*Pendekar Keris Kembar (PKK)*
Hari pertama Duel Pendekar Butogilo berlangsung begitu semarak dan menggembirakan bagi penonton.
Pagi itu akan menghabiskan putaran babak pertama yang
akan menyuguhkan enam belas pertarungan. Putaran pertama juga akan menghasilkan
enam belas pendekar yang bertahan dan enam belas pendekar yang gugur, baik dia
gugur tanpa nyawa ataupun gugur hanya sebatas terluka. Dalam Duel ini,
bertarung sampai mati tidak diharamkan, karena tidak ada hukum yang
melarangnya.
Sebanyak enam belas pendekar menunjukkan kehebatannya
sebagai seorang pendekar dengan membuat enam belas lainnya menjadi pecundang.
Pertandingan pertama telah melihat kehebatan pendatang
baru dalam Duel Pendekar Butogilo, yaitu pendekar wanita cantik bernama
Pengantin Tanpa Suami. Dengan kemenangannya dari Sepak Kilat membuatnya
langsung menjadi idola baru bagi penonton kaum batangan.
Satu per satu pendekar peserta dipanggil naik ke atas
panggung arena pertarungan sesuai nomor urutnya.
Pendekar Pedang Bayangan, Satria Tinju Tanpa Aral,
Arjuna Penari, Ki Kumis, Akung Bakpo, dan Pendekar Macan Langit adalah beberapa
pendekar yang bisa menang dengan mudah pada putaran pertama.
Lalu bagaimana dengan Rugi Sabuntel yang berjuluk
Pendekar Gendut Budiman?
“Kita panggil nomor urut dua puluh lima, pendekar
ternama tapi pendatang baru di Duel Pendekar Butogilo ini. Rugi Sabuntelll!”
teriak juru panggung Takar Talas dengan memainkan lidahnya ketika menyebut nama
Rugi Sabuntel.
“Yeee!” sorak para penonton asal Desa Buangsetan plus
pengagum Rugi Sabuntel dari desa lain.
“Pendekar Gendut Budimaaannn!” teriak Takar Talas
lagi.
“Hahaha!” tawa orang banyak. Kata “Gendut” yang
membuat mereka tertawa. Ada yang tertawanya karena mengejek, tapi para
pendukung Rugi tertawa karena merasa lucu.
Mendengar nama Rugi Sabuntel disebut, Nyai Demang dan
putrinya Campani segera menegakkan punggung dan wajahnya. Keduanya fokus
memandang ke arah posisi duduk Rugi Sabuntel. Badan Rugi yang besar, membuat
ibu dan anak itu mudah mengenalinya. Sebenarnya Demang Segara Gara juga menaruh
perhatian khusus kepada Rugi Sabuntel, tapi perlu pembuktian di atas arena.
Ageng yang berada di rumah burung, segera keluar dan
pergi ke belakang para penonton yang berdiri di seputar panggung. Dia sangat
ingin melihat Rugi bertarung dan tentunya menang.
Karena mendengar ada suara tawa yang terkesan mengejek
kegendutannya, Rugi Sabuntel berkesimpulan perlu unjuk kesaktian dulu sebagai
pembuka.
Rugi Sabuntel langsung melompat jauh dari posisinya di
tribun. Dia melakukan transit pijakan pada bahu seorang penonton, tapi tidak
membuat penonton itu terguncang, hanya terkejut. Dari tolakan di bahu itu, Rugi
Sabuntel berlari di udara lalu mendarat di atas salah satu tiang kayu arena tanpa
berpindah kaki lagi.
“Wow!” pekik para penonton awam terpukau saat melihat
pendaratan yang begitu halus dan ringan. Bobot berat Rugi tidak sedikit pun
membuatnya mendarat dengan liar.
Jika orang awam saja bisa tahu bahwa itu pendaratan
yang berkelas, maka para pendekar pun sudah pasti bisa menilainya, memberi
bukti kepada para pendekar yang meremehkan Rugi.
“Rugi! Rugi! Rugi!” teriak para pendukung
mengelu-elukan.
Rugi Sabuntel tersenyum lebar sambil memandang ke
sekitar. Dia lalu menjura hormat kepada Demang Segara Gara, yang otomatis
memandang kepada Nyai Demang dan Campani, yang memberi senyumannya
masing-masing, senyuman yang begitu manis.
Demang Segara Gara tidak memberi senyum, hanya
anggukan sebagai balasan atas penghormatan Rugi.
Rugi Sabuntel masih bisa melihat keberadaan wajah
cantik Ageng. Ia melambaikan tangan menyapa kepada Ageng yang orang lain tidak
tahu kepada siapa Rugi melambai.
Bahagialah hati Ageng yang terwujud dalam senyum
tipis. Dia tidak mau senyum banyak, khawatir lambaian itu bukan untuknya,
karena ada sekumpulan gadis desa yang ikut menonton di sisi belakang pula. Bisa
jadi lambaian Rugi untuk mereka.
Rugi Sabuntel juga bisa melihat keberadaan Bendong di
tribun penonton. Dia seorang diri tanpa pendamping.
Sementara Blikik dan Citayam mengambil posisi paling
depan dekat di pinggir arena. Blikik harus merangkul selingkuhannya dengan satu
tangan agar tidak mendapat colekan iseng dari penonton lelaki lain yang
berdesakan.
Namun, ada satu wajah yang belum Rugi lihat
keberadaannya di tempat itu, yaitu wajah bergincu ungu milik Nyi Unyu.
“Dan kita panggil pendekar nomor dua puluh enam, yang
akan menjadi lawan seimbang bagi Rugi Sabuntel, yaitu Gagah Bagagaaah!” teriak
Takar Talas lagi.
“Yeee!” teriak pendukung pendekar tersebut.
Maka di tribun ujung bangkit berdiri seorang lelaki
tinggi besar dan berotot keras. Karena begitu bangganya memiliki raga yang
perkasa, pendekar yang bernama Gagah Bagagah itu tidak mau berbaju dan celana
pun pendek seperti celana super hero warna hijau.
Rupanya, aksi pamer Rugi Sabuntel membakar perasaan
Gagah Bagagah, seperti melihat istri sedang selingkuh di samping mata.
Karenanya, dia pun ingin unjuk kesaktian yang serupa.
Brak!
Papan tribun yang dipijak Gagah Bagagah pecah ketika
dia bertolak mengudara. Meniru Rugi, Gagah Bagagah juga melakukan transit
pijakan ke satu bahu penonton.
Krak!
“Aaak!” jerit penonton itu setelah terdengar tulang
bahunya berbunyi nyaring.
Sementara itu, tubuh besar Gagah Bagagah berlari di
udara dan memilih mendarat di atas satu tiang kayu pula.
Dak! Krak!
“Hahaha!” tawa terbahak semua orang saat pendaratan
kaki sang pendekar justru mematahkan tiang kayu karena tidak kuasa menahan
bobotnya.
“Aaa...!” teriak Gagah Bagagah sambil buru-buru bangun
dari jatuhnya di antara tiang-tiang kayu setinggi pinggang.
Brak! Brak!
Gagah Bagagah menonjok dua tiang kayu hingga hancur
demi menutupi rasa malunya.
Gagah Bagagah lalu melompat naik ke atas panggung
papan, dia ogah main di arena tiang kayu. Dia masih beruntung, karena jatuhnya
bukan di saat pertarungan berlangsung.
“Rugi Sabuntel siap?” tanya Takar Talas sambil
menunjuk Rugi Sabuntel.
“Siap!” sahut Rugi Sabuntel.
“Gagah Bagagah siap?” tanya Takar Talas sambil
menunjuk orang yang lebih besar dari Rugi itu.
“Hemm!” gumam Gagah Bagagah sambil mengangguk, tapi
tatapannya tajam kepada Rugi.
“Pertarungaaan, mulai!” teriak Takar Talas sambil
melesat mundur meninggalkan panggung seperti sebelum-sebelumnya.
“Yeee!” sorak banyak penonton lagi.
Namun, pertarungan antara kedua pendekar besar itu
tidak langsung terjadi.
“Ayo, Rugi! Tunjukkan kelelakianmu!” teriak Blikik
dari luar arena.
Rugi Sabuntel tidak merespons teriakan sahabatnya. Dia
memberi panggilan jari kepada Gagah Bagagah agar datang ke arena bertiang.
Gagah Bagagah geleng kepala, lalu balas memanggil Rugi
agar datang ke arena berlantai papan.
“Hahaha!” tawa para penonton melihat main kode-kodean
itu.
“Hahaha!” tawa Rugi Sabuntel.
Dia lalu mengalah dengan melompat maju ke arena
berlantai.
Jleg!
Ketika Rugi Sabuntel mendarat satu tombak di depan
lawannya, satu tinju besar langsung datang melesat menyambut. Bukan hanya tinju
itu besar, tapi juga cepat dan bertenaga dahsyat. Jangankan kayu, batu pun
pasti akan hancur jika terkena.
Puk! Wess! Plak!
“Yeee!”
Rugi Sabuntel menyambut tinju itu dengan menahannya memakai
telapak tangan kanan yang terbuka. Energi tinju Gagah Bagagah yang dahsyat masuk
mengalir cepat ke lengan kanan Rugi, lalu ke bahu dan terus ke tangan kiri.
Itulah ilmu Lempar Daya.
Proses perpindahan energi yang diserap itu sangat
cepat yang kemudian membuat tangan kiri Rugi Sabuntel bergerak terlalu cepat
menampar wajah Gagah Bagagah.
Penonton langsung bersorak girang.
Akibat tamparan yang bertenaga dalam sekuat
tonjokannya sendiri, membuat Gagah Bagagah terhuyung ke samping hilang
keseimbangan. Jika dia berbadan biasa, mungkin bisa langsung terbanting ke
lantai.
Tak! Bdak!
Rugi Sabuntel tinggal menyepak satu kaki Gagah Bagagah
yang langsung membuatnya terbanting tengkurap.
“Aaak!” jerit Gagah Bagagah ketika Rugi Sabuntel
berdiri menginjak tepat di telapak tangan kanannya.
Dak! Krek!
“Huaaak! Aku menyerah! Aku menyerah!” teriak Gagah
Bagagah lagi, setelah satu tangannya hendak menonjok kaki Rugi, tapi tonjokan
itu justru ditangkis dengan sepakan lembut lalu diinjak pula.
Namun, para pendekar curiga bahwa injakan Rugi
Sabuntel terhadap kedua tangan besar Gagah Bagagah bukan injakan biasa yang
hanya mengandalkan berat badan, sehingga dengan cepatnya Gagah yang kuat
menyerah.
Rugi Sabuntel lalu melepas kedua tangan Gagah Bagagah
yang cepat bangun duduk sambil memeluki kedua tangannya. Kedua tangan itu
bengkak memerah dan sementara tidak bisa digunakan untuk memegang apa saja.
Apalagi tadi ada suara tulang yang berbunyi renyah.
“Hidup Pendekar Gendut!” teriak Blikik.
“Genduuut!” teriak para pendukung Rugi yang terdengar
lebih banyak dari sebelumnya.
“Hidup Pendekar Gendut!” teriak Blikik lagi.
“Genduuut!” teriak para penonton.
“Hidup Pendekar Gendut!”
“Genduuut!”
“Hahaha!” tawa banyak penonton atas kemenangan Rugi.
Rugi Sabuntel lalu melambai ke segala arah. Ia juga
menepuk bahu Gagah Bagagah sebanyak dua kali sebagai bentuk persahabatan sesama
pendekar. Gagah Bagagah hanya mengangguk kecewa mengakui kekalahannya.
Segulung senyum mekar di wajah Nyai Demang, Campani
dan Ageng. Mereka begitu bangga melihat kemenangan Rugi Sabuntel yang cepat dan
mudah. Rasa suka mereka semakin besar. Entah, apakah itu suka karena cinta atau
sebatas suka karena Rugi menggemaskan? (RH)


0 komentar:
Posting Komentar