*Harzai by Rudi Hendrik*
Marli segera menghampiri tubuh Lidya ketika melihatnya
mulai bergerak siuman. Marli menepuk-nepuk pipi gadis itu. Lidya membuka
matanya. Wajah pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik Marli, selanjutnya
wajah Arya di belakang kepala Marli. Sadar dirinya belum mati, meledaklah
tangis Lidya.
“Saya mau mati! Saya mau mati menyusul Alvin!” ratap
Lidya.
Pak!
Satu tamparan keras diberikan oleh Marli ke wajah
Lidya. Sontak Lidya terdiam mendelik sembari sesegukan.
“Kamu kira gampang mau mati?!” bentak Marli keras.
“Ayo bangun!”
Marli menarik bangun tangan Lidya. Lidya hanya
menurut, tapi tetap menangis.
“Kalau kamu minta mati lagi, saya lempar kamu ke
bawah!” ancam Marli. Lalu katanya kepada Arya, “Bi, tolong air minum.”
Tanpa ba bi bu lagi, Arya bergegas menuju tangga. Ia
harus turun ke kantin untuk minta air minum.
“Nih, makan!” Marli sodorkan plastik gorengannya.
Sambil sesegukan, Lidya mengambil satu gorengan lalu
memakannya.
“Siapa pacar kamu?” tanya Marli.
“Alvin.”
“Oh ya, saya kenal mukanya. Kenapa dia?”
“Ditembak polisi.”
“Narkoba?”
Lidya menjawab dengan anggukan.
“Memang sudah telat?”
“Iya.”
“Berapa bulan?”
“Tiga.”
“Alvin tahu kamu sudah ngisi?”
“Tahu.”
“Siapa lagi?”
“Kamu.”
“Saya beruntung dong,” kata Marli lalu tertawa kecil.
“Kamu juga beruntung, bakal punya anak di usia muda.”
Perkataan Marli itu membuat Lidya berhenti mengunyah
dan menatap gadis cantik di depannya. Lima hitungan terdiam, meledak kembali
tangis Lidya, sehingga gorengan di mulutnya berjatuhan. Marli membuka kedua
tangannya, menawarkan pelukan pelipu lara. Lidya pun menenggelamkan tangisnya
dalam pelukan Marli.
Marli berkata demikian bukan berarti Marli tidak
memahami perasaan Lidya yang remuk hancur lebur seperti botol dilindas
buldoser. Marli hanya bermaksud menghibur dengan sedikit candaan yang nyatanya
gagal.
“Tenangkan dirimu. Setiap manusia pernah mengalami
saat-saat masa krisis pijakan dan pegangan. Jangan memilih mati, itu hal
terbodoh yang akan pernah dipilih oleh manusia,” bisik Marli di belakang kepala
Lidya, mencoba menenangkan. “Jika kamu tidak sanggup melalui ini seorang diri,
maka ajaklah saya untuk membantumu lewati masa-masa burukmu.”
Lidya melepaskan pelukannya. Tangisnya mulai reda.
“Saya punya sahabat, punya orang-orang terdekat, tapi
semuanya jauh bagi saya meski mereka ada di sekitar saya. Keluargaku keluarga
berantakan, semua berjalan masing-masing. Hanya satu orang yang baik kepada
saya, Mar ....”
“Siapa?” tanya Marli memotong.
“Bibi saya. Bibi begitu baik kepada saya. Dari kecil
sampai sekarang dia membiayai sekolah saya. Ia begitu memerhatikan saya.
Kebanyakan saya tumbuh besar bersama Bibi. Tapi, kalau saya terus hidup, saya
sama saja akan melempar wajah bibi saya dengan kotoran hewan. Saya hanya
parasit busuk, Mar!”
“Kamu terlalu berpikiran negatif. Saya rasa tidak
seburuk itu,” hibur Marli.
“Enggak, saya terlalu buruk, Mar. sampai-sampai
malaikat maut tidak mau menerima kematian saya.”
“Itu pasti cuma perasaan kamu yang berlebihan. Saya
yakin, bibi kamu tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan dari kamu. Jika
yang lainnya kamu anggap telah tidak berarti dalam hidup kamu, setidaknya ada
sesuatu yang harus kamu pertahankan untuk tidak kamu sia-siakan, yaitu perasaan
bibi kamu. Mengetahui kondisi kamu yang sudah tercebur, jelas satu pukulan
telak bagi bibi kamu. Tapi itu akan menjadi tikaman yang lebih menyakitkan bila
bibi kamu mengetahui hal yang lebih buruk lagi. Orang yang salah jalan, masih
memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang lurus selagi raganya masih
bernapas. Bagimu bunuh diri adalah akhir dari penderitaanmu. Dan itulah
egoisnya kamu. Bunuh dirimu akan jadi beban besar bagi banyak orang. Kita ini
terlalu lemah, tidak mampu menalar hal-hal yang tersembunyi dari kehidupan kita....”
“Air dataaang!” teriak Arya yang muncul dari tangga
dengan senyum jenakanya. Ia membawa segelas besar air putih, lengkap dengan
penutup gelasnya.
“Namanya Arya Kalanbi. Dia mengaku pernah mimpi jadi
pacarmu,” kata Marli.
“Wuahahaha!” teriak Arya lalu tertawa malu. “Itukan
hanya mimpi. Hahaha! Jadi malu pakai dikenalkan, seperti bintang jatuh saja. Hahaha!”
Namun, Lidya tidak tertawa ataupun tersenyum dengan
sikap salah tingkah Arya. Justru Marli yang tertawa melihat sikap dingin yang
diberikan Lidya.
Habis. Air putih segelas besar itu habis seketika
diminum oleh Lidya.
“Alhamdulillah. Tidak sia-sia saya lari-lari naik
turun tangga ambil air,” ucap Arya mencoba menghibur. Lalu katanya serius,
“Aduh, Eneng! Jangan bunuh diri, jangaaan. Kalau karena cinta yang bocor, Abang
siap jadi penambal lubang. Kalau karena cinta diambil orang, Abang siap jadi
serepnya. Kalau karena banyak utang, Abang jelas tidak bisa bayarkan.”
Tersedak napas Lidya hendak tertawa oleh ulah Arya.
Arya dan Marli jadi tertawa.
“Sehubung karena kamu masih labil, jadi untuk hari ini
dan beberapa hari ke depan, kamu jadi urusan saya. Ikuti instruktur dan arahan
saya. Oke?” kata Marli serius kepada Lidya.
Lidya mengangguk.
“Bersihkan wajahmu. Saya antar ke wali kelas untuk
izin pulang. Setelah itu, ikuti saja saya. Oke?” kata Marli lagi.
“Oke,” Lidya setuju.
“Mbi, ini adalah aib, jadi jangan sampai bocor dan
luber ke mana-mana,” kata Marli kepada sahabatnya. “Yaaa, berharaplah, semoga
Lidya mau memilihmu jadi pengganti Alvin-nya yang mati.”
“Hah?!” pekik Arya terkejut, mendelik serius memandang
kedua siswi itu. “Alvin anak pengusaha furnitur itu sudah mati? Yang katanya
pengedar itu?”
“Kamu tahu dari mana kalau Alvin mengedar?” tanya
Marli.
“Ujang saja beli ganja ke Alvin. Sudah rahasia umum
bagi pelajar di sini,” kata Arya.
“Alvin memang pengedar,” kata Lidya membenarkan.
“Kalian berdua sedang apa di atas sini?”
“Ini adalah markas Hunter Z. Hunter Z ada tiga
personel, yaitu saya, Arya dan Udin Goplax. Udin sedang sakit meriang. Setiap pagi, istirahat, jam kosong, bahkan
terkadang jam pulang, kami bersantai dan bermusyawarah di sini,” jelas Marli.
“Ayo kita izin pulang!”
Marli menarik pergi tangan Lidya yang hanya menurut,
meninggalkan Arya yang duduk mengunyah gorengan. (RH)
Bersambung ke: Bab5


0 komentar:
Posting Komentar