Pada pagi yang sama di saat kematian Haji Daeng Tanri, Vina baru saja selesai sarapan enak, yakni nasi goreng dua mata kerbau dengan minuman susu non alkohol.
Ia sarapan bersama bibinya yang bernama Anti Puspa,
seorang dokter gigi yang justru terjun ke dunia bisnis wewangian. Maka jangan
heran jika rumah mewah itu selalu harum. Keharuman adalah syarat wajib bagi
rumah dan orang-orangnya.
Selain bersama adik perempuan dari ayahnya, Vina juga
sarapan satu meja dengan suami bibinya yang bernama Wito Sudrajat, seorang
lelaki Jogja yang sukses di bidang IT. Wito yang bergelar Magister Komputer
itu, selain seorang dosen di sebuah universitas di DKI Jakarta, dia juga adalah
konsultan IT. Maka tidak heran jika beberapa bagian dari rumah dilengkapi
dengan teknologi canggih kekinian.
Selain itu juga, ada Ririn Vanesa, gadis SMA kelas 11
dan Ricardo Sudrajat yang pendidikannya sudah kelas sembilan SMP.
Sarapan mereka dilayani oleh seorang asisten rumah
tangga bernama Lastri, mantan pengusaha warteg yang bangkrut karena salah pilih
suami. Saat ini statusnya “janda berkomitmen”, yaitu berkomitmen tidak akan
menikah lagi karena trauma.
Toot!
Tiba-tiba
terdengar suara klakson sepeda motor dari luar rumah.
“Vina, Riky sudah datang menjemput,” kata Wito kepada
Vina. Dia sudah hafal dengan suara klakson sepeda motor keponakannya itu.
Memang, sesuai agenda yang sudah disepakati, pagi ini
Vina akan diantar oleh Riky ke kampus sebagai mahasiswi pindahan, yang artinya
mahasiswi baru. Dan itu satu kampus dengan Riky. Kemarin Vina sudah dikenalkan
kepada Riky oleh pamannya.
“Iya, Om,” jawab Vina sambil tersenyum.
Vina lalu mempercepat menghabiskan sarapannya.
“Iiih, pelan-pelan, Kak. Hmm, mentang-mentang mau
diantar sama Mas Ganteng,” kata Ririn menggoda Vina.
Vina tidak mengomentari gurauan Ririn.
“Enggak boleh bilang begitu, Rin,” tegur Anti Puspa
kepada putrinya.
“Biar Kak Vina berbunga-bunga, Ma,” kata Ririn.
“Hahaha!” tawa rendah keluarga itu, termasuk Vina.
“Wiiih, mantap kali sarapannya!” kata seorang pemuda
yang tahu-tahu sudah berjalan masuk ke ruang makan tersebut, seperti keluarga
sendiri dan rumah sendiri.
Pemuda itu bergaya anak muda dan berparas tampan.
Rambut hanya sedikit gondrong. Pemuda beralis bagus itu bernama Riky Andreas,
keponakan Wito.
“Sarapan, Rik,” kata Anti Puspa.
“Terima kasih, Bi. Sudah sarapan angin di jalan.
Hahaha!” jawab Riky bergurau. Lalu katanya kepada Vina, “Vin, ayo!”
“Sebentar ya, saya habiskan dulu,” kata Vina.
“Kamu harus perhatikan Vina nanti di kampus. Bagi Vina
itu jadi lingkungan baru, jadi butuh adaptasi, Rik,” pesan Wito.
“Bereslah itu. Teman-teman gua banyak yang cewek,
Mas,” kata Riky kepada pamannya. Lalu katanya kepada Vina, “Nanti elu bisa
pilih, Vin. Elu mau akrab sama karakter yang seperti apa. Apakah yang cerewet,
atau yang kalem, atau yang norak juga ada.”
“Iya,” jawab Vina seraya tersenyum dan menuju kepada
pengakhiran dari sarapannya.
“Atau elu mau langsung cari pacar? Gua punya lebih
banyak koleksi cowok, dari yang melambai sampai yang kaku. Atau elu mau pilih
model kayak gua? Hahaha!” kata Riky lagi yang membuat Wito, Anti, dan Ricardo
tertawa, kecuali Ririn.
Vina hanya tersenyum.
“Mas Riky seperti sales yang lagi ngobral pakai
gombalan!” celetuk Ririn dengan tatapan kurang suka terhadap gaya candaan
pemuda tampan tersebut.
“Hahaha!” Riky malah tertawa.
“Bi, Mas, saya izin berangkat dulu,” ucap Vina setelah
menghabiskan sarapan dan minumannya.
“Iya. Hati-hati,” jawab Anti Puspa.
Vina lalu beranjak dari duduknya. Ia menyalim punggung
tangan bibi dan pamannya.
“Kalau masih baru-baru begini, keamanan Vina jadi
tanggung jawab kamu, Rik,” pesan Wito.
“Assiap, Mas!” jawab Riky enteng.
Setelah mengambil tasnya yang sudah dia siapkan
sebelumnya, Vina lalu berjalan ke luar mengikuti Riky yang sudah berjalan lebih
dulu.
Sepeda motor Riky yang berwarna merah adalah model
laki 250 cc, yang bagian boncengannya cukup tinggi.
Melihat jenis sepeda motor itu, Vina langsung ingat
dengan sepeda motor milik Rudi yang pastinya otomatis ingat Rudi, hanya model
ini lebih tinggi kelasnya.
“Rudi rindu saya gak ya?” batin Vina yang termenung
sejenak.
“Nih!” ucap Riky sambil menyentuhkan helm ke lengan
Vina.
Vina agak terkejut. Dia langsung tersenyum irit dan
menerima helm yang diberikan kepadanya.
“Ayo!” ajak Riky yang sudah duduk di sepeda motornya.
Untung, saat itu Vina tidak mengenakan rok pendek. Dia
bercelana, jadi tidak begitu repot untuk naik ke boncengan. Namun, model sepeda
motor seperti itu, membuatnya harus memeluk pinggang Riky. Jika tidak, maka dia
yang akan tersiksa.
Di dalam hati, Vina merasa agak risih, tapi apa boleh
buat. Berbeda jika ketika dia dibonceng Rudi, momen yang selalu dia suka. Dia
bisa memeluk Rudi sekencang-kencangnya, sampai-sampai Rudi mengeluh karena
pelukan yang terlalu kencang.
“Pegangan yang kencang!” kata Riky yang sudah lengkap
berhelm.
“Iya.”
Sepeda motor lalu bergerak keluar dari halaman mobil
mewah itu. Seorang pembantu lelaki membukakan pintu pagar.
Setelah itu mereka melesat di jalanan perumahan,
kemudian keluar ke jalan raya besar.
“Vina!” panggil Riky agak kencang.
“Iya?” jawab Vina, juga agak berteriak agar saling mendengar.
“Gadis secantik elu, pastinya sudah punya pacar, kan?”
tanya Riky.
“Iya.”
“Terus, kenapa elu pilih pindah kuliah?”
“Yaaa, sedikit ada masalah di sana,” jawab Vina jujur.
“Sama gebetan elu?”
“Bukan.”
“Oooh. Berarti elu pindah kuliah murni untuk
pendidikan.” Riky menyimpulkan.
Sejenak mereka saling terdiam. Jika Riky fokus kepada
jalanan, maka Vina fokus kepada pemandangan Ibu Kota yang kemegahannya sangat
berbeda dengan daerah.
“Gua sih yakin, Vin. Di kampus, cepat atau lambat,
pasti banyak mahasiswa yang naksir elu,” kata Riky kembali membuka pembicaraan.
“Sikap elu bagaimana?”
“Saya mana tahu, Mas,” jawab Vina, yang memang bingung
menjawab pertanyaan seperti itu. Apalagi jika nanti kondisi seperti itu memang
tercipta.
“Hahaha! Gua yakin, elu pasti goyah sama yang di
kampung,” kata Riky setelah tertawa.
“Mas Riky sendiri sudah punya pacar?” tanya balik
Vina.
Riky justru agak terkejut di dalam hati karena dia
menganggap itu serangan balik kepadanya. Itu anggapan dia sendiri, padahal Vina
tidak bermaksud menyerang balik, karena dia tidak sedang berpolitik hati.
“Siapa yang mau sama cowok jelek kayak gua, Vin?”
tanya Riky yang memilih bersiasat dengan suatu harapan, berharap Vina menjawab sesuai
dengan harapannya.
“Mas Riky merendah saja. Mas Riky ganteng seperti ini
mana mungkin tidak ada yang melirik,” kata Vina.
“Yaaa, hanya melirik, Vin. Hahaha!” kata Riky lalu
tertawa senang, harapannya dipuji pun ia dengar. Lalu katanya lagi, “Yang
melirik memang banyak, bahkan ada yang nembak langsung, tapi guanya yang enggak
cocok.”
“Cewek nembak cowok?” tanya Vina seperti orang
terkejut.
“Kenapa? Gak masalah kok. Emansipasi. Malah sekarang
itu lebih banyak cewek lho yang nembak duluan,” kata Riky.
“Oooh,” ucah Vina, meski dia tidak sepakat. Sebab, di
kampungnya, perempuan yang menembak lelaki duluan adalah perkara memalukan.
Bahkan ada slogan “Lebih baik perawan sampai keriput, daripada dapat suami
hasil tembakan”.
Tanpa terasa, sepeda motor itu masuk ke sebuah kawasan
gedung besar beberapa tingkat. Itu sebuah uviversitas yang besar.
Singkat cerita.
Setelah memarkirkan sepeda motornya di parkiran,
mereka berdua langsung pergi menuju ke kampus.
“Lewat sini!” kata Riky sambil menyambar pergelangan
tangan Vina begitu saja dan menggandengnya berjalan berbelok.
Vina agak terkejut, tapi sungkan untuk menolak.
Riky membawa Vina mendatangi sekelompok sesama
mahasiswa yang sedang mengobrol di taman. Ada tiga pemuda dan dua pemudi.
Mereka ganteng-ganteng dan cantik-cantik, bahkan ada yang model wajahnya
kwalitas impor.
“Hallo, Bro! Kenalin, cewek baru gua, namanya Vina!”
sapa Riky kepada teman-temannya yang langsung memperkenalkan Vina dengan
sedikit penyimpangan.
Vina terlihat berekspresi terkesiap karena
diperkenalkan sebagai “cewek baru” Riky. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar