*Rudi Adalah Cintaku (RAC)*
Pada hari kematian itu, keluarga besar almarhum berbagi tugas.
Istri Daeng Marakka dan istrinya Herman pergi menjaga
Kamsiah di rumah sakit dan mengurus segala urusan di sana. Herman sebagai putra
tertua dari Daeng Tanri harus selalu berada di dekat jenazah sampai nanti
setelah sang ayah dimakamkan, hingga setelahnya. Sebab, warga nelayan yang baru
pulang dari laut atau pelelangan menjelang siang, akan datang takziah agak
siangan.
Daeng Marakka dan Muttaqin sebagai dua orang tua,
menjadi tempat Herman sering bertanya untuk melakukan sesuatu perihal
pengurusan jenazah dan berbagai hal-hal kecilnya.
Rudi Handrak sedang dikurung di kamarnya. Kondisi
mabuknya sudah tidak terlalu parah setelah dia dipaksa minum air putih yang
banyak sampai muntah-muntah.
Sementara Barada menjadi pelayat cantik yang banyak
dicuri-curi kecantikannya, tetapi tanpa mengurangi kecantikannya. Rencananya,
dia hanya akan sampai selesai pemakaman. Adapun kedua orangtuanya akan tinggal
selama sepekan.
Sebelum zuhur, jenazah dibawa ke Masjid Al-Fatah untuk
disalatkan. Ternyata banyak pelayat yang ikut menyalatkan almarhum, termasuk
ada jemaah wanita.
Sementara itu, ketika orang-orang pergi ke masjid, Aziz
dan Sandro tidak ikut ke masjid, mereka lebih kepada menjaga Rudi di kamarnya.
Tiba-tiba makhluk cantik yang bernama Barada, bukan
bidadari, muncul di pintu kamar.
“Bang Aziz dan Bang Sandro enggak ikut salat jenazah?”
tanya Barada seperti orang yang sudah akrab, padahal baru kali ini dia
berbicara kepada kedua sahabat dari sepupunya itu.
Terkesiap Aziz dan Sandro, karena Barada ternyata tahu
nama mereka, padahal mereka tidak tahu nama si gadis berjilbab kuning itu.
“Eh, anu, apa itu namanya ….”
Seketika Sandro menjawab dengan kebingungan seperti
nelayan tidak punya perahu.
“Kita mau jaga Rudi,” jawab Aziz yang lebih dulu
menemukan alasan yang masuk akal.
“Lebih berat tiap malam jemput Rudi di kafe dari pada
ikut menyalatkan Puang Haji. Apalagi ini untuk terakhir kali dan Puang Haji itu
ayahnya sahabat kalian itu,” lata Barada.
Kata-kata Barada begitu menohok ke dalam hati dan
kepala Aziz dan Sandro. Namun, akal mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh
perempuan berpenampilan kaya itu.
“Tapi Rudi bagaimana?” tanya Aziz, yang tandanya dia
bisa setuju.
“Bawa saja, biar ikut salat walaupun masih mabuk.
Anggap saja bakti terakhir untuk Puang Haji,” kata Barada. “Ayuk!”
“Iya iya iya!” ucap Sandro tiba-tiba semangat. Mungkin
karena yang mengajak cewek cantik, jadi pikirannya merasa tersugesti. Sama
halnya dengan Aziz.
“Heeeh! Perempuan bunglon!” teriak Rudi yang sejak
tadi berjuang untuk memandang dengan benar kepada Barada. Sebutan “perempuan
bunglon” pernah Rudi tujukan kepada Barada ketika pertama bertemu dengannya di
Londo Cafe.
“Jangan sembarangan bilangin perempuan begitu. Dia itu
sepupu kamu, Rudi!” hardik Sandro. “Ayo, saya gendong ke masjid.”
“Mau ngapain di masjid?” tanya Rudi dengan aksen orang
mabuk.
“Kita ikut salati Puang Haji,” jawab Aziz.
“Puaaang!” raung Rudi lagi lalu menangis, tapi dia mau
memeluk leher Sandro yang memberikan punggungnya di pinggir ranjang.
Maka, Aziz dan Sandro pergi membawa Rudi menuju
masjid. Mereka bisa merasa bangga karena Barada berjalan bersama mereka.
Seolah-olah mereka lebih beruntung daripada lelaki lain.
“Siapa namata?” tanya Aziz memberanikan hati dengan
logat Bugis.
“Barada, Bang,” jawab Barada seraya tersenyum manis
lagi ramah.
“Suaminya tidak ikutkah?” tanya Aziz lagi. Pertanyaan
diplomatis yang sebenarnya ingin tahu apakah Barada sudah punya suami atau
belum.
“Hahaha!” tawa Barada agak keras mendengar pertanyaan
itu karena dia paham maksudnya.
Aziz dan Sandro agak terkejut mendengar Barada yang
tidak sungkan tertawa kencang.
“Suamiku sedang menunggu di masa depan,” kata Barada
seraya tersenyum, karena dia melihat Aziz dan Sandro menunjukkan wajah tidak paham.
Akhirnya mereka tiba di masjid di saat Muttaqin sedang
menyampaikan permohonan maaf kepada jemaah, jika almarhum pada semasa hidupnya
memiliki kesalahan yang disengaja atau tidak, terutama tentang perkara utang
piutang. Segala urusan dunia almarhum yang masih butuh dituntaskan akan
dilimpahkan kepada ahli waris dan keluarga.
Aziz dan Sandro buru-buru berwudu. Mereka bahkan
mewudukan Rudi, sehingga terlihat lucu. Setelah itu, mereka bergabung di saf
belakang lelaki.
Rudi yang sudah mulai sadar dengan situasi, berdiri
dengan limbung. Meski demikian, dia tidak menceracau sehingga tidak menimbulkan
kegaduhan.
Namun, dirinya menjadi pusat perhatian jemaah salat
ibu-ibu yang ada di belakang.
Muttaqin sebagai adik almarhum, menjadi imam.
“Allahuakbar!” takbir Rudi cukup kencang dengan aksen
mabuk yang begitu kental, ketika imam takbiratul ihram.
“Allahuakbar!” Imam bertakbir untuk yang kedua.
Namun, Rudi justru melakukan gerakan ruku dan
kepalanya menabrak bokong jemaah yang di depannya. Saf salat jenazah yang tidak
pakai sujud membuat jarak saf saling berdekatan dari depan hingga belakang.
Di saat jemaah yang ditanduk terkejut di dalam hati,
tapi tetap lanjut mengikuti salat, Rudi justru terjungkal ke belakang.
Namun, dengan gerakan yang gelagapan, Rudi segera
bangun berdiri, tetapi posisi berdirinya lebih mundur, keluar dari formasi saf.
“Allahuakbar!”
Ketika imam kembali takbir, Rudi langsung turun sujud,
padahal imam dan jemaah tidak sujud.
“Allahuakbar!”
Suara takbir itu membuat Rudi bangun dari sujudnya dan
duduk.
“Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuhu!”
salam Muttaqin selaku imam dalam posisi tetap berdiri.
“Wa ‘alaikum salaaam, Puaaang!” jawab Rudi dengan
kencang.
Maka hebohlah para jemaah lelaki mendengar salam
mereka ada yang jawab. Setelah salam semua, mereka langsung menengok ke
belakang dan suasana berubah cukup gaduh.
“Hahaha!”
Jemaah wanita yang ada di belakang jadi tertawa
rendah. Sebab, sejak tadi mereka menahan tawa di dalam salat karena melihat
tingkah salat Rudi dari belakang. Barada pun tidak bisa menahan tawanya.
“Kenapa Rudi dibawa ke sini, Ziz?!” bentak Haji
Suharja kepada Aziz dan Sandro, meski hanya Aziz yang disebut.
“Tidak apa-apa, Ji!” sahut Muttaqin cepat menengahi,
sebelum Aziz dan Sandro berdalih.
“Alhamdulillahi hamdan ….”
Ustaz Barzanji segera memimpin doa agar jemaah tidak
mengurusi Rudi.
Di saat sedang berdoa itu, Aziz dan Sandro memilih
kabur dengan menggendong Rudi. Hal itu membuat sebagian jemaah wanita menahan
tawa karena seperti adegan komedi.
Setelah disalatkan, keranda yang dipikul oleh para
lelaki dari keluarga almarhum dibawa dengan langkah cepat ke pemakaman. Posisi
pemakaman ada di atas gunung, tapi tidak terlalu tinggi, masih termasuk dalam
kawasan permukiman.
Sandro dengan setia menggendong Rudi, demi agar
sahabatnya itu bisa mengantar ayahnya ke tempat persemayaman terakhirnya.
Ketika Sandro lelah, giliran Aziz yang menggendong dengan rute jalan yang
menanjak.
Namun, Aziz tidak lama. Dia pun kelelahan.
“Biar saya bantu, Ziz,” kata seorang pemuda berbadan
atletis berbaju T-Shirt.
Pemuda itu berkulit sawo matang. Dia bernama
Abdussalam, putra Ustaz Barzanji yang merupakan seorang guru silat.
Abdussalam saat itu berjalan bersama dua wanita
berjilbab. Yang tuaan adalah ibunya yang bernama Hamidah. Sedangkan wanita
cantik berjilbab yang masih muda adalah adiknya yang bernama Kulsum, gadis
cantik yang banyak dilirik dan diminati pemuda, tetapi tidak ada yang berani menembaknya
karena ketokohan ayahnya yang seorang ustaz.
“Iya, iya, terima kasih, Sal,” kata Aziz.
Maka, Rudi dialihkan ke punggung Abdussalam. Pemuda
pesilat itu lalu menggendong Rudi sampai ke pemakaman.
Dalam gendongan itu, Rudi sesekali berceloteh tidak
karuan, yang terkadang justru membuat mereka yang berjalan bersamanya jadi
tertawa. Kulsum termasuk yang suka menertawakan tingkah dan ucapan Rudi, karena
berimbas kepada kakaknya yang terkena getahnya.
Seperti ketika Rudi memperagakan naik kuda sambil
bernyanyi “kudaku lari kencang gagah berani”. Itu bahkan sambil memukul-mukul
kepala Abdussalam, sama seperti ketika Rudi memukul-mukul kepala ayahnya pada
suatu malam. (RH)


0 komentar:
Posting Komentar