PKK 22: Bakal Calon Mantu Datang by Rudi Hendrik

Ilustrasi gambar: AI Gemini

*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

“Berikutnya, Sabung Jangkriiik!” teriak Takar Talas memanggil petarung Duel Pendekar berikutnya.

“Yeee!” sorak penonton yang sedikit-sedikit bersorak, bersorak kok sedikit-sedikit.

Seorang pendekar bertubuh kurus bersenjatakan parang segera melompat turun dari tribun, lalu berlari dan melompat jauh melampaui kepala-kepala para penonton yang berdiri di sekitar panggung. Dia mendarat di atas panggung papan lalu bergerak-gerak lincah sambil menyabet-nyabetkan parangnya di ruang kosong sekitar badannya. Siapa tahu ada setan yang mau jahil kepadanya.

“Penantangnya dari Alas Kasetanan. Dia setan tapi manusia, manusia tapi setan. Kita panggil bersama-samaaa...!” teriak Takar Talas lagi.

“Setan Alas Kasetanaaan!” teriak para penonton bersama-sama. Mereka ternyata sangat hafal dengan nama pendekar yang dimaksud Takar Talas.

Seorang pendekar lelaki berkulit hitam dan berpakaian hitam-hitam kehitaman, segera bangkit berdiri. Lelaki berambut gondrong lebat dan berbrewok tebal itu bersenjata golok besar, tapi sesuai dengan besar tubuhnya yang tidak begitu besar.

“Yeee!” sorak penonton lagi.

Pendekar yang bernama Setan Alas Kasetanan itu segera berkelebat di udara. Ia turun di tribun terendah lalu berkelebat kembali naik ke panggung, berhadapan dengan Sabung Jangkrik.

“Campani, kau menjagokan siapa yang akan menang?” tanya Demang Segara Gara di tempat duduknya di tribun utama.

“Ah?” tanya Campani yang tidak jelas mendengar pertanyaan ayahnya. Dia menengok kepada Demang Segara Gara.

“Siapa yang kau jagokan, Campani?” Nyai Demang mengulang pertanyaan suaminya dengan revisi kalimat yang lebih sederhana.

“Rugi, Ayah,” jawab Campani agak mengeraskan suaranya karena suara penonton bising mengelu-elukan kedua pendekar yang sedang bertarung.

“Kau menyukainya?” tanya Demang kepada Campani, tapi justru Nyai Demang yang terkejut, seolah-olah pertanyaan itu ditujukan kepadanya.

Campani tidak menjawab pertanyaan ayahnya, dia hanya memberi senyuman yang bisa diterka apa maknanya.

“Siapa pun yang kau sukai, tetap saja dia harus membawa Cincin Mata Pelangi sebagai syarat,” tandas Demang Segara Gara.

Campani mengangguk dengan senyuman yang getir kali ini.

“Kalau kau menjagokan siapa, Nyai?” tanya Demang Segara Gara lagi.

Namun, belum juga Nyai Demang menjawab, suaminya sudah menerka.

“Kau pasti menjagokan Rugi juga, karena dia adalah anak buahmu.”

“Hihihi!” tawa Nyai Demang tanda membenarkan.

Tawa Nyai Demang mendadak berhenti seperti boneka yang baterainya kehabisan daya. Dia memandang ke salah satu sisi di jalan yang ramai oleh para pedagang.

Demang Segara Gara dan Campani jadi ikut memandang searah dengan Nyai Demang.

Ternyata di jalan yang menjadi pasar kaget itu ada berjalan sebuah kereta kuda mewah berwarna cat emas berpadu warna hitam.

“Sepertinya itu kereta kuda Adipati Bawel Semara, Kakang,” kata Nyai Demang.

“Bukan sepertinya, tapi memang iya,” timpal Demang Segara Gara. “Ayo, kita sambut junjungan kita.”

“Ayo, Campani!” ajak Nyai Demang kepada putrinya.

“Ayah dan Ibu saja, aku sepertinya mau kentut,” jawab Campani dengan wajah mengerenyit seolah menahan sesuatu, padahal tidak ada yang dia tahan, angin pun tidak.

Setelah berkata seperti itu, Campani segera ikut bangkit, tetapi dia pergi lebih dulu menuruni tangga tribun dan pergi ke arah lain.

Sementara itu, Demang Segara Gara dan istrinya, serta beberapa kepala desa segera turun untuk menyambut kedatangan Adipati Bawel Semara yang kereta kudanya dikawal oleh dua puluh prajurit pejalan kaki, yang sepanjang perjalanan harus berlari maraton mengiringi kereta kuda. Nasib jadi prajurit.

Ketika pintu bilik kereta kuda dibuka, Demang Segara Gara beserta Istri dan para aparat kademangan dan para kepala desa sudah berdiri berbaris tidak jauh dari kereta kuda.

Seorang lelaki berpakaian warna perak tapi berhias emas sebagai asesoris bergerak keluar dari bilik kereta kuda. Setelah keluar sempurna, maka terlihatlah dengan jelas sosok lelaki separuh baya lebih sepuluh tahun berperut agak gendut. Lelaki berbelangkon putih itu memelihara kumis tebal dengan jenggot yang klimis karena rajin dikerok. Dipinggang belakangnya terselip sebuah keris bergagang warna emas. Dialah Adipati Bawel Semara penguasa Kadipaten Bantar Gepeng.

“Sembah hormat hamba, Gusti Adipati!” ucap Demang Segara Gara sambil turun berlutut dan menjura hormat. Semua jajaran Demang ikut turun berlutut.

“Bangunlah, Calon Mertua!” kata Adipati Bawel Semara kepada Demang Segara Gara.

Terkejut Demang Segara Gara beserta jajarannya mendengar sebutan “Calon Mertua”. Bagaimana bisa Adipati yang berusia jauh lebih tua menyebut Demang Segara Gara sebagai “Calon Mertua”? Jangan dijawab!

Namun, keterkejutan para staf kademangan dan para kepala desa itu cukup dipendam sementara dulu, nanti di belakang mereka akan bahas.

Di saat ramah tamah menyambut pejabat itu berlangsung, pertarungan di atas panggung terus berlangsung. Campani telah menyembunyikan kecantikannya dengan duduk di tribun, tidak jauh dari tribun ujung tempat para pendekar peserta duduk, salah satunya adalah Rugi Sabuntel.

Ingin rasanya Campani berteriak memanggil Rugi Sabuntel, tapi dia masih punya rasa malu di hati. Dia dengan Rugi Sabuntel tidak akrab, baru sekali bertemu saat di gudang jagung dan hari ini pun sekedar saling pandang jauh.

“Di mana Campani, Demang?” tanya Adipati Bawel Semara.

“Tadi ada bersama kami, tapi baru saja pergi karena ada urusan genting, Gusti,” jawab Demang Segara Gara lalu mempersilakan untuk menuju ke tribun.

Drap drap drap!

Baru saja sang adipati berjalan meninggalkan kereta kuda yang diikuti oleh Demang Segara Gara dan jajarannya, tiba-tiba datang mendekat seekor kuda yang berlari cukup kencang di jalan yang ramai oleh para warga.

Kuda itu ditunggangi oleh seorang pemuda tampan, jauh lebih tampan dari Demang Segara Gara, apalagi dari Rugi Sabuntel. Pemuda berpakaian warna putih berhias sulaman benang merah itu berhenti di dekat kereta kuda. Kudanya segera disambut oleh seorang prajurit pengawal kereta kuda Adipati.

Pemuda bernama Samber Raga itu turun dari kudanya dan segera menghampiri Adipati Bawel Semara tanpa menaruh hormat. Melihat kedatangan si pemuda, ekspresi wajah sang adipati berubah tidak nyaman.

“Ayah!” sapa Samber Raga kepada Adipati Bawel Semara.

“Bukankah kau pergi ke kediaman gurumu?” tanya Adipati yang adalah ayah dari Samber Raga.

“Aku tidak akan membiarkan Ayah mencuri kesempatan untuk bertemu lebih banyak dengan Campani dibandingkan aku,” kilah Samber Raga.

“Aku hanya melakukan kunjungan ingin melihat langsung perkembangan pertandingan ini dari waktu ke waktu,” kata Adipati Bawel Semara.

“Ki Demang, apakah syarat Cincin Mata Pelangi sudah kau cabut?” tanya Samber Raga.

“Mohon maaf, Gusti, syarat itu adalah syarat wajib,” jawab Demang Segara Gara santun.

“Aku yakin, jika syarat sulit itu tetap kau pertahankan, Campani bisa jadi perawan tua,” kata Adipati Bawel Semara bernada menggerutu sambil melangkah menuju tribun utama.

Ayah dan anak inilah yang pernah diceritakan oleh Buntet, sais kereta kuda Nyai Demang, bersaing untuk melamar Campani. Meski Demang Segara Gara sudah menetapkan syarat sulit, rupanya Adipati Bawel Semara dan putranya masih bersaing hingga saat ini.

Sementara itu, Campani hanya memantau ayah dan anak itu dari kejauhan. (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar