PKK 23: Mencari Campani by Rudi Hendrik

Ilustrasi Nyai Demang dalam cerita novel Pendekar Karis Kembar. (Gemini)


*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Bab sebelumnya: Bakal Calon Mantu Datang

Akhirnya putaran pertama Duel Pendekar Butogilo berakhir dengan enam belas pendekar dinyatakan sebagai pemenang dan enam belas separuhnya gugur.

Putaran kedua yang akan mengadu delapan pendekar melawan delapan pendekar akan berlangsung setelah waktu asar, mungkin bermaksud memberi kesempatan bagi para peserta dan penonton untuk melaksanakan salat zuhur dan asar bagi yang Muslim. Namun ternyata, tidak ada seorang pun yang Muslim.

Waktu jeda tentunya dimanfaatkan oleh Rugi Sabuntel untuk berwisata kuliner di tempat tersebut bersama dengan Bendong, Blikik dan Citayam. Mereka mencoba makan nasi bambu bakar gula aren. Jangan dibayangkan seperti apa rasanya!

Di masa istirahat itu, Demang Segara Gara harus menyambut makan Adipati Bawel Semara dan putranya Samber Raga di dalam rumah keduanya.

“Nyai, di mana Campani?” tanya Demang Segara Gara kepada istrinya.

“Aku juga tidak tahu, Kakang,” jawab Nyai Demang di depan kedua bakal calon mantunya.

“Coba, kau pergi cari. Ajak Ageng untuk mengawalmu!” perintah Demang Segara Gara, demi menjauhkan istrinya dari tatapan Adipati Bawel Semara yang suka liar.

“Baik, Kakang,” ucap Nyai Demang patuh.

“Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Gusti Adipati,” ucap Demang Segara Gara.

“Ya, tidak apa-apa, Demang,” kata Adipati Bawel Semara mau tidak mau.

Sementar itu, Nyai Demang sudah pergi meninggalkan meja makan yang penuh oleh hidangan lezat. Setibanya di luar, Nyai Demang memanggil pendekar wanita yang bernama Ageng.

Maka, dengan pengawalan Ageng, Nyai Demang pun berjalan-jalan di pasar kaget yang padat oleh pengunjung, baik dari kalangan pendekar maupun warga biasa yang lebih mendominasi.

Ternyata, Nyai Demang tidak benar-benar mencari keberadaan putrinya. Dia pun melakukan shopping, bahkan Ageng ditawarkan asesoris dan makan, tetapi pendekar itu menolak.

“Maaf, Gusti Nyai. Bukankah kita bertujuan mencari Campani?” Ageng bertanya dengan maksud mengingatkan.

“Kedua-duanya bisa dilakukan dalam waktu bersamaan,” jawab Nyai Demang sambil melihat-lihat produk-produk kecantikan tradisional.

“Iya, Gusti Nyai,” ucap Ageng tidak protes lagi.

“Pupur ini bagus, Ageng. Jika bedakmu sedikit lebih tebal, kau pasti terlihat lebih cantik,” kata Nyai Demang sambil menunjukkan wadah yang berisi pupur untuk bedak.

Mendengar perkataan majikannya itu, Ageng seketika teringat dengan Rugi Sabuntel. Ia pun membayangkan reaksi Rugi Sabuntel ketika melihatnya lebih cantik dari yang sekarang.

“Te-terima kasih, Nyai,” ucap Ageng terbata, menolak dengan santun.

“Ayo, ambillah!” kata Nyai Demang sambil memberi paksa pupur itu ke tangan Ageng.

Ageng pun terpaksa menerimanya, karena tidak mungkin ia menghindarkan tangannya dari tangan Nyai Demang.

“Aku yang membelikannya untukmu. Kau tidak perlu sungkan, Ageng,” tandas Nyai Demang sembari tersenyum.

“Terima kasih, Nyai,” ucap Ageng, girang di dalam hati.

“Nah, pewarna bibir ini juga cocok dengan model wajahmu,” kata Nyai Demang lagi sambil kembali memberikan sebuah lipstik tradisional ke tangan Ageng.

Hanya pakar kecantikan yang bisa menjawab, apakah benar warna gincu berpengaruh pada model wajah seorang wanita. Jadi Ageng pun tidak bisa membantah.

Lagi-lagi Ageng tidak bisa menolak, tapi hatinya senang karena sebentar lagi dia akan tampil lebih cantik.

Di sisi lain dari keramaian itu, tampak Campani secara diam-diam mengintip keasikan Rugi Sabuntel dan rekan-rekannya sedang makan sambil bincang-bincang santai.

Campani pun bersiasat. Ia lalu berpura-pura sedang melihat-lihat dagangan macam-macam golok dan pisau yang ada dua lapak dari tempak Rugi dkk makan. Dia berpura-pura tidak melihat keberadaan Rugi dan kawan-kawan dengan berdiri membelakanginya, tetapi dia menempatkan dirinya agar mudah dilihat oleh Rugi.

“Sst sst!” desis Blikik tiba-tiba kepada Rugi Sabuntel sambil memberi kode tunjukan dengan matanya. Dia menunjukkan wajahnya ke arah lapak penjual golok.

Rugi, Bendong dan Citayam jadi menengok ke arah lapak penjual golok.

“Campani!” tanpa pikir pendek, Rugi Sabuntel memanggil Campani setelah mengenali sosok yang dimaksud Blikik.

Namun, Campani pura-pura terlalu sibuk memilih pisau cukur, sehingga terkesan tidak mendengar.

Sementara Campani jadi kerutkan kening, karena Rugi tidak memanggilnya lagi untuk kedua kali. Jika Rugi tidak memanggil lagi, berarti sia-sia siasatnya. Dia pun akan malu hati jika tahu-tahu datang kepada mereka dan sok dekat sok akrab.

“Kenapa dia tidak mendengar? Padahal panggilanku sekencang ototku,” kata Rugi Sabuntel kepada rekan-rekannya.

“Seperti ini cara memanggilnya,” kata Bendong. Dia lalu melempar sepotong tulang ayam yang baru saja habis digerogotinya.

Tulang ayam itu Bendong lempar ke belakang tanpa melihat target lagi, cukup sekali lihat pada awal menengok. Tak! Ternyata lemparan tulang itu tepat mengenai belakang kepala Campani.

“Aw!” pekik Campani terkejut dan refleks memegangi belakang kepalanya sembari memeriksanya. Tidak benjol, tidak berdarah.

Campani mau tidak mau harus menengok, dia pikir orang yang menimpuknya dengan tulang ayam adalah orang lain.

Ketika dia menengok mencari orang yang bergelagat melakukan penimpukan, dia melihat Rugi Sabuntel sudah mengangkat lengan besarnya melambai kepada Campani.

“Hahaha!” tawa Rugi dan Blikik melihat keterkejutan Campani.

Campani terkejut karena ternyata orang yang melemparnya adalah Rugi, meski dugaannya itu masih juga salah. Dia juga terkejut karena bahagia bisa langsung bertemu pandang dengan Rugi Sabuntel, meski saat yang bersamaan dia juga bertemu pandang dengan Blikik, tapi senyum Blikik tidak manis.

“Campani, ke mari!’ panggil Rugi Sabuntel, karena memang hanya dia yang berani memanggil Campani.

Tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura masih sibuk memilih golok atau pisau cukur, Campani pun segera datang mendekat sambil tersenyum malu-malu.

“Eh, Kakang Rugi, Kakang Blikik,” sapa Campani. Dia hanya mengenal dua buruh ibunya itu.

“Dan Kakang Bendong,” tunjuk Rugi kepada Bendong yang posisi duduknya menyampingi Campani yang masih berdiri.

Campani menengok memandang kepada Bendong yang tidak bisa ia lihat wajahnya dengan penuh. Sementara Bendong pun hanya menengok sedikit, sekedar melirik sosok si gadis cantik jelita.

“Kakang Bendong!” sapa Campani sembari tersenyum.

“Hmm!” gumam Bendong hanya mengangguk pelan tanpa senyum.

“Ayo, makan bersama kami, Campani. Selagi kami baru mulai,” ajak Rugi Sabuntel, padahal dia sudah habis satu porsi.

“Baru mulai dari mana? Kau sudah habis itu,” sergah Blikik.

“Aku baru mulai yang kedua!” tandas Rugi sembari mendelik kepada Blikik.

“Hihihi!” tawa Campani dan Citayam merasa lucu.

“Kakang, satu ya! Pakai ikan goreng saja!” teriak Campani bersegera kepada tukang nasi bambu bakarnya.

“Baik, Nyai Demang!” sahut si pedagang sambil mengangguk kepada Campani.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel dan Blikik mendengar penyebutan oleh tukang nasi bambu bakar.

“Hihihi!” tawa Campani pula.

“Silakan duduk, Nyai Demang,” kata Bendong pula tanpa memandang Campani. Entah dia satu paham dengan si tukang nasi atau sengaja keliru untuk berseloroh saja.

“Hahaha!” Rugi Sabuntel dan Blikik kian tertawa, tapi mereka tidak melakukan peralatan.

“Ibu!” ucap Campani terkejut sambil melihat ke belakang Rugi dan Blikik.

Tawa Rugi Sabuntel dan Bliki mendadak berhenti karena terkejut melihat Campani menyapa seseorang di belakang mereka. Bendong pun memandang ke belakang mereka.

Rugi Sabuntel dan Blikik cepat menengok ke belakang. Mereka berdua terkejut karena mendapati Nyai Demang yang asli telah berdiri di belakang mereka. Dia berdiri dengan kecantikannya yang begitu memesona. Maklum, tadi sepanjang pertandingan, mereka hanya melihat Nyai Demang dari jauh.

Lebih terkejut lagi Rugi Sabuntel, tapi tentunya hanya sebatas dalam dada, karena melihat keberadaan Ageng yang juga cantiknya menggoda dengan tanpa senyum. Meski kecantikan Ageng tidak bisa mengungguli Nyai Demang dan Campani, tetapi Rugi sudah pernah melihat senyum mahalnya yang bisa dijual mahal di mata para lelaki.

“Eh, Nyai Demang! Hahaha!” ucap Rugi Sabuntel terkejut, lalu tertawa.

Dia buru-buru bangkit berdiri dan menjura hormat kepada majikan cantiknya itu. Rugi pun berubah drastis jadi santun dan pemalu seperti Campani.

“Aku kira tadi Bendong bergurau,” ucap Blikik yang juga bangkit dan menghormat kepada Nyai Demang.

“Ageng!” sapa Rugi Sabuntel pula kepada Ageng, sembari memberinya senyum manis seorang pemuda gendut.

Ageng hanya membalas sapaan Rugi dengan senyuman kecil yang canggung, tapi sukses mempermanis sedikit wajah dinginnya. Meski demikian, hanya dia yang tahu bahwa hatinya saat itu sedang membesar oleh tiupan angin kebahagiaan.

“Oh, jadi kalian berdua sudah saling kenal?” tanya Nyai Demang kepada Rugi dan Ageng.

“Tentu, Nyai Demang. Pendekar Ageng ini adalah penga....”

Plak!

Rugi tiba-tiba menepak kepala Blikik yang memutus kata-kata sahabatnya itu.

“Kau jangan bicara sembarangan di depan Nyai Demang!” hardik Rugi kepada Blikik.

“Hihihi!” tawa Nyai Demang renyah. Lalu katanya, “Ayo, lanjutkan makannya. Tentunya aku dan Ageng boleh bergabung?”

“Oooh, tentu boleh, Nyai. Aku tidak mau dipecat dari gudang jagung jika melarang Nyai bergabung,” kata Blikik.

“Hihihi!” tawa Nyai Demang dan Campani.

“Hahaha!” tawa para pemuda itu juga. (RH)

Bersambung ke: PKK 24: Berani Ambil Dua by Rudi Hendrik

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar