PKK26: Empat Besar by Rudi Hendrik

Ilustrasi gambar: Gemini

*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Bab sebelumnya: Rugi vs Ki Kumis


Ada delapan pendekar yang lolos ke putaran perempat final dalam turnamen semesteran Duel Pendekar Buto Gilo. Kedelapan pendekar ini akan bertanding kembali pagi ini.

Pendekar pertama yang lolos adalah sang juara bertahan, yaitu Pendekar Macan Langit. Dia dengan mudah mengalahkan dua lawannya di hari kemarin. Kedua lawannya dibuat sekarat dengan memberinya luka cakaran yang parah, tapi tidak sampai mati. Kecuali sekaratnya menjadi dua karat, mungkin akan mati.

Pendekar kedua adalah Satria Tinju Tanpa Aral. Pada turnamen sebelumnya, dia berakhir dengan raihan runner up. Musim ini, dia mematok target sebagai sang juara dan membalas kekalahannya kepada Pendekar Macan Langit.

Pendekar ketiga adalah Akung Bakpo yang membuat bangga bapaknya, Ronggo Beduk, selaku Kepala Desa Buangsial. Sebagai petarung tuan rumah, Akung Bakpo memiliki suporter garis keras. Pemuda gemuk itu mirip Rugi Sabuntel, sama-sama gemuk. Namun, jika Rugi Sabuntel lebih berotot, berbeda dengan Akung Bakpo yang lebih mengandalkan lemak lunak.

Pendekar keempat adalah Arjuna Penari, pendekar lelaki yang mengandalkan senjata selendang.

Pendekar kelima adalah Pendekar Golok Bayangan. Nahas bagi dua orang lawannya yang terpaksa mati di tangannya. Pendekar Golok Bayangan memang selalu membunuh lawan tarungnya. Golok besarnya benar-benar haus nyawa, bukan haus darah lagi.

Pendekar keenam adalah Pengantin Tanpa Suami. Satu-satunya pendekar wanita yang lolos ke delapan besar. Dalam dua pertarungan sebelumnya, dia menang dengan mudah dan menjadi idola baru di turnamen tersebut.

Pendekar ketujuh bernama Si Ganteng Dari Langit. Pendekar yang sudah dua kali ikut turnamen ini memang ganteng, meski usianya masih muda. Dia menang dalam dua pertarungan sebelumnya dengan penuh perjuangan, dengan berdarah-darah. Sejumlah luka dideritanya, membuatnya akan melalui pertarungan hari ini dengan berat. Sepertinya dia akan meningkatkan level perjuangannya.

Pendekar kedelapan adalah Rugi Sabuntel yang dijuluki Pendekar Gendut Budiman.

Pendekar Macan Langit akan melawan Pendekar Golok Bayangan. Satria Tinju Tanpa Aral bertemu pendekar tuan rumah, yaitu Akung Bakpo. Pengantin Tanpa Suami melawan Arjuna Penari. Si Ganteng Dari Langit bertarung melawan Rugi Sabuntel untuk pertama kalinya.

Pada hari itu, Desa Buangsial semakin ramai kedatangan orang-orang dari luar desa. Jumlah penonton hari ini lebih ramai dan lebih membludak, baik dari kalangan warga biasa, pendekar biasa, hingga pejabat biasa dan tidak biasa.

Khusus Rugi Sabuntel dan Blikik, mereka berdua diizinkan tidak masuk kerja di gudang jagung demi kepentingan turnamen. Sebab, Rugi juga akan mengangkat nama perusahaan jika menang. Terlebih Nyai Demang juga hadir dua hari penuh. Final duel juga akan dilangsungkan pada sore itu juga.

“Mulai!” teriak Takar Talas keras sambil melesat mundur meninggalkan atas arena.

“Hiaaat!” pekik Pendekar Macan Langit dan Pendekar Golok Bayangan bersamaan sambil maju saling bertemu di tengah arena.

Jika Pendekar Golok Bayangan mengandalkan golok algojonya, Pendekar Macan Langit mengandalkan kuku-kuku besi, kuku palsu yang dipasang di kesepuluh jari tangan.

Tang ting ting!

Cakar besi Macan Langit ternyata bisa melawan golok besar Golok Bayangan. Cakar dan mata golok saling beradu yang menimbulkan denting-denting ketegangan bagi para penonton yang tidak henti-hentinya berteriak. Terkadang cakaran pada golok menimbulkan suara pekikan yang membuat linu gigi, bukan telinga.

Para penonton yang kemarin jagonya kalah, kini datang menonton dengan mendukung jago baru, sehingga suara dukungan dari penonton pun kian banyak.

Singkat cerita.

Meski hanya cakaran, tetapi Macan Langit justru lebih unggul. Dia memiliki keunggulan dengan gerakan tangan yang lebih cepat dan lebih leluasa dibandingkan golok yang membutuhkan ruang gerak lebih lebar untuk eksis.

Sret sret!

“Aak!” jerit Pendekar Golok Bayangan ketika mata goloknya ditahan oleh kuku-kuku besi tangan kiri Macan Langit, sementara kuku tangan kanan mencakar tangannya yang menggenggam gagang golok.

Cakaran pada tangan membuat golok Golok Bayangan lepas dan jatuh.

Tuk! Bret bret!

“Akk!” jerit Golok Bayangan dengan tubuh terhuyung mundur.

Saat golok lawannya jatuh, Macan Langit bergerak cepat menyepak golok untuk dijauhkan. Pada saat yang sama, cakaran menyerang cepat merobek dua kali badan depan Golok Bayangan.

Setelah itu, Golok Bayangan sudah sulit untuk bertahan tanpa golok. Satu cakaran susulan cukup membuatnya tumbang dengan nyawa yang melayang, karena cakaran terakhir melukai leher.

Macan Langit sengaja membunuh Pendekar Golok Bayangan karena lawannya itu juga suka membunuh lawannya jika bertarung.

Pada pertandingan berikutnya, Akung Bakpo harus mengakui keunggulan Satria Tinju Tanpa Aral. Akung Bakpo yang mengandalkan kekuatan dan ketebalan lemaknya tidak bisa menahan kekuatan tinju Satria. Jangankan lemak, tinju Satria bahkan bisa senjebol tiga lapis tembok.

Untung Akung Bakpo tidak mati, jadi massa fanatiknya tidak bikin rusuh di acara. Pendukung tuan rumah kemudian beralih menjagokan Rugi Sabuntel, karena mirip dengan Akung Bakpo.

Setelah kemenangan Pendekar Macan Langit dan Satria Tinju Tanpa Aral, giliran Pengantin Tanpa Suami dan Arjuna Penari yang berebut kemenangan. Arjuna Penari begitu senang berhadapan dengan Pengantin Tanpa Suami. Mungkin karena lawannya seorang wanita dan cantik pula.

Dengan senyum yang selalu mekar, Arjuna Penari bertarung seperti seorang penari yang mengandalkan kekuatan selendangnya.

Namun, peremehan yang dilakukan oleh Arjuna Penari berakibat fatal baginya. Pengantin Tanpa Suami adalah pendekar wanita yang memiliki kecepatan tinggi. Semua serangan selendang Arjuna Penari bisa dia hindari, meski dalam satu waktu Arjuna Penari menggunakan empat selendang.

Bleet!

Pada satu waktu, dua selendang Arjuna Penari berhasil membelit dan membalut tubuh Pengantin Tanpa Suami.

Set set!

Arjuna Penari harus terkejut karena kedua selendangnya tahu-tahu robek menjadi carik-carik yang bertebaran. Ternyata Pengantin Tanpa Suami menggunakan kipas merahnya untuk memotong dari dalam lilitan.

Setelah itu, kipas merah melesat terbang menyerang Arjuna Penari.

Lelaki yang agak kewanitaan itu buru-buru melompat menghindar.

“Hah!” pekik Arjuna Penari terkejut melihat keberadaan lawannya yang begitu cepat berpindah posisi.

Di saat Arjuna Penari melompat menghindari kipas merah yang sangat tajam, sosok cantik Pengantin Tanpa Suami tahu-tahu sudah berada satu jangkauan.

Pak pak!

“Hugk!” keluh Arjuna Penari ketika dua hantaman telapak tangan begitu kuat menghantam punggungnya, ketika tubuhnya sedang mengudara tanpa pijakan.

Tubuh Arjuna Penari terdorong di udara dengan mulut menyemburkan darah kental. Dia pun jatuh di tepian panggung lalu memantul jatuh ke tanah.

“Yeee! Hidup Pengantin Tanpa Suami!” sorak para penggemar Pengantin Tanpa Suami begitu girang.

Dan tinggallah Rugi Sabuntel menghadapi Si Ganteng Dari Langit.

Rugi Sabuntel mendapat keuntungan melawan Si Ganteng karena lawannya itu sudah menderita luka fisik sisa pertarungan kemarin. Kondisi luka itu membuat pertarungan Si Ganteng tidak maksimal dan tenaganya pun kurang berbobot. Apalagi Rugi Sabuntel yang menjadi lawannya merupakan pendekar kelas berat, membutuhkan tenaga sepuluh ekor kuda untuk menghantam Rugi dengan tinju.

Jadi kesimpulannya, Rugi Sabuntel menang dengan mudah dari Si Ganteng Dari Langit. Rugi sekedar memberi kelumpuhan sementara pada kedua tangan lawannya, memaksanya untuk menyerah sebelum benar-benar dilumpuhkan total.

Dengan kemenangan Rugi Sabuntel, maka ada empat pendekar yang tembus ke semifinal Duel Pendekar Butogilo. (RH)

Bersambung ke: PKK27: Pengumuman Mengejutkan by Rudi Hendrik

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar