*Rudi Adalah Cintaku (RAC)*
Bab sebelumnya: Anggukan Sang Bapak
Vina tersenyum-senyum di dalam mobil yang ia kendarai.
Kerinduan dan informasi tentang perubahan baik yang terjadi pada Rudi
membuatnya gembira.
Namun, tiba-tiba senyum sang gadis berubah dengan
kerutan di dahi, saat dia melihat sosok lelaki berkoko dan bersongko Bugis,
sedang berdiri berbincang di pinggir jalan raya. Melihat dari sepeda motor yang
terparkir, Vina bisa langsung menduga bahwa lelaki yang memunggungi arah
kedatangannya adalah Rudi Handrak, yang saat ini tidak bisa dia sebut sebagai
pacarnya.
“Siapa cewek itu? Genit banget,” ucap Vina sinis
dengan tatapan tidak suka.
Senyum bahagia Bulan Adinda yang dilihatnya saat
berbicara kepada Rudi di pinggir jalan, menjadi tusukan di hati yang begitu
menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi adalah wanita itu bukan gadis biasa, tapi
dia punya mobil mewah juga seperti dirinya.
“Huh!” dengus Vina cemburu dengan ekspresi ingin
menangis.
Vina menggigit bibir bawahnya. Dengan kesal dia
memukul klakson mobilnya sebanyak empat kali.
Tit tit tit tit!
Klakson yang tidak biasa itu mengejutkan Rudi dan
Bulan.
Sementara Vina terus memilih melintas bersama tetes
air mata yang juga sudah melintas di pipi. Namun, tangis Vina tidak lama. Dia
segera menyeka air matanya.
“Tidak. Cewek itu pasti bukan siapa-siapa Rudi.
Sayalah pacar Rudi yang sebenarnya. Saya dan Rudi yang sudah lima tahun saling
berbagi. Kita tinggal menikah saja, hanya itu yang saya dan Rudi belum
lakukan,” kata Vina bicara sendiri seperti pemain sinetron, supaya ada yang
mendengarnya, padahal dia hanya seorang diri di dalam mobil itu, tidak ada
penampakan.
Vina benar-benar dilanda rasa cemburu. Sebab, jika
benar gadis yang dilihatnya itu memiliki hubungan khusus dengan Rudi, pasti dia
akan kalah saing untuk saat ini. Bagaimana tidak? Bulan juga memiliki
kecantikan yang “wow” sama seperti dirinya, tapi Bulan lebih natural
dibandingkan dirinya yang rambut saja dicat kuning. Bulan juga memiliki mobil
mewah.
Yang membuat Bulan lebih unggul adalah kini perempuan
itu mungkin lebih dekat dengan Rudi dibandingkan dirinya yang meninggalkan Rudi
selama tiga tahun.
“Rudi mungkin sudah ilfil (hilang feel) sama saya.
Pastinya buah yang baru lebih segar daripada yang lama. Lebih baik saya tunggu
di depan rumah Ustaz Barzanji, dia kan mau ke sana membawa barang belanjaan,”
pikir Vina.
Maka Vina pun memutuskan pergi ke rumah Ustaz Barzanji
yang ada di bawah tebing kaki gunung dan di pinggir jalan raya.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Ustaz
Barzanji yang modelnya rumah gedung sederhana, yang pada bagian belakangnya
adalah tebing batu dari kaki Gunung Rajabasa. Namun, Vina memberhentikan
mobilnya tidak tepat di depan rumah sang ustaz, tetapi sedikit lewat. Dari
posisinya itu, Vina menunggu kedatangan Rudi dengan terus memantau lewat kaca
spion.
Ternyata tidak lama. Sebab, seiring terdengarnya suara
sepeda motor yang mendekat, gambar sosok Rudi yang terlihat masih ganteng
muncul di kaca spion mobil Vina.
Sementara Rudi sendiri, dia melihat keberadaan mobil
biru yang tadi dilihatnya melintas, sedang parkir di depan sana. Memang timbul
pertanyaan di dalam pikiran Rudi, tetapi dia terus berbelok masuk ke depan warung
di rumah Ustaz Barzanji.
“Assalamu ‘alaikum!” salam Rudi Handrak sambil
menstandarkan sepeda motornya.
“Wa ‘alaikum salaam!” jawab seorang gadis
berjilbab yang ada di dalam warung dan Ustaz Barzanji yang sedang duduk di
teras rumah sambil membaca sebuah kitab.
Gadis cantik berjilbab hitam besar berjalan keluar
dari warung dan menghampiri Rudi. Gadis yang cantiknya pakai manis itu
terbilang jauh lebih muda dari Rudi. Memang, ketika Rudi sudah berpacaran
dengan Vina, gadis bernama Kulsum itu masih sekolah SMA. Saat ini dia sedang
kuliah di sebuah universitas Islam yang ada di kecamatan itu juga.
“Terima kasih, Bang. Sampai diantar segala,” ucap
Kulsum sambil tersenyum manis.
“Demi anak Ustaz, apa sih yang enggak,” gurau Rudi
sambil memandang sejenak kepada gadis itu, membuat Kulsum semakin tertawa,
memperlihatkan deretan gigi rapinya yang putih.
Rudi bekerja membuka ikatan-ikatan tali pada sepeda motornya.
Setelahnya, dia mengangkat sendiri kardus yang lumayan berat tersebut ke dalam
warung.
Clek!
Vina segera membuka pintu mobilnya, tetapi ia menahan
diri untuk keluar.
“Aduh! Saya lupa. Masa iya saya ke rumah Ustaz
Barzanji pakai celana pendek begini?” pikir Vina yang baru tersadar.
Ia pun kembali menutup rapat pintu mobilnya.
“Dasar sarjana ekonomi bego!” Vina memaki dirinya
sendiri. Ia pun memilih menunggu sambil mengamati dari dalam mobil.
Vina bisa melihat kebersamaan Rudi dengan Kulsum.
Meski tidak bisa melihat begitu jelas, tapi lagi-lagi itu membuatnya cemburu
dan kesal sendiri.
“Kenapa di mana-mana Rudi selalu ditemui cewek cantik.
Benar kata Aziz, sepertinya semua cewek cantik melirik Rudi,” batin Vina.
“Ustaz Rudi, mari mampir ngopi dulu!” seru Ustaz
Barzanji yang berjenggot lebat.
“Jazakallahu khairan, Ustaz. Mohon maaf, saya
harus langsung pulang. Ada tamu yang menunggu!” sahut Rudi santun seraya
tersenyum kepada guru yang selama dua tahun mendidiknya ilmu Al-Qur’an dan
agama tersebut.
“Oooh. Silakan, Ustaz!” kata Ustaz Barzanji.
Rudi sudah selesai membawakan barang-barang belanjaan
ke dalam warung. Dia segera kembali menaiki sepeda motornya.
“Nanti sore Kulsum bantu mengajar, kan?” tanya Rudi.
“Insyaallah, Bang,” jawab Kulsum seraya
tersenyum.
“Ustaz! Assalamu ‘alaikum!” seru Rudi kepada
Ustaz Barzanji.
“Wa ‘alaikum salam!” jawab Ustaz Barzanji.
Rudi lalu mengeluarkan motornya ke jalan. Namun, Rudi
tidak langsung pergi, tetapi dia justru menjalankan motornya mendekati mobil
biru Vina.
Vina terkejut, tetapi senang. Tanpa dia kehendaki
justru Rudi yang mendatangi mobilnya. Entah, apakah Rudi sudah tahu bahwa itu
mobil Vina atau bukan.
Rudi menghentikan sepeda motornya tepat di sisi posisi
duduk Vina. Alangkah senangnya Vina. Dia segera menurunkan kaca jendela pintu
mobilnya yang berwarna gelap.
“Rudi!” sebut Vina sambil tersenyum semanis mungkin
kepada Rudi, bermaksud memberi kejutan.
“Astaghfirullah!” ucap Rudi cukup kencang. Dia
terkejut ketika mata dan pikirannya menyimpulkan bahwa itu adalah Vina versi
rambut bule.
Keterkejutan Rudi sangat tertangkap oleh retina Vina.
Breem!
Setelah terkejut seperti melihat sosok penampakan di
siang bolong, Rudi langsung tarik gas sepeda motornya dan berputar balik
meninggalkan Vina bersama mobilnya.
Vina yang awalnya tersenyum senang, mendadak
terperangah bingung dengan bibir merah yang menganga. Ia heran dan terkejut
melihat respons Rudi ketika melihatnya. Ujung-ujungnya dia ingin menangis.
Reaksi Rudi itu sangat di luar dari perkiraannya.
“Memangnya muka saya menakutkan?” tanya Vina kepada
dirinya sendiri.
Dengan pikiran yang bingung yang dia sendiri tidak
tahu “kenapa”, Vina segera menyalakan mobilnya untuk mengejar Rudi yang sudah
menghilang, masuk ke dalam permukiman di desa nelayan yang berbatasan langsung
dengan laut.
“Saya tidak terima, saya harus tanya ke Rudi, kenapa
dia malah kabur lihat saya,” ucap Vina kepada dirinya sendiri. “Kalau saya
datangi ke rumahnya, dia pasti enggak bisa kabur.” (RH)
Bersambung ke: Kenangan Mesum, Bab28 Rudi Adalah Cintaku by Rudi Hendrik


0 komentar:
Posting Komentar