tetapi cakaran itu bisa terus menjangkau perut Pengantin. Gadis cantik itu refleks bergerak mundur. Namun, cakaran masih bisa menjangkau, tapi masih untung hanya bagian perut bajunya.

Robek besarnya baju Pengantin membuat kulit mulusnya tersingkap, plus dengan pusarnya. Mirip penari negeri Hindi.

Selanjutnya justru Macan Langit yang mengambil momentum dengan melakukan serangan cakaran cepat bertubi-tubi. Dan bahayanya, cakar-cakar besi itu telah berubah menjadi membara kuning.

Bret!

“Hah!” kejut Pengantin saat melihat kipas merahnya robek oleh cakaran membara saat menangkis.

Kondisi itu membuat penonton kian tegang dan tanpa sadar berpegangan pada yang tegang pula, terutama bagi pendukung Pengantin Tanpa Suami. Ada yang tanpa sadar menggenggam tangan orang di sebelahnya, ada yang memegang tangannya sendiri, hingga memegang burungnya sendiri. Maksudnya dia memegang burung yang baru dibelinya di pasar kaget.

Menyaksikan kipas antigoresnya hancur, Pengantin bergerak cepat dengan serius dan teliti menghindari cakaran-cakaran panas itu.

Set!

“Aak!” pekik para penonton terkejut, seolah-olah mereka yang terkena cakaran, saat mereka melihat dengan jelas cakaran Macan Langit nyaris merobek dada bergumpal sang pengantin.

Nyaris saja dada kewanitaan itu robek. Namun, radiasi panasnya membuat kain baju yang menutupi dada itu tergores empat garis. Masih untung, masih untung bagi Pengantin. Lagi-lagi hanya kain yang robek terbakar tanpa nyala api, tidak melukai kulit dada yang putih dan kini mengintip-intip, membuat penonton kaum berkumis kian bergairah. Maksudnya bergairah menonton. Jangan salah paham!

Setelah terdesak, Pengantin Tanpa Suami buru-buru melompat mundur dan mendarat di atas arena tiang. Jangan lupa, arena terbagi dua, separuh arena berlantai papan, separuh lagi arena puluhan tiang kayu dengan tinggi sejajar.

Pengantin Tanpa Suami berdiri pada dua tiang dalam kondisi baju robek-robek, tapi masih aman. Di arena tiang itu dia menunggu Macan Langit datang menyerang.

“Macan! Apakah kau akan merobek tubuh indah anugerah Dewa yang secantik itu?” teriak salah satu penonton pendukung Pengantin Tanpa Suami.

“Hiaat!” teriak Macan Langit sambil berlari dan melompat satu kali dengan cakaran dua tangan siap merobek tubuh indah Pengantin. Dia tidak peduli dengan teriakan penonton. Pokoknya dia harus menang. Jika menang, selain dapat istri cantik, juga akan jadi juara.

Wess!

Tiba-tiba Pengantin Tanpa Suami yang sudah tidak memiliki kipas pertahanan, mengibaskan tangan kanannya. Satu angin padat melesat berembus menyongsong kedatangan Macan Langit dan mengenai bagian kaki.

Macan Langit yang sedang melompat datang, tidak bisa menghindari angin itu. Terdorongnya kedua kakinya ke belakang, membuat laju tubuhnya jadi terganggu. Tepat ketika di depan Pengantin, badan depannya justru jatuh dan membuatnya hilang kontrol atas serangannya.

Zerzz! Bugg!

Di saat Macan Langit hilang kontrol, satu tinju Pengantin yang sudah berselimut serat listrik biru melesat cepat tidak terbendung, menghantam pelipis kiri Macan Langit.

Tubuh besar perkasa itu langsung terpental ke samping kiri dan menabrak kumpulan penonton. Mereka pun jatuh bersama. Meski judulnya jatuh, tetapi pepatah mengatakan “kebersamaan itu indah”.

Indah bagi Pengantin Tanpa Suami karena dialah yang menjadi pemenangnya. Selain Pendekar Macan Langit keluar dari arena, juara bertahan itu juga tidak bangun lagi karena pingsan.

Tinju Petir Biru Pengantin Tanpa Suami seketika membuat Pendekar Macan Langit seperti kehilangan kepala. (RH)

Bersambung ke: PKK29: Wajah Berbibir Ungu

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar