PKK 21: Rugi Sabuntel Bertanding by Rudi Hendrik

Ilustrasi gambar: Gemini

*Pendekar Keris Kembar (PKK)*

Hari pertama Duel Pendekar Butogilo berlangsung begitu semarak dan menggembirakan bagi penonton.

Pagi itu akan menghabiskan putaran babak pertama yang akan menyuguhkan enam belas pertarungan. Putaran pertama juga akan menghasilkan enam belas pendekar yang bertahan dan enam belas pendekar yang gugur, baik dia gugur tanpa nyawa ataupun gugur hanya sebatas terluka. Dalam Duel ini, bertarung sampai mati tidak diharamkan, karena tidak ada hukum yang melarangnya.

Sebanyak enam belas pendekar menunjukkan kehebatannya sebagai seorang pendekar dengan membuat enam belas lainnya menjadi pecundang.

Pertandingan pertama telah melihat kehebatan pendatang baru dalam Duel Pendekar Butogilo, yaitu pendekar wanita cantik bernama Pengantin Tanpa Suami. Dengan kemenangannya dari Sepak Kilat membuatnya langsung menjadi idola baru bagi penonton kaum batangan.

Satu per satu pendekar peserta dipanggil naik ke atas panggung arena pertarungan sesuai nomor urutnya.

Pendekar Pedang Bayangan, Satria Tinju Tanpa Aral, Arjuna Penari, Ki Kumis, Akung Bakpo, dan Pendekar Macan Langit adalah beberapa pendekar yang bisa menang dengan mudah pada putaran pertama.

Lalu bagaimana dengan Rugi Sabuntel yang berjuluk Pendekar Gendut Budiman?

“Kita panggil nomor urut dua puluh lima, pendekar ternama tapi pendatang baru di Duel Pendekar Butogilo ini. Rugi Sabuntelll!” teriak juru panggung Takar Talas dengan memainkan lidahnya ketika menyebut nama Rugi Sabuntel.

“Yeee!” sorak para penonton asal Desa Buangsetan plus pengagum Rugi Sabuntel dari desa lain.

“Pendekar Gendut Budimaaannn!” teriak Takar Talas lagi.

“Hahaha!” tawa orang banyak. Kata “Gendut” yang membuat mereka tertawa. Ada yang tertawanya karena mengejek, tapi para pendukung Rugi tertawa karena merasa lucu.

Mendengar nama Rugi Sabuntel disebut, Nyai Demang dan putrinya Campani segera menegakkan punggung dan wajahnya. Keduanya fokus memandang ke arah posisi duduk Rugi Sabuntel. Badan Rugi yang besar, membuat ibu dan anak itu mudah mengenalinya. Sebenarnya Demang Segara Gara juga menaruh perhatian khusus kepada Rugi Sabuntel, tapi perlu pembuktian di atas arena.

Ageng yang berada di rumah burung, segera keluar dan pergi ke belakang para penonton yang berdiri di seputar panggung. Dia sangat ingin melihat Rugi bertarung dan tentunya menang.

Karena mendengar ada suara tawa yang terkesan mengejek kegendutannya, Rugi Sabuntel berkesimpulan perlu unjuk kesaktian dulu sebagai pembuka.

Rugi Sabuntel langsung melompat jauh dari posisinya di tribun. Dia melakukan transit pijakan pada bahu seorang penonton, tapi tidak membuat penonton itu terguncang, hanya terkejut. Dari tolakan di bahu itu, Rugi Sabuntel berlari di udara lalu mendarat di atas salah satu tiang kayu arena tanpa berpindah kaki lagi.

“Wow!” pekik para penonton awam terpukau saat melihat pendaratan yang begitu halus dan ringan. Bobot berat Rugi tidak sedikit pun membuatnya mendarat dengan liar.

Jika orang awam saja bisa tahu bahwa itu pendaratan yang berkelas, maka para pendekar pun sudah pasti bisa menilainya, memberi bukti kepada para pendekar yang meremehkan Rugi.

“Rugi! Rugi! Rugi!” teriak para pendukung mengelu-elukan.

Rugi Sabuntel tersenyum lebar sambil memandang ke sekitar. Dia lalu menjura hormat kepada Demang Segara Gara, yang otomatis memandang kepada Nyai Demang dan Campani, yang memberi senyumannya masing-masing, senyuman yang begitu manis.

Demang Segara Gara tidak memberi senyum, hanya anggukan sebagai balasan atas penghormatan Rugi.

Rugi Sabuntel masih bisa melihat keberadaan wajah cantik Ageng. Ia melambaikan tangan menyapa kepada Ageng yang orang lain tidak tahu kepada siapa Rugi melambai.

Bahagialah hati Ageng yang terwujud dalam senyum tipis. Dia tidak mau senyum banyak, khawatir lambaian itu bukan untuknya, karena ada sekumpulan gadis desa yang ikut menonton di sisi belakang pula. Bisa jadi lambaian Rugi untuk mereka.

Rugi Sabuntel juga bisa melihat keberadaan Bendong di tribun penonton. Dia seorang diri tanpa pendamping.

Sementara Blikik dan Citayam mengambil posisi paling depan dekat di pinggir arena. Blikik harus merangkul selingkuhannya dengan satu tangan agar tidak mendapat colekan iseng dari penonton lelaki lain yang berdesakan.

Namun, ada satu wajah yang belum Rugi lihat keberadaannya di tempat itu, yaitu wajah bergincu ungu milik Nyi Unyu.

“Dan kita panggil pendekar nomor dua puluh enam, yang akan menjadi lawan seimbang bagi Rugi Sabuntel, yaitu Gagah Bagagaaah!” teriak Takar Talas lagi.

“Yeee!” teriak pendukung pendekar tersebut.

Maka di tribun ujung bangkit berdiri seorang lelaki tinggi besar dan berotot keras. Karena begitu bangganya memiliki raga yang perkasa, pendekar yang bernama Gagah Bagagah itu tidak mau berbaju dan celana pun pendek seperti celana super hero warna hijau.

Rupanya, aksi pamer Rugi Sabuntel membakar perasaan Gagah Bagagah, seperti melihat istri sedang selingkuh di samping mata. Karenanya, dia pun ingin unjuk kesaktian yang serupa.

Brak!

Papan tribun yang dipijak Gagah Bagagah pecah ketika dia bertolak mengudara. Meniru Rugi, Gagah Bagagah juga melakukan transit pijakan ke satu bahu penonton.

Krak!

“Aaak!” jerit penonton itu setelah terdengar tulang bahunya berbunyi nyaring.

Sementara itu, tubuh besar Gagah Bagagah berlari di udara dan memilih mendarat di atas satu tiang kayu pula.

Dak! Krak!

“Hahaha!” tawa terbahak semua orang saat pendaratan kaki sang pendekar justru mematahkan tiang kayu karena tidak kuasa menahan bobotnya.

“Aaa...!” teriak Gagah Bagagah sambil buru-buru bangun dari jatuhnya di antara tiang-tiang kayu setinggi pinggang.

Brak! Brak!

Gagah Bagagah menonjok dua tiang kayu hingga hancur demi menutupi rasa malunya.

Gagah Bagagah lalu melompat naik ke atas panggung papan, dia ogah main di arena tiang kayu. Dia masih beruntung, karena jatuhnya bukan di saat pertarungan berlangsung.

“Rugi Sabuntel siap?” tanya Takar Talas sambil menunjuk Rugi Sabuntel.

“Siap!” sahut Rugi Sabuntel.

“Gagah Bagagah siap?” tanya Takar Talas sambil menunjuk orang yang lebih besar dari Rugi itu.

“Hemm!” gumam Gagah Bagagah sambil mengangguk, tapi tatapannya tajam kepada Rugi.

“Pertarungaaan, mulai!” teriak Takar Talas sambil melesat mundur meninggalkan panggung seperti sebelum-sebelumnya.

“Yeee!” sorak banyak penonton lagi.

Namun, pertarungan antara kedua pendekar besar itu tidak langsung terjadi.

“Ayo, Rugi! Tunjukkan kelelakianmu!” teriak Blikik dari luar arena.

Rugi Sabuntel tidak merespons teriakan sahabatnya. Dia memberi panggilan jari kepada Gagah Bagagah agar datang ke arena bertiang.

Gagah Bagagah geleng kepala, lalu balas memanggil Rugi agar datang ke arena berlantai papan.

“Hahaha!” tawa para penonton melihat main kode-kodean itu.

“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.

Dia lalu mengalah dengan melompat maju ke arena berlantai.

Jleg!

Ketika Rugi Sabuntel mendarat satu tombak di depan lawannya, satu tinju besar langsung datang melesat menyambut. Bukan hanya tinju itu besar, tapi juga cepat dan bertenaga dahsyat. Jangankan kayu, batu pun pasti akan hancur jika terkena.

Puk! Wess! Plak!

“Yeee!”

Rugi Sabuntel menyambut tinju itu dengan menahannya memakai telapak tangan kanan yang terbuka. Energi tinju Gagah Bagagah yang dahsyat masuk mengalir cepat ke lengan kanan Rugi, lalu ke bahu dan terus ke tangan kiri. Itulah ilmu Lempar Daya.

Proses perpindahan energi yang diserap itu sangat cepat yang kemudian membuat tangan kiri Rugi Sabuntel bergerak terlalu cepat menampar wajah Gagah Bagagah.

Penonton langsung bersorak girang.

Akibat tamparan yang bertenaga dalam sekuat tonjokannya sendiri, membuat Gagah Bagagah terhuyung ke samping hilang keseimbangan. Jika dia berbadan biasa, mungkin bisa langsung terbanting ke lantai.

Tak! Bdak!

Rugi Sabuntel tinggal menyepak satu kaki Gagah Bagagah yang langsung membuatnya terbanting tengkurap.

“Aaak!” jerit Gagah Bagagah ketika Rugi Sabuntel berdiri menginjak tepat di telapak tangan kanannya.

Dak! Krek!

“Huaaak! Aku menyerah! Aku menyerah!” teriak Gagah Bagagah lagi, setelah satu tangannya hendak menonjok kaki Rugi, tapi tonjokan itu justru ditangkis dengan sepakan lembut lalu diinjak pula.

Namun, para pendekar curiga bahwa injakan Rugi Sabuntel terhadap kedua tangan besar Gagah Bagagah bukan injakan biasa yang hanya mengandalkan berat badan, sehingga dengan cepatnya Gagah yang kuat menyerah.

Rugi Sabuntel lalu melepas kedua tangan Gagah Bagagah yang cepat bangun duduk sambil memeluki kedua tangannya. Kedua tangan itu bengkak memerah dan sementara tidak bisa digunakan untuk memegang apa saja. Apalagi tadi ada suara tulang yang berbunyi renyah.

“Hidup Pendekar Gendut!” teriak Blikik.

“Genduuut!” teriak para pendukung Rugi yang terdengar lebih banyak dari sebelumnya.

“Hidup Pendekar Gendut!” teriak Blikik lagi.

“Genduuut!” teriak para penonton.

“Hidup Pendekar Gendut!”

“Genduuut!”

“Hahaha!” tawa banyak penonton atas kemenangan Rugi.

Rugi Sabuntel lalu melambai ke segala arah. Ia juga menepuk bahu Gagah Bagagah sebanyak dua kali sebagai bentuk persahabatan sesama pendekar. Gagah Bagagah hanya mengangguk kecewa mengakui kekalahannya.

Segulung senyum mekar di wajah Nyai Demang, Campani dan Ageng. Mereka begitu bangga melihat kemenangan Rugi Sabuntel yang cepat dan mudah. Rasa suka mereka semakin besar. Entah, apakah itu suka karena cinta atau sebatas suka karena Rugi menggemaskan? (RH)

Share on Google Plus

About Rudi Hendrik

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar