*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Akhirnya putaran pertama Duel Pendekar Butogilo berakhir dengan enam belas pendekar dinyatakan sebagai pemenang dan enam belas separuhnya gugur.
Putaran kedua yang akan mengadu delapan pendekar melawan
delapan pendekar akan berlangsung setelah waktu asar, mungkin bermaksud memberi
kesempatan bagi para peserta dan penonton untuk melaksanakan salat zuhur dan
asar bagi yang Muslim. Namun ternyata, tidak ada seorang pun yang Muslim.
Waktu jeda tentunya dimanfaatkan oleh Rugi Sabuntel
untuk berwisata kuliner di tempat tersebut bersama dengan Bendong, Blikik dan
Citayam. Mereka mencoba makan nasi bambu bakar gula aren. Jangan dibayangkan
seperti apa rasanya!
Di masa istirahat itu, Demang Segara Gara harus
menyambut makan Adipati Bawel Semara dan putranya Samber Raga di dalam rumah
keduanya.
“Nyai, di mana Campani?” tanya Demang Segara Gara
kepada istrinya.
“Aku juga tidak tahu, Kakang,” jawab Nyai Demang di
depan kedua bakal calon mantunya.
“Coba, kau pergi cari. Ajak Ageng untuk mengawalmu!”
perintah Demang Segara Gara, demi menjauhkan istrinya dari tatapan Adipati
Bawel Semara yang suka liar.
“Baik, Kakang,” ucap Nyai Demang patuh.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Gusti Adipati,”
ucap Demang Segara Gara.
“Ya, tidak apa-apa, Demang,” kata Adipati Bawel Semara
mau tidak mau.
Sementar itu, Nyai Demang sudah pergi meninggalkan
meja makan yang penuh oleh hidangan lezat. Setibanya di luar, Nyai Demang
memanggil pendekar wanita yang bernama Ageng.
Maka, dengan pengawalan Ageng, Nyai Demang pun
berjalan-jalan di pasar kaget yang padat oleh pengunjung, baik dari kalangan
pendekar maupun warga biasa yang lebih mendominasi.
Ternyata, Nyai Demang tidak benar-benar mencari
keberadaan putrinya. Dia pun melakukan shopping, bahkan Ageng ditawarkan
asesoris dan makan, tetapi pendekar itu menolak.
“Maaf, Gusti Nyai. Bukankah kita bertujuan mencari
Campani?” Ageng bertanya dengan maksud mengingatkan.
“Kedua-duanya bisa dilakukan dalam waktu bersamaan,”
jawab Nyai Demang sambil melihat-lihat produk-produk kecantikan tradisional.
“Iya, Gusti Nyai,” ucap Ageng tidak protes lagi.
“Pupur ini bagus, Ageng. Jika bedakmu sedikit lebih
tebal, kau pasti terlihat lebih cantik,” kata Nyai Demang sambil menunjukkan
wadah yang berisi pupur untuk bedak.
Mendengar perkataan majikannya itu, Ageng seketika
teringat dengan Rugi Sabuntel. Ia pun membayangkan reaksi Rugi Sabuntel ketika
melihatnya lebih cantik dari yang sekarang.
“Te-terima kasih, Nyai,” ucap Ageng terbata, menolak
dengan santun.
“Ayo, ambillah!” kata Nyai Demang sambil memberi paksa
pupur itu ke tangan Ageng.
Ageng pun terpaksa menerimanya, karena tidak mungkin
ia menghindarkan tangannya dari tangan Nyai Demang.
“Aku yang membelikannya untukmu. Kau tidak perlu
sungkan, Ageng,” tandas Nyai Demang sembari tersenyum.
“Terima kasih, Nyai,” ucap Ageng, girang di dalam
hati.
“Nah, pewarna bibir ini juga cocok dengan model
wajahmu,” kata Nyai Demang lagi sambil kembali memberikan sebuah lipstik
tradisional ke tangan Ageng.
Hanya pakar kecantikan yang bisa menjawab, apakah
benar warna gincu berpengaruh pada model wajah seorang wanita. Jadi Ageng pun
tidak bisa membantah.
Lagi-lagi Ageng tidak bisa menolak, tapi hatinya
senang karena sebentar lagi dia akan tampil lebih cantik.
Di sisi lain dari keramaian itu, tampak Campani secara
diam-diam mengintip keasikan Rugi Sabuntel dan rekan-rekannya sedang makan
sambil bincang-bincang santai.
Campani pun bersiasat. Ia lalu berpura-pura sedang
melihat-lihat dagangan macam-macam golok dan pisau yang ada dua lapak dari
tempak Rugi dkk makan. Dia berpura-pura tidak melihat keberadaan Rugi dan
kawan-kawan dengan berdiri membelakanginya, tetapi dia menempatkan dirinya agar
mudah dilihat oleh Rugi.
“Sst sst!” desis Blikik tiba-tiba kepada Rugi Sabuntel
sambil memberi kode tunjukan dengan matanya. Dia menunjukkan wajahnya ke arah
lapak penjual golok.
Rugi, Bendong dan Citayam jadi menengok ke arah lapak
penjual golok.
“Campani!” tanpa pikir pendek, Rugi Sabuntel memanggil
Campani setelah mengenali sosok yang dimaksud Blikik.
Namun, Campani pura-pura terlalu sibuk memilih pisau
cukur, sehingga terkesan tidak mendengar.
Sementara Campani jadi kerutkan kening, karena Rugi
tidak memanggilnya lagi untuk kedua kali. Jika Rugi tidak memanggil lagi,
berarti sia-sia siasatnya. Dia pun akan malu hati jika tahu-tahu datang kepada
mereka dan sok dekat sok akrab.
“Kenapa dia tidak mendengar? Padahal panggilanku
sekencang ototku,” kata Rugi Sabuntel kepada rekan-rekannya.
“Seperti ini cara memanggilnya,” kata Bendong. Dia
lalu melempar sepotong tulang ayam yang baru saja habis digerogotinya.
Tulang ayam itu Bendong lempar ke belakang tanpa
melihat target lagi, cukup sekali lihat pada awal menengok. Tak! Ternyata
lemparan tulang itu tepat mengenai belakang kepala Campani.
“Aw!” pekik Campani terkejut dan refleks memegangi
belakang kepalanya sembari memeriksanya. Tidak benjol, tidak berdarah.
Campani mau tidak mau harus menengok, dia pikir orang
yang menimpuknya dengan tulang ayam adalah orang lain.
Ketika dia menengok mencari orang yang bergelagat
melakukan penimpukan, dia melihat Rugi Sabuntel sudah mengangkat lengan
besarnya melambai kepada Campani.
“Hahaha!” tawa Rugi dan Blikik melihat keterkejutan
Campani.
Campani terkejut karena ternyata orang yang
melemparnya adalah Rugi, meski dugaannya itu masih juga salah. Dia juga
terkejut karena bahagia bisa langsung bertemu pandang dengan Rugi Sabuntel,
meski saat yang bersamaan dia juga bertemu pandang dengan Blikik, tapi senyum
Blikik tidak manis.
“Campani, ke mari!’ panggil Rugi Sabuntel, karena
memang hanya dia yang berani memanggil Campani.
Tidak ada alasan lagi untuk berpura-pura masih sibuk
memilih golok atau pisau cukur, Campani pun segera datang mendekat sambil
tersenyum malu-malu.
“Eh, Kakang Rugi, Kakang Blikik,” sapa Campani. Dia
hanya mengenal dua buruh ibunya itu.
“Dan Kakang Bendong,” tunjuk Rugi kepada Bendong yang
posisi duduknya menyampingi Campani yang masih berdiri.
Campani menengok memandang kepada Bendong yang tidak
bisa ia lihat wajahnya dengan penuh. Sementara Bendong pun hanya menengok
sedikit, sekedar melirik sosok si gadis cantik jelita.
“Kakang Bendong!” sapa Campani sembari tersenyum.
“Hmm!” gumam Bendong hanya mengangguk pelan tanpa
senyum.
“Ayo, makan bersama kami, Campani. Selagi kami baru
mulai,” ajak Rugi Sabuntel, padahal dia sudah habis satu porsi.
“Baru mulai dari mana? Kau sudah habis itu,” sergah
Blikik.
“Aku baru mulai yang kedua!” tandas Rugi sembari
mendelik kepada Blikik.
“Hihihi!” tawa Campani dan Citayam merasa lucu.
“Kakang, satu ya! Pakai ikan goreng saja!” teriak
Campani bersegera kepada tukang nasi bambu bakarnya.
“Baik, Nyai Demang!” sahut si pedagang sambil
mengangguk kepada Campani.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel dan Blikik mendengar
penyebutan oleh tukang nasi bambu bakar.
“Hihihi!” tawa Campani pula.
“Silakan duduk, Nyai Demang,” kata Bendong pula tanpa
memandang Campani. Entah dia satu paham dengan si tukang nasi atau sengaja
keliru untuk berseloroh saja.
“Hahaha!” Rugi Sabuntel dan Blikik kian tertawa, tapi
mereka tidak melakukan peralatan.
“Ibu!” ucap Campani terkejut sambil melihat ke
belakang Rugi dan Blikik.
Tawa Rugi Sabuntel dan Bliki mendadak berhenti karena
terkejut melihat Campani menyapa seseorang di belakang mereka. Bendong pun
memandang ke belakang mereka.
Rugi Sabuntel dan Blikik cepat menengok ke belakang.
Mereka berdua terkejut karena mendapati Nyai Demang yang asli telah berdiri di
belakang mereka. Dia berdiri dengan kecantikannya yang begitu memesona. Maklum,
tadi sepanjang pertandingan, mereka hanya melihat Nyai Demang dari jauh.
Lebih terkejut lagi Rugi Sabuntel, tapi tentunya hanya
sebatas dalam dada, karena melihat keberadaan Ageng yang juga cantiknya
menggoda dengan tanpa senyum. Meski kecantikan Ageng tidak bisa mengungguli
Nyai Demang dan Campani, tetapi Rugi sudah pernah melihat senyum mahalnya yang
bisa dijual mahal di mata para lelaki.
“Eh, Nyai Demang! Hahaha!” ucap Rugi Sabuntel
terkejut, lalu tertawa.
Dia buru-buru bangkit berdiri dan menjura hormat
kepada majikan cantiknya itu. Rugi pun berubah drastis jadi santun dan pemalu
seperti Campani.
“Aku kira tadi Bendong bergurau,” ucap Blikik yang
juga bangkit dan menghormat kepada Nyai Demang.
“Ageng!” sapa Rugi Sabuntel pula kepada Ageng, sembari
memberinya senyum manis seorang pemuda gendut.
Ageng hanya membalas sapaan Rugi dengan senyuman kecil
yang canggung, tapi sukses mempermanis sedikit wajah dinginnya. Meski demikian,
hanya dia yang tahu bahwa hatinya saat itu sedang membesar oleh tiupan angin
kebahagiaan.
“Oh, jadi kalian berdua sudah saling kenal?” tanya
Nyai Demang kepada Rugi dan Ageng.
“Tentu, Nyai Demang. Pendekar Ageng ini adalah
penga....”
Plak!
Rugi tiba-tiba menepak kepala Blikik yang memutus
kata-kata sahabatnya itu.
“Kau jangan bicara sembarangan di depan Nyai Demang!”
hardik Rugi kepada Blikik.
“Hihihi!” tawa Nyai Demang renyah. Lalu katanya, “Ayo,
lanjutkan makannya. Tentunya aku dan Ageng boleh bergabung?”
“Oooh, tentu boleh, Nyai. Aku tidak mau dipecat dari
gudang jagung jika melarang Nyai bergabung,” kata Blikik.
“Hihihi!” tawa Nyai Demang dan Campani.
“Hahaha!” tawa para pemuda itu juga. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar