*Harzai by Rudi Hendrik*
Bab sebelumnya: Markaz Hunter Z
Salah satu
sudut kota Bogor.
Pondok
Pesantren Ash-Shiroth diasuh seorang ulama terkemuka dan disegani oleh
masyarakat luas. Kemasyhurannya sudah menasional berkat peran serta media.
K.H. Abdul
Waro. Hampir semua kalangan mengenalnya. Kedalaman ilmunya, ketinggian
wibawanya, kerendahan hatinya, dan keluwesan penyampaiannya, membuat tokoh ini
banyak disukai dan digurui oleh umat Islam. Maka dampak gelombang
keterkenalannya itu melahirkan kepadatan jadwal undangan yang mau tidak mau
harus diseleksi. Hanya undangan-undangan yang bermaslahat besar bagi umat yang
bisa dipenuhinya. Maka, adalah wajar jika lelaki usia 53 tahun ini, hanya dua
hari berada di pesantrennya setiap dua pekan.
Kepadatan
jadwal panggilan untuk berceramah dan sebagai narasumber di berbagai tempat,
otomatis membuat Ketua Umum Forum Ulama Tanggap Umat (FUTU) ini berlimpah
rezeki. Hal itu berdampak positif bagi perkembangan fisik Pondok Pesantren
Ash-Shiroth.
Ribuan lebih
santri yang terdaftar sebagai murid di ponpes yang memiliki dua gedung belajar
mengajar tersebut. Ada pula dua gedung asrama para santri dan satu masjid besar
yang dilengkapi dengan perpustakaan lengkap. Ditambah satu blok asrama untuk
para pengajar plus kantor para ustaz dan ustazah. Keluasan lahan praktik
perkebunan dan berternak menjadi aset besar ponpes ini.
Di salah satu
tempat di kawasan lahan kosong untuk pertanian, sebanyak 60 santri pria
bertebaran teratur di posisi yang sudah diarahkan oleh Ustaz Firman Ahmad.
Semuanya berbekal cangkul.
Pesantren
memiliki sebuah traktor untuk membajak tanah agar menjadi gembur. Namun sayang,
saat ini si traktor sedang rusak parah. Perlu ganti beberapa suku cadang yang
tidak murah harganya. Karna hal itulah, pagi ini para santri hanya berbekal
cangkul untuk menggemburkan tanah.
Ustaz Firman
juga membekali dirinya dengan sebuah cangkul. Sesekali ustaz berjenggot tipis
itu memeriksa kerja
murid-muridnya
dalam cara mencangkul. Meski remeh, tapi mencangkul memiliki teknik sendiri.
Di sudut
timur, santri yang bernama Afrizal sedang menertawakan temannya yang
berposisi dua meter di samping kanannya. Temannya adalah seorang santri gemuk
berkulit putih bersih berusia 21 tahun, seusia dengan Afrizal. Tampak wajahnya
cemberut. Namanya Nitra. Sedangkan Afrizal sendiri adalah seorang pemuda
berkulit sawo matang.
“Ayah
mengirim saya ke sini bukan untuk mencangkul menjadi sapi pengolah tanah, Zal.
Aduh, pinggangku!” keluh Nitra.
“Setidaknya
kamu dididik belajar menjadi orang miskin, Nit,” timpal Afrizal. “Dan, belajar
mengenali bahan rumah masa depan kita. Saya yakin, orangtua kamu pasti senang
jika tahu putranya sudah pandai mencangkul. Hahaha!”
Nitra
berhenti sejenak. Tangan kiri pegangi cangkul, sementara tangan kanan pegangi
pinggang. Wajah berpeluhnya mengerenyit. Ditengoknya Afrizal yang terus
mengayunkan cangkulnya lalu ditarik membongkar tanah.
“Nit, kamu
sudah hafal tiga hadits yang ditugaskan Ustaz Ridwan?” tanya Afrizal.
“Wadduh,
Zal!” pekik Nitra panik. “Nanti sore ya hafalannya? Saya kira pekan depan. Saya
baru hafal satu hadits, itu terkadang samar-samar. Kamu sudah hafal berapa,
Zal?”
“Tiga,
semuanya diriwayatkan oleh Bukhari,” jawab Afrizal.
Tak!
“Allahuakbar!”
pekik Afrizal tiba-tiba sambil berhenti mencangkul.
Cangkul
Afrizal sepertinya mengenai batu yang terkubur. Namun, tadi Afrizal sempat
melihat percikan kembang api warna biru saat mata cangkul mengenai benda keras
di dalam tanah.
“Kenapa,
Zal?” tanya Nitra tanpa bergeser dari tempat berdirinya.
Afrizal tidak
langsung menjawab. Ia tarik cangkulnya dan melihat sisi tajam alatnya. Ternyata
sisi tajam cangkul Afrizal rompal.
“Wah, cangkul
ana rompal kena batu, Nit!” jawab Afrizal.
Nitra datang
mendekat. Ia melihat mata cangkul Afrizal memang rompal. Pria gemuk itu pun
tertawa.
Afrizal lalu
berjongkok untuk melihat batu apa yang dicangkulnya. Ia bongkar tanah yang
sudah tercangkul untuk melihat batu di baliknya.
“Apa ini?”
ucap Afrizal pelan, penasaran.
Setelah ia
perhatikan batu yang ditemukannya, Afrizal mendadak tersenyum senang. “Nit!
Saya dapat permata, harta karun!”
Batu yang
ditemukan oleh Afrizal adalah sebuah batu bening mengkilap berwarna biru
setebal dua jari. Batu biru bening sepanjang 10 cm itu seperti batu mulia
permata atau sejenisnya.
Begitu
senangnya, Afrizal langsung meraih batu biru itu dengan tangan kanannya. Ia
ingin langsung tunjukkan kepada Nitra.
Zerzzz!
Suara aneh
yang cukup keras terdengar hingga ke telinga Ustaz Firman dan seluruh santri
yang sedang bekerja.
“Aaa!” jerit
Nitra tinggi sambil sontak tubuhnya terjajar ketakutan dan jatuh terduduk
dengan wajah pucat.
Sementara
Ustaz Firman dan seluruh santri yang melihat kepada Afrizal, ternganga tidak
percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Subhanallah!
Astaghfirullah! Allahuakbar!” ucap Ustaz Firman seketika di dalam
keterkejutannya.
“Astaghfirullah!
Astaghfirullah! Astaghfirullah!” sebut seorang santri berulang-ulang dengan
suara gemetar.
“Na
‘udzubillah! Na ‘udzubillah! Na ‘udzubillahi minasysyaithanirrajiiim!”
sebut yang lain membaca doa perlindungan dari setan.
Hal yang
mereka saksikan adalah muncul semburan sinar biru dari bawah kaki Afrizal yang
menimbulkan suara keras. Sejenak sinar itu menutupi seluruh tubuh pemuda
tersebut. Namun, ketika sinar biru itu lenyap, sosok Afrizal turut lenyap, tapi
ada sosok asing yang menggantikannya. Sosok itulah yang membuat semuanya
terkejut dan ketakutan.
Sosok asing
itu adalah seorang lelaki tinggi gagah perkasa dengan tubuh yang tegap dan
berotot bagus. Ia mengenakan pakaian perang kerajaan klasik Cina berwarna putih
berlapis-lapis. Warna biru menghiasai tepiannya. Batang tangannya dibalut ketat
dengan kain putih berhias lapisan logam pengaman. Baju yang tanpa lengan
membuat dua lengan kekarnya telanjang. Kedua kakinya tertutup celana biru dan
sepatu logam berleher panjang. Kepalanya ditutup dengan kain biru panjang yang
diperkuat dengan ikat kepala berwarna emas. Wajahnya tampan, cukup jauh dari
ketampanan Afrizal. Sepasang matanya agak sipit seperti etnis Tionghoa. Batang
lehernya terlihat begitu kokoh.
Ia adalah Dho
Gho, seorang tokoh Harzai dari Dinasti Prajurit Fajar.
Sebagian
santri segera berlari menjauhi tempat itu karena takut. Selebihnya tetap di
tempatnya, tapi bergerak merapat berkumpul satu.
Sementara
Ustaz Firman Ahmad memberanikan diri untuk mendekati sosok Dho Gho. Nitra,
orang yang tadi paling dekat dengan posisi Afrizal, sudah berlari menjauh
bergabung dengan teman-temannya yang lain.
Mereka
melihat, sosok asing dan aneh itu berdiri memerhatikan dirinya dengan wajah
kebingungan dan panik.
“Ustaz!
Ustaz! Kenapa saya?!” teriak Dho Gho dengan suara milik Afrizal. Ia berlari ke
arah Ustaz Firman seraya bertanya.
Bdak!
“Yallah!”
pekik Ustaz firman ketika tubuh besar Dho Gho berlari sekencang mobil dan
menabraknya.
Tubuh ustaz
berusia 32 tahun itu terpental sejauh 4 meter.
Blugk!
“Akh! Innalillahi!”
jerit Ustaz Firman kesakitan.
“Ustaz!”
pekik para santri terkejut, lalu beramai-ramai mendatangi tubuh guru mereka.
Ustaz Firman
hanya menyebut nama Allah seraya mengerenyit menahan sakit. Ia tidak bisa
bangun, tulang pungguhnya mungkin ada yang patah.
“Cepat beri
tahu Dewan Asatiz!” perintah Ustaz Firman kepada santrinya.
Maka, dua
orang santri segera berlari pulang menuju gedung ponpes.
Dho Gho
datang dengan wajah menyesal dan bingung.
“Maafkan
saya, Ustaz! Saya tidak bermaksud menyerang Ustaz. Saya tidak tahu!” kata Dho
Gho berteriak sambil mendekati posisi Ustaz Firman.
“Cepat bawa
Ustaz pergi!” perintah Ustaz Firman, sebelum ia ditinggal sendirian oleh para
santri yang ketakutan.
Beberapa
santri yang awalnya sudah siap kabur, buru-buru mengangkat tubuh Ustaz Firman
yang tidak berdaya.
“Innalillahi!
Innalillahi!” ucap Ustaz Firman saat sakit di tubuhnya meningkat karena
digotong secara brutal oleh para santri yang ketakutan.
Tinggallah
Dho Gho sendiri berteman cangkul-cangkul yang berserakan.
“Apa yang
terjadi? Apa yang terjadi? Siapa saya ini? Siapa saya?” tanya Dho Gho bingung
dan kembali memeriksan tubuhnya.
Tubuh itu
jelas-jelas bukan tubuhnya, itu tubuh orang asing. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar