*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Bab sebelumnya: Rugi vs Ki Kumis
Ada delapan pendekar yang lolos ke putaran perempat final dalam turnamen semesteran Duel Pendekar Buto Gilo. Kedelapan pendekar ini akan bertanding kembali pagi ini.
Pendekar pertama yang lolos adalah sang juara
bertahan, yaitu Pendekar Macan Langit. Dia dengan mudah mengalahkan dua
lawannya di hari kemarin. Kedua lawannya dibuat sekarat dengan memberinya luka
cakaran yang parah, tapi tidak sampai mati. Kecuali sekaratnya menjadi dua
karat, mungkin akan mati.
Pendekar kedua adalah Satria Tinju Tanpa Aral. Pada
turnamen sebelumnya, dia berakhir dengan raihan runner up. Musim ini,
dia mematok target sebagai sang juara dan membalas kekalahannya kepada Pendekar
Macan Langit.
Pendekar ketiga adalah Akung Bakpo yang membuat bangga
bapaknya, Ronggo Beduk, selaku Kepala Desa Buangsial. Sebagai petarung tuan
rumah, Akung Bakpo memiliki suporter garis keras. Pemuda gemuk itu mirip Rugi
Sabuntel, sama-sama gemuk. Namun, jika Rugi Sabuntel lebih berotot, berbeda
dengan Akung Bakpo yang lebih mengandalkan lemak lunak.
Pendekar keempat adalah Arjuna Penari, pendekar lelaki
yang mengandalkan senjata selendang.
Pendekar kelima adalah Pendekar Golok Bayangan. Nahas
bagi dua orang lawannya yang terpaksa mati di tangannya. Pendekar Golok
Bayangan memang selalu membunuh lawan tarungnya. Golok besarnya benar-benar
haus nyawa, bukan haus darah lagi.
Pendekar keenam adalah Pengantin Tanpa Suami.
Satu-satunya pendekar wanita yang lolos ke delapan besar. Dalam dua pertarungan
sebelumnya, dia menang dengan mudah dan menjadi idola baru di turnamen
tersebut.
Pendekar ketujuh bernama Si Ganteng Dari Langit.
Pendekar yang sudah dua kali ikut turnamen ini memang ganteng, meski usianya
masih muda. Dia menang dalam dua pertarungan sebelumnya dengan penuh
perjuangan, dengan berdarah-darah. Sejumlah luka dideritanya, membuatnya akan
melalui pertarungan hari ini dengan berat. Sepertinya dia akan meningkatkan
level perjuangannya.
Pendekar kedelapan adalah Rugi Sabuntel yang dijuluki
Pendekar Gendut Budiman.
Pendekar Macan Langit akan melawan Pendekar Golok
Bayangan. Satria Tinju Tanpa Aral bertemu pendekar tuan rumah, yaitu Akung
Bakpo. Pengantin Tanpa Suami melawan Arjuna Penari. Si Ganteng Dari Langit bertarung
melawan Rugi Sabuntel untuk pertama kalinya.
Pada hari itu, Desa Buangsial semakin ramai kedatangan
orang-orang dari luar desa. Jumlah penonton hari ini lebih ramai dan lebih
membludak, baik dari kalangan warga biasa, pendekar biasa, hingga pejabat biasa
dan tidak biasa.
Khusus Rugi Sabuntel dan Blikik, mereka berdua
diizinkan tidak masuk kerja di gudang jagung demi kepentingan turnamen. Sebab, Rugi
juga akan mengangkat nama perusahaan jika menang. Terlebih Nyai Demang juga
hadir dua hari penuh. Final duel juga akan dilangsungkan pada sore itu juga.
“Mulai!” teriak Takar Talas keras sambil melesat
mundur meninggalkan atas arena.
“Hiaaat!” pekik Pendekar Macan Langit dan Pendekar Golok
Bayangan bersamaan sambil maju saling bertemu di tengah arena.
Jika Pendekar Golok Bayangan mengandalkan golok
algojonya, Pendekar Macan Langit mengandalkan kuku-kuku besi, kuku palsu yang
dipasang di kesepuluh jari tangan.
Tang ting ting!
Cakar besi Macan Langit ternyata bisa melawan golok
besar Golok Bayangan. Cakar dan mata golok saling beradu yang menimbulkan
denting-denting ketegangan bagi para penonton yang tidak henti-hentinya
berteriak. Terkadang cakaran pada golok menimbulkan suara pekikan yang membuat
linu gigi, bukan telinga.
Para penonton yang kemarin jagonya kalah, kini datang
menonton dengan mendukung jago baru, sehingga suara dukungan dari penonton pun
kian banyak.
Singkat cerita.
Meski hanya cakaran, tetapi Macan Langit justru lebih
unggul. Dia memiliki keunggulan dengan gerakan tangan yang lebih cepat dan
lebih leluasa dibandingkan golok yang membutuhkan ruang gerak lebih lebar untuk
eksis.
Sret sret!
“Aak!” jerit Pendekar Golok Bayangan ketika mata
goloknya ditahan oleh kuku-kuku besi tangan kiri Macan Langit, sementara kuku
tangan kanan mencakar tangannya yang menggenggam gagang golok.
Cakaran pada tangan membuat golok Golok Bayangan lepas
dan jatuh.
Tuk! Bret bret!
“Akk!” jerit Golok Bayangan dengan tubuh terhuyung
mundur.
Saat golok lawannya jatuh, Macan Langit bergerak cepat
menyepak golok untuk dijauhkan. Pada saat yang sama, cakaran menyerang cepat merobek
dua kali badan depan Golok Bayangan.
Setelah itu, Golok Bayangan sudah sulit untuk bertahan
tanpa golok. Satu cakaran susulan cukup membuatnya tumbang dengan nyawa yang
melayang, karena cakaran terakhir melukai leher.
Macan Langit sengaja membunuh Pendekar Golok Bayangan
karena lawannya itu juga suka membunuh lawannya jika bertarung.
Pada pertandingan berikutnya, Akung Bakpo harus
mengakui keunggulan Satria Tinju Tanpa Aral. Akung Bakpo yang mengandalkan
kekuatan dan ketebalan lemaknya tidak bisa menahan kekuatan tinju Satria.
Jangankan lemak, tinju Satria bahkan bisa senjebol tiga lapis tembok.
Untung Akung Bakpo tidak mati, jadi massa fanatiknya
tidak bikin rusuh di acara. Pendukung tuan rumah kemudian beralih menjagokan
Rugi Sabuntel, karena mirip dengan Akung Bakpo.
Setelah kemenangan Pendekar Macan Langit dan Satria
Tinju Tanpa Aral, giliran Pengantin Tanpa Suami dan Arjuna Penari yang berebut
kemenangan. Arjuna Penari begitu senang berhadapan dengan Pengantin Tanpa Suami.
Mungkin karena lawannya seorang wanita dan cantik pula.
Dengan senyum yang selalu mekar, Arjuna Penari
bertarung seperti seorang penari yang mengandalkan kekuatan selendangnya.
Namun, peremehan yang dilakukan oleh Arjuna Penari berakibat
fatal baginya. Pengantin Tanpa Suami adalah pendekar wanita yang memiliki
kecepatan tinggi. Semua serangan selendang Arjuna Penari bisa dia hindari,
meski dalam satu waktu Arjuna Penari menggunakan empat selendang.
Bleet!
Pada satu waktu, dua selendang Arjuna Penari berhasil
membelit dan membalut tubuh Pengantin Tanpa Suami.
Set set!
Arjuna Penari harus terkejut karena kedua selendangnya
tahu-tahu robek menjadi carik-carik yang bertebaran. Ternyata Pengantin Tanpa
Suami menggunakan kipas merahnya untuk memotong dari dalam lilitan.
Setelah itu, kipas merah melesat terbang menyerang
Arjuna Penari.
Lelaki yang agak kewanitaan itu buru-buru melompat
menghindar.
“Hah!” pekik Arjuna Penari terkejut melihat keberadaan
lawannya yang begitu cepat berpindah posisi.
Di saat Arjuna Penari melompat menghindari kipas merah
yang sangat tajam, sosok cantik Pengantin Tanpa Suami tahu-tahu sudah berada
satu jangkauan.
Pak pak!
“Hugk!” keluh Arjuna Penari ketika dua hantaman
telapak tangan begitu kuat menghantam punggungnya, ketika tubuhnya sedang
mengudara tanpa pijakan.
Tubuh Arjuna Penari terdorong di udara dengan mulut
menyemburkan darah kental. Dia pun jatuh di tepian panggung lalu memantul jatuh
ke tanah.
“Yeee! Hidup Pengantin Tanpa Suami!” sorak para
penggemar Pengantin Tanpa Suami begitu girang.
Dan tinggallah Rugi Sabuntel menghadapi Si Ganteng
Dari Langit.
Rugi Sabuntel mendapat keuntungan melawan Si Ganteng
karena lawannya itu sudah menderita luka fisik sisa pertarungan kemarin.
Kondisi luka itu membuat pertarungan Si Ganteng tidak maksimal dan tenaganya
pun kurang berbobot. Apalagi Rugi Sabuntel yang menjadi lawannya merupakan
pendekar kelas berat, membutuhkan tenaga sepuluh ekor kuda untuk menghantam
Rugi dengan tinju.
Jadi kesimpulannya, Rugi Sabuntel menang dengan mudah
dari Si Ganteng Dari Langit. Rugi sekedar memberi kelumpuhan sementara pada
kedua tangan lawannya, memaksanya untuk menyerah sebelum benar-benar
dilumpuhkan total.
Dengan kemenangan Rugi Sabuntel, maka ada empat
pendekar yang tembus ke semifinal Duel Pendekar Butogilo. (RH)
Bersambung ke: PKK27: Pengumuman Mengejutkan by Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar