*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
“Berikutnya, Sabung Jangkriiik!” teriak Takar Talas memanggil petarung Duel Pendekar berikutnya.
“Yeee!” sorak penonton yang sedikit-sedikit bersorak,
bersorak kok sedikit-sedikit.
Seorang pendekar bertubuh kurus bersenjatakan parang
segera melompat turun dari tribun, lalu berlari dan melompat jauh melampaui
kepala-kepala para penonton yang berdiri di sekitar panggung. Dia mendarat di
atas panggung papan lalu bergerak-gerak lincah sambil menyabet-nyabetkan
parangnya di ruang kosong sekitar badannya. Siapa tahu ada setan yang mau jahil
kepadanya.
“Penantangnya dari Alas Kasetanan. Dia setan tapi
manusia, manusia tapi setan. Kita panggil bersama-samaaa...!” teriak Takar
Talas lagi.
“Setan Alas Kasetanaaan!” teriak para penonton
bersama-sama. Mereka ternyata sangat hafal dengan nama pendekar yang dimaksud
Takar Talas.
Seorang pendekar lelaki berkulit hitam dan berpakaian
hitam-hitam kehitaman, segera bangkit berdiri. Lelaki berambut gondrong lebat
dan berbrewok tebal itu bersenjata golok besar, tapi sesuai dengan besar
tubuhnya yang tidak begitu besar.
“Yeee!” sorak penonton lagi.
Pendekar yang bernama Setan Alas Kasetanan itu segera
berkelebat di udara. Ia turun di tribun terendah lalu berkelebat kembali naik
ke panggung, berhadapan dengan Sabung Jangkrik.
“Campani, kau menjagokan siapa yang akan menang?”
tanya Demang Segara Gara di tempat duduknya di tribun utama.
“Ah?” tanya Campani yang tidak jelas mendengar
pertanyaan ayahnya. Dia menengok kepada Demang Segara Gara.
“Siapa yang kau jagokan, Campani?” Nyai Demang
mengulang pertanyaan suaminya dengan revisi kalimat yang lebih sederhana.
“Rugi, Ayah,” jawab Campani agak mengeraskan suaranya
karena suara penonton bising mengelu-elukan kedua pendekar yang sedang
bertarung.
“Kau menyukainya?” tanya Demang kepada Campani, tapi
justru Nyai Demang yang terkejut, seolah-olah pertanyaan itu ditujukan
kepadanya.
Campani tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dia hanya
memberi senyuman yang bisa diterka apa maknanya.
“Siapa pun yang kau sukai, tetap saja dia harus
membawa Cincin Mata Pelangi sebagai syarat,” tandas Demang Segara Gara.
Campani mengangguk dengan senyuman yang getir kali
ini.
“Kalau kau menjagokan siapa, Nyai?” tanya Demang
Segara Gara lagi.
Namun, belum juga Nyai Demang menjawab, suaminya sudah
menerka.
“Kau pasti menjagokan Rugi juga, karena dia adalah
anak buahmu.”
“Hihihi!” tawa Nyai Demang tanda membenarkan.
Tawa Nyai Demang mendadak berhenti seperti boneka yang
baterainya kehabisan daya. Dia memandang ke salah satu sisi di jalan yang ramai
oleh para pedagang.
Demang Segara Gara dan Campani jadi ikut memandang
searah dengan Nyai Demang.
Ternyata di jalan yang menjadi pasar kaget itu ada
berjalan sebuah kereta kuda mewah berwarna cat emas berpadu warna hitam.
“Sepertinya itu kereta kuda Adipati Bawel Semara,
Kakang,” kata Nyai Demang.
“Bukan sepertinya, tapi memang iya,” timpal Demang Segara
Gara. “Ayo, kita sambut junjungan kita.”
“Ayo, Campani!” ajak Nyai Demang kepada putrinya.
“Ayah dan Ibu saja, aku sepertinya mau kentut,” jawab
Campani dengan wajah mengerenyit seolah menahan sesuatu, padahal tidak ada yang
dia tahan, angin pun tidak.
Setelah berkata seperti itu, Campani segera ikut
bangkit, tetapi dia pergi lebih dulu menuruni tangga tribun dan pergi ke arah
lain.
Sementara itu, Demang Segara Gara dan istrinya, serta beberapa
kepala desa segera turun untuk menyambut kedatangan Adipati Bawel Semara yang
kereta kudanya dikawal oleh dua puluh prajurit pejalan kaki, yang sepanjang
perjalanan harus berlari maraton mengiringi kereta kuda. Nasib jadi prajurit.
Ketika pintu bilik kereta kuda dibuka, Demang Segara
Gara beserta Istri dan para aparat kademangan dan para kepala desa sudah
berdiri berbaris tidak jauh dari kereta kuda.
Seorang lelaki berpakaian warna perak tapi berhias
emas sebagai asesoris bergerak keluar dari bilik kereta kuda. Setelah keluar
sempurna, maka terlihatlah dengan jelas sosok lelaki separuh baya lebih sepuluh
tahun berperut agak gendut. Lelaki berbelangkon putih itu memelihara kumis
tebal dengan jenggot yang klimis karena rajin dikerok. Dipinggang belakangnya
terselip sebuah keris bergagang warna emas. Dialah Adipati Bawel Semara
penguasa Kadipaten Bantar Gepeng.
“Sembah hormat hamba, Gusti Adipati!” ucap Demang Segara
Gara sambil turun berlutut dan menjura hormat. Semua jajaran Demang ikut turun
berlutut.
“Bangunlah, Calon Mertua!” kata Adipati Bawel Semara
kepada Demang Segara Gara.
Terkejut Demang Segara Gara beserta jajarannya
mendengar sebutan “Calon Mertua”. Bagaimana bisa Adipati yang berusia jauh
lebih tua menyebut Demang Segara Gara sebagai “Calon Mertua”? Jangan dijawab!
Namun, keterkejutan para staf kademangan dan para
kepala desa itu cukup dipendam sementara dulu, nanti di belakang mereka akan
bahas.
Di saat ramah tamah menyambut pejabat itu berlangsung,
pertarungan di atas panggung terus berlangsung. Campani telah menyembunyikan
kecantikannya dengan duduk di tribun, tidak jauh dari tribun ujung tempat para
pendekar peserta duduk, salah satunya adalah Rugi Sabuntel.
Ingin rasanya Campani berteriak memanggil Rugi
Sabuntel, tapi dia masih punya rasa malu di hati. Dia dengan Rugi Sabuntel tidak
akrab, baru sekali bertemu saat di gudang jagung dan hari ini pun sekedar saling
pandang jauh.
“Di mana Campani, Demang?” tanya Adipati Bawel Semara.
“Tadi ada bersama kami, tapi baru saja pergi karena ada
urusan genting, Gusti,” jawab Demang Segara Gara lalu mempersilakan untuk menuju
ke tribun.
Drap drap drap!
Baru saja sang adipati berjalan meninggalkan kereta
kuda yang diikuti oleh Demang Segara Gara dan jajarannya, tiba-tiba datang
mendekat seekor kuda yang berlari cukup kencang di jalan yang ramai oleh para
warga.
Kuda itu ditunggangi oleh seorang pemuda tampan, jauh
lebih tampan dari Demang Segara Gara, apalagi dari Rugi Sabuntel. Pemuda berpakaian
warna putih berhias sulaman benang merah itu berhenti di dekat kereta kuda.
Kudanya segera disambut oleh seorang prajurit pengawal kereta kuda Adipati.
Pemuda bernama Samber Raga itu turun dari kudanya dan
segera menghampiri Adipati Bawel Semara tanpa menaruh hormat. Melihat
kedatangan si pemuda, ekspresi wajah sang adipati berubah tidak nyaman.
“Ayah!” sapa Samber Raga kepada Adipati Bawel Semara.
“Bukankah kau pergi ke kediaman gurumu?” tanya Adipati
yang adalah ayah dari Samber Raga.
“Aku tidak akan membiarkan Ayah mencuri kesempatan
untuk bertemu lebih banyak dengan Campani dibandingkan aku,” kilah Samber Raga.
“Aku hanya melakukan kunjungan ingin melihat langsung perkembangan
pertandingan ini dari waktu ke waktu,” kata Adipati Bawel Semara.
“Ki Demang, apakah syarat Cincin Mata Pelangi sudah
kau cabut?” tanya Samber Raga.
“Mohon maaf, Gusti, syarat itu adalah syarat wajib,”
jawab Demang Segara Gara santun.
“Aku yakin, jika syarat sulit itu tetap kau
pertahankan, Campani bisa jadi perawan tua,” kata Adipati Bawel Semara bernada
menggerutu sambil melangkah menuju tribun utama.
Ayah dan anak inilah yang pernah diceritakan oleh
Buntet, sais kereta kuda Nyai Demang, bersaing untuk melamar Campani. Meski
Demang Segara Gara sudah menetapkan syarat sulit, rupanya Adipati Bawel Semara
dan putranya masih bersaing hingga saat ini.
Sementara itu, Campani hanya memantau ayah dan anak
itu dari kejauhan. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar